kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.049.000   4.000   0,13%
  • USD/IDR 16.943   24,00   0,14%
  • IDX 7.711   133,47   1,76%
  • KOMPAS100 1.077   18,47   1,75%
  • LQ45 788   15,37   1,99%
  • ISSI 273   5,07   1,89%
  • IDX30 419   8,93   2,18%
  • IDXHIDIV20 515   13,10   2,61%
  • IDX80 121   2,06   1,73%
  • IDXV30 139   2,88   2,11%
  • IDXQ30 135   3,02   2,28%

Saham Perbankan Ikut Tertekan Geopolitik


Kamis, 05 Maret 2026 / 18:26 WIB
Saham Perbankan Ikut Tertekan Geopolitik


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memanasnya situasi geopolitik global turut menjegal pergerakan saham perbankan dalam negeri. Pasalnya, investor asing memilih hengkang dari pasar emerging market.

Pada akhir perdagangan Kamis (5/3/2026), saham perbankan nampak kompak menguat secara harian. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menorehkan penguatan yang paling baik dari jajaran big banks, yakni naik 3,27% menjadi Rp 7.100. 

Menyusul, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik 3,13% ke Rp 4.280, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menguat 2,91% menjadi Rp 5.125, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tumbuh 1,63% menjadi Rp 3.750. 

Kendati begitu, posisi saat ini masih mencerminkan koreksi secara mingguan. Yang mana, BBRI terkoreksi 5,06%, BBNI melemah 4,04%, BMRI turun 3,76%, dan BBCA turun 2,74%. 

Baca Juga: Saham Big Banks Anjlok Serempak Hari Ini (4/3), BNI Turun Paling Dalam

Tak heran, arus dana asing yang hengkang dari saham perbankan memang masih deras. Dalam sepekan, BBCA mencatatkan net sell Rp 1,2 triliun, BBNI sebesar Rp 563,37 miliar, BBRI sebesar Rp 384,02 miliar, dan BMRI sebesar Rp 48,14 miliar. 

Analis RHB Sekuritas, Andrey Wijaya menilai catatan net sell asing belakangan ini lebih dipengaruhi oleh faktor global, bukan fundamental bank domestik. Ketegangan geopolitik yang meningkat memunculkan kekhawatiran inflasi global. 

Selain itu, ketidakpastian arah suku bunga di Amerika Serikat (AS) membuat investor global cenderung mengurangi exposure ke emerging markets, termasuk Indonesia. 

“Dalam kondisi seperti ini, saham bank biasanya menjadi sumber likuiditas karena kapitalisasi besar dan mudah diperjualbelikan, sehingga sering menjadi target profit taking ketika risk appetite global menurun,” jelas Andrey kepada Kontan, Kamis (5/3/2026). 

Sikap investor asing memang masih menjadi katalis utama pergerakan saham perbankan. Meski investor domestik memang sudah cukup aktif melakukan akumulasi ketika asing keluar, Andrey bilang porsi kepemilikan asing tetap mendominasi dan berperan penting dalam pembentukan likuiditas pasar.

Baca Juga: Kinerja Saham Bank BRI (BBRI) Melemah Usai Melaporkan Kinerja 2025  

Analis BRI Danareksa Abida Massi juga bilang hal serupa. Menurutnya, fluktuasi arus dana asing di saham perbankan bakal memengaruhi harga jangka pendek hingga menengah. “Saham bank tidak sepenuhnya bergantung asing, tapi aksi mereka punya efek signifikan,” sebutnya. 

Abida melihat hilangnya minat asing pada saham perbankan domestik membuat harga sulit kembali ke level puncaknya pada 2024 lalu. Meski kinerja operasional bank kuat sekalipun, tekanan jual asing bakal membatasi pergerakan harga saham bank. 

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo, Maximilianus Nico Demus malah melihat sektor perbankan kini sudah kurang menarik bagi pasar. Itu lantaran kinerja perbankan sejak 2025 cenderung melambat, yang salah satunya akibat situasi ekonomi yang kurang kondusif. 

Nico bilang selama ini sektor perbankan memang salah satu penopang pasar keuangan domestik. Namun, nyatanya sejak 2025 kemarin terjadi rotasi ke sektor-sektor lain yang lebih prospektif di tengah perubahan situasi dan kondisi saat ini. 

Baca Juga: Laba Januari Melejit 85%, Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) Layak Buy

Upaya buyback yang diambil perbankan juga tak serta-merta memberi efek positif bagi pergerakan harga sahamnya. Fundamental dan potensi valuasi di masa depan bakal menentukan efektivitas aksi tersebut. 

“Dalam artian, apakah buyback memberikan efek jangka pendek saja, atau ternyata juga memberi dampak positif untuk jangka panjang,” kata Nico. 

Pilihan saham Nico masih jatuh kepada BBCA dengan target harga Rp 8.600. Sementara pilihan utama Andrey di antaranya BBCA, BMRI, dan BBRI masing-masing dengan target harga Rp 9.730, Rp 5.920, dan Rp 4.300. 

Adapun Abida menegaskan dalam kondisi pasar yang tak pasti, investor sebaiknya mengelola risiko, menetapkan stop loss, dan memilih saham bank dengan fundamental kuat dan valuasi menarik. Ia menetapkan target harga BMRI di Rp 5.500, BBCA di Rp 11.400, dan BBNI di Rp 4.700.

Baca Juga: Kinerja Saham Big Banks Kompak Menguat Jelang Akhir Pekan, Ini Rekomendasi Analis

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×