kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45909,48   7,81   0.87%
  • EMAS961.000 -1,64%
  • RD.SAHAM 1.17%
  • RD.CAMPURAN 0.57%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

SBR dan Fintech turut menekan dana murah perbankan


Kamis, 10 Oktober 2019 / 06:56 WIB
SBR dan Fintech turut menekan dana murah perbankan
ILUSTRASI. Aktivitas penjualan saham dan surat berharga lainnya seperti obligasi negara ritell seri 013 di Mandiri Sekuritas (mansek), Jakarta, Kamis (6/10). ORI 013 diserbu investor ritel, buktinya sejak dibuka masa penawaran 19 September 2016 lalu pemerintah telah

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penerbitan obligasi ritel pemerintah yang masih terus berlanjut dan semakin berkembangnya perusahaan fintech turun menekan bank dalam menggali dana dari masyarakat, termasuk dana murah (current account savings account/CASA).

Masyarakat yang selama ini banyak mendiamkan dana di tabungan mulai tergiur dengan cuan dengan berinvestasi kecil-kecilan baik lewat surat utang ritel pemerintah dan juga fintech.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total pinjaman yang disalurkan fintech per Juli 2019 telah mencapai Rp 49 triliun.

Baca Juga: Tren kupon menurun, target hasil penerbitan SBN ritel di batas bawah

Direktur Bisnis Konsumer PT Bank Negara Indonesia (BNI) Anggoro Eko Cahyo menengarai, Surat Berharga Negara (SBN) ritel turut memberikan tekanan bagi bank dalam menghimpun dana dari masyarakat.

Sedangkan kehadiran fintech menurutnya justru bisa memberikan dampak positif terhadap DPK bank jika keduanya melakukan kolaborasi.

"Kepemilikan dana oleh fintech dari mana pun sumbernya bisa ditempatkan di bank sehingga malah membantu penguatan likuiditas bank," jelas Anggoro pada Kontan.co.id, Selasa (8/10).

Sementara Direktur Kepatuhan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), Mahelan Prabantarikso justru melihat adanya shifting atau perseran dana masyarakat di tabungan ke fintech pembayaran.

Baca Juga: Investor Asing Masih Wait and See di Pasar Surat Berharga Negara

Menurutnya, shifting itu didominasi oleh kalangan millenial yang pada umumnya memiliki gaya hidup yang lebih konsumtif. "Sangat mungkin adanya shifting, namun mungkin sharenya masih belum terlalu besar," katanya.

Dengan adanya tantangan itu, BTN akan terus mencari strategi untuk mendorong CASA yang akan menjadi andalan perusahaan dalam menjaga likuiditas.

Per Agustus, posisi rasio CASA BTN ada di level 40%.Itu menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang ada di level 45,21% dan juga dari akhir tahun 2018 yang masih di kisaran 43,4%.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×