Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasca periode terjal sepanjang 2025, sektor properti disebut bakal mulai bangkit kembali pada 2026. Seiring dengan itu, kredit properti yang sempat lesu berpotensi tumbuh lebih baik tahun ini.
Anggota Satgas Perumahan Panangian Simanungkalit menyebut, pertumbuhan properti pada umumnya sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Kelesuan sektor properti dalam beberapa tahun terakhir pun menurutnya sejalan dengan terbatasnya pertumbuhan ekonomi.
“Pertumbuhan properti memang sudah melemah sejak beberapa tahun lalu karena rata-rata pertumbuhan ekonomi antara tahun 2014 dan 2024 hanya berada di kisaran 4%,” kata Panangian dalam media briefing di Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi yang dipatok Bank Indonesia (BI) sebesar 5,3% pada 2026, Panangian menyebut pertumbuhan sektor properti bisa mencapai 8%. Itu sesuai konsep growth elasticity, yang mana pertumbuhan properti berkisar 1,5–1,7 kali pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Realisasi Penyaluran KUR Sejumlah Perbankan Cukup Solid Sepanjang 2025
Di luar itu, Panangian melihat tahun 2026 menjadi momentum positif karena program-program strategis pemerintah yang berkaitan dengan sektor properti bakal lebih masif progresnya. Pasalnya, tak lama lagi Badan Percepatan Pembangunan Perumahan Rakyat (BP3R) bakal segera hadir sebagai eksekutor.
Panangian menyebut, lembaga tersebut ditargetkan resmi terbentuk sebelum kuartal I-2026 berakhir.
Prospek Pertumbuhan Kredit Properti
Berdasarkan data BI, pertumbuhan kredit properti berhasil melaju jelang akhir tahun 2025. Data sementara menunjukkan kredit properti tumbuh hingga 7,4% secara tahunan pada November 2025, lebih tinggi ketimbang pertumbuhan 5,0% pada bulan sebelumnya.
Untuk diketahui, sepanjang 2025 pertumbuhan kredit properti tak berhasil melewati 7% sebelumnya. Pertumbuhan terendah terjadi pada bulan Juli dan September, yakni hanya 4,3%.
Jika ditilik, kredit perumahan (KPR dan KPA) menunjukkan tren yang lebih stabil sepanjang tahun, sementara kredit konstruksi dan real estate sempat terkoreksi pada pertengahan tahun sebelum kembali melaju pada kuartal IV.
Baca Juga: BI Rate Turun, Kredit Konsumer Berpotensi Pulih Bertahap pada 2026
Corporate Secretary Bank Syariah Indonesia (BSI) Wisnu Sunandar mengamini bahwasannya kredit perumahan berhasil menjaga tren positif kredit properti selama 2025. Di BSI sendiri, penyaluran kredit perumahan mencapai Rp 69,98 triliun pada akhir 2025, tumbuh 23,14% secara tahunan.
Tren positif juga terlihat dari rerata booking Rp 1 triliun per bulan yang didominasi pembelian rumah pertama senilai Rp 500 juta hingga Rp 2 miliar, take over, renovasi, maupun kebutuhan lainnya.
Wisnu mengaku segmen perumahan menjadi fokus bank, sebagaimana sektor ini mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Menurutnya, capaian positif pembiayaan properti BSI tak lepas dari berbagai kebijakan dan stimulus ekonomi pemerintah.
“Yakni atas kebijakan program penyaluran tiga juta rumah melalui KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR),” kata Wisnu.
Di samping itu, ia bilang kinerja positif pembiayaan perumahan juga didukung kerja sama dengan lebih dari 2.300 developer, serta berbagai keunikan layanan yang ditawarkan. Bank optimistis capaian positif pada 2025 itu dapat berlanjut hingga 2026.
Dari sisi bank daerah, segmen perumahan juga masih menjadi pendorong kredit properti Bank DIY. Direktur Pemasaran dan Usaha Syariah BPD DIY Raden Agus Trimurjanto menyebutkan, posisi kredit perumahan bank pada akhir tahun 2025 berhasil tumbuh 16% secara tahunan.
Baca Juga: OK Bank Catat Pertumbuhan DPK dan Kredit Double Digit di Akhir 2025
Sementara itu, kredit konstruksi disebut belum tumbuh sesuai harapan. Hal itu terjadi lantaran kondisi ekonomi yang belum membaik dan memengaruhi daya beli masyarakat.
“Masyarakat enggan mengajukan kredit karena mempertimbangkan kebutuhan lain yang lebih mendesak seperti kebutuhan hidup sehari-hari dan pendidikan anak,” papar Agus.
Meski kredit perumahan masih berhasil menunjukkan hasil positif tahun lalu, bank tetap mencermati perubahan tren belanja anak muda yang kini dinilai lebih mementingkan kebutuhan jangka pendek.
“Harapan dan target harus optimistis, namun banyak aspek yang memengaruhi seperti kondisi global, pertumbuhan ekonomi, daya beli, serta perubahan pola pikir anak muda,” pungkasnya.
Selanjutnya: Menakar Dampak Pelemahan Rupiah Bagi Emiten dari Berbagai Sektor
Menarik Dibaca: 4 Rekomendasi Minuman untuk Bantu Cukupi Kebutuhan Vitamin D Anda
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
