Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Selain mengoptimalkan fungsi intermediasinya, perbankan nasional juga mengandalkan bisnis dana kelolaan alias wealth management untuk menggenjot kinerja di paruh pertama tahun ini.
Kita lihat di Bank Central Asia (BCA). Hingga Juni 2026, total dana kelolaan atau asset under management (AUM) bank tercatat sebanyak Rp 339 triliun atau tumbuh 16% secara tahunan (YoY).
EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F Haryn menyebut, produk reksa dana berhasil mencetak pertumbuhan tertinggi, yakni lebih dari 50% yoy.
“Khususnya pada produk reksadana Pasar Uang dan reksadana Pendapatan Tetap,” sebut Hera kepada Kontan, Kamis (6/8/2026).
Baca Juga: Ini Kata AFPI Soal TWP90 Fintech Lending Membaik Jadi 4,26% per Juni 2026
Hera mengaku, pertumbuhan AUM ini memberikan kontribusi terhadap fee based income BCA, hanya saja ia tak membeberkan rincian nilainya. Sebagai gambaran, pendapatan fee dan komisi BCA dalam periode ini tumbuh 11,2% yoy menjadi Rp 11 triliun.
Di luar itu, Hera bilang pihaknya senantiasa mengutamakan kebutuhan nasabah, serta mendukung pemerintah meningkatkan inklusi keuangan melalui literasi dan edukasi finansial kepada nasabah serta layanan investasi di myBCA.
Untuk mendorong kinerja bisnis wealth management, BCA menawarkan berbagai produk yang dapat dijadikan opsi investasi dalam menyusun portofolio agar sesuai dengan kebutuhan nasabah yang terjangkau.
Secara khusus, ia bilang layanan online merupakan salah satu upaya BCA berinovasi memberikan kemudahan solusi perbankan serta investasi. Ke depannya, BCA optimistis lini bisnis wealth management bakal terus mencatat pertumbuhan yang positif.
Tak ketinggalan Bank Danamon mencatatkan pertumbuhan AUM sebesar 6% dibanding posisi akhir tahun lalu (year-to-date/ytd) hingga Juli 2026.
Consumer Funding & Wealth Business Head Bank Danamon Ivan Jaya menyebut, produk obligasi menjadi penyokong utama kinerja ini. Hanya saja, ia mengaku terjadi penurunan AUM pada reksadana ekuitas sebesar 3,4% ytd.
Menurut Ivan, capaian sejauh ini menggambarkan minat nasabah yang tinggi terhadap instrumen pendapatan tetap di tengah kondisi pasar yang masih dipengaruhi ketidakpastian global dan volatilitas pasar keuangan.
Di sisi lain, minat yang tinggi pada produk obligasi terdorong oleh penerbitan seri-seri obligasi baru, yang mendorong aktivitas reinvestasi dana jatuh tempo oleh nasabah.
Baca Juga: Ini Kata AFPI Soal TWP90 Fintech Lending Membaik Jadi 4,26% per Juni 2026
“Seiring daya tarik imbal hasil yang kompetitif dan karakteristik investasi yang relatif stabil untuk kebutuhan diversifikasi portofolio,” jelas Ivan.
Secara umum Ivan juga menyebut peningkatan AUM memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan fee based income, seiring meningkatnya aktivitas investasi dan transaksi nasabah pada produk-produk investasi.
Bank Danamon membidik pertumbuhan AUM dan fee based income dari bisnis wealth management sebesar 10% untuk tahun ini.
Target itu didasari oleh optimisme atas prospek bisnis wealth management di Indonesia, karena toh berbagai dinamika yang ada, termasuk suku bunga, volatilitas pasar keuangan, dan geopolitik global, Ivan bilang kebutuhan nasabah akan solusi investasi terdiversifikasi dan layanan advisory yang personal terus meningkat.
Untuk menangkap peluang tersebut, pihaknya menjalankan tiga strategi utama.Pertama meningkatkan penetrasi ke nasabah eksisting, memperkuat layanan sembari meningkatkan engagement serta loyalitas nasabah kaya, serta mendorong inovasi produk.
Sebagai bank digital, Bank Jago mendorong bisnis wealth management melalui kemitraan dengan Bibit dan Stockbit. Hingga Juli 2026, jumlah pengguna gabungan Bank Jago, Bibit, dan Stockbit mencapat 3,6 juta, melesat dari posisi 3 juta di akhir tahun lalu.
Baca Juga: Laba Asuransi Jiwa Konvensional Melonjak 75,36% per Juni 2026
Sekadar informasi, hingga Juni 2026 total pengguna Bank Jago telah mencapai 14,7 juta. Artinya, kisaran hampir 25% dari total pengguna Bank Jago telah sekaligus menjadi nasabah wealth management melalui pemanfaatan layanan Bibit dan Stockbit.
Namun, berbeda dengan bank konvensional umum, segmen wealth management di Bank Jago memang tak menghasilkan fee based income secara langsung ke perbankan. Alih-alih, sinergi dengan platform keuangan lain memperluas penetrasi nasabah dan pengguna bank.
“Kami melihat Bank Jago itu sebagai enabler yang memfasilitasi nasabah dalam berinvestasi,” jelas Head of Wealth Management Bank Jago Nyoman Sukmawati.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
