Reporter: Ade Priyatin | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi salah satu tantangan yang dihadapi industri asuransi rekayasa sepanjang paruh pertama 2026.
Direktur Utama PT Asuransi Asei Indonesia Dody Dalimunthe mengatakan bahwa pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya yang berujung pada penyesuaian anggaran hingga penundaan sejumlah proyek.
"Pelemahan nilai tukar rupiah memang memberikan tekanan terhadap industri konstruksi," ujarnya kepada Kontan, Selasa (14/7/26).
Baca Juga: LKM BKD Ponorogo Belum Jadi Peserta SLIK, Kesiapan Infrastruktur Jadi Kendala
Hal ini dikarenakan sebagian besar kebutuhan material, mesin, hingga peralatan proyek yang dibutuhkan masih bergantung pada impor.
Namun, Dody menilai dampak pelemahan rupiah tidak terlihat pada peningkatan risiko klaim secara langsung.
Hal serupa juga disampaikan oleh Sekretaris Perusahaan PT Asuransi Jasa Indonesia (Asuransi Jasindo). Menurutnya, dampak pelemahan rupiah terhadap bisnis asuransi dinilai bersifat seragam dan bergantung pada karakteristik masing-masing proyek.
"Dampaknya terhadap bisnis asuransi rekayasa tidak bersifat seragam," katanya, Senin (13/7/26).
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan juga menegaskan bahwa kinerja asuransi rekayasa pada pertengahan tahun ini sangat dipengaruhi oleh melambatnya proyek konstruksi baru dan penyelesaian proyek besar pada tahun sebelumnya.
Oleh karena itu, dampaknya akan terlihat berbeda-beda tergantung dengan keberlanjutan proyek, kemampuan kontraktor mengelola biaya, dan percepatan realisasi investasi pemerintah maupun swasta.
Kendati demikian, mereka mengaku akan tetap mencermati pergerakan rupiah sebagai salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan biaya proyek.
Sejalan dengan itu, Jasindo juga melihat bahwa kebutuhan perlindungan akan tetap relevan seiring dengan meningkatnya kesadaran pelaku usaha terhadap pentingnya pengelolaan risiko untuk menjaga keberlangsungan dan kelancaran proyek.
Sebagai informasi, AAUI membukukan premi lini ini sebesar Rp965 miliar atau terkoreksi 44,4%. Adapun klaim dibayar juga mengalami peningkatan sebesar 133,9% mencapai Rp1,09 triliun pada kuartal I-2026.
Baca Juga: Kiwoom Sekuritas Optimistis Kinerja Tetap Tumbuh Meski IHSG Tertekan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














