Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli
Menurut Myrdal, penerbitan instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan SBN ritel turut menyedot likuiditas rupiah dari sistem perbankan.
Selain itu, sebagian dana masyarakat juga dikonversi ke valas untuk kebutuhan hedging kewajiban luar negeri korporasi, pembayaran dividen investor asing, maupun antisipasi volatilitas nilai tukar.
Ia menilai penurunan DPK rupiah secara langsung mulai memberikan tekanan terhadap likuiditas dan cost of fund perbankan. Ketika DPK menyusut, loan to deposit ratio (LDR) perbankan otomatis meningkat sehingga ruang likuiditas menjadi lebih sempit.
“Bank-bank, terutama di kelompok menengah ke bawah, akan cenderung merilis special rate deposito demi menahan deposan besar atau institusi. Peralihan dari dana murah ke dana mahal ini akan langsung mendongkrak cost of fund,” ujar Myrdal.
Baca Juga: Prediksi Rupiah Selasa (2/6), Apakah Lanjutkan Penguatan?
Menurutnya, jika tren outflow rupiah terus berlangsung tanpa adanya pelonggaran likuiditas, bank akan lebih selektif dalam menyalurkan kredit baru dan cenderung memprioritaskan kualitas aset dibandingkan mengejar pertumbuhan volume kredit.
Di sisi lain, kenaikan CoF juga akan menekan net interest margin (NIM) perbankan.
Untuk menjaga pertumbuhan CASA, Myrdal menilai bank perlu memperkuat transaction banking dan cash management system (CMS) agar menjadi saluran utama transaksi operasional nasabah korporasi.
Selain itu, optimalisasi pembayaran lintas negara melalui Local Currency Settlement (LCS) maupun interkoneksi sistem pembayaran regional juga dinilai dapat membantu memperkuat likuiditas transaksional di sistem perbankan.
Meski demikian, sejumlah bank besar menilai kondisi likuiditas saat ini masih relatif terjaga.
Baca Juga: Rupiah Tembus 18.000 per Dolar AS, Ini Pemicu Utama Pelemahannya
Head of Deposit Product Management Bank Mandiri Mega Ekaputri Pujianto mengatakan, kondisi penghimpunan dana pihak ketiga Bank Mandiri hingga April 2026 masih solid dengan total DPK di atas Rp 1,6 triliun dan rasio CASA lebih dari 71%.
Menurut Mega, penurunan simpanan rupiah industri pada April terutama dipengaruhi faktor musiman seperti pembayaran pajak dan dividen, serta pergeseran sebagian dana masyarakat ke instrumen investasi yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
“Tekanan terhadap likuiditas maupun cost of fund masih relatif terbatas karena struktur pendanaan bank tetap kuat dan terdiversifikasi,” ujarnya.
Ke depan, Bank Mandiri akan terus memperkuat pertumbuhan dana murah melalui pengembangan ekosistem transaksi, layanan digital, payroll, dan transaction banking guna menjaga CASA tetap kuat sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan juga menyebut kondisi likuiditas perseroan masih cukup baik. Menurut dia, total DPK dan CASA CIMB Niaga secara bulanan relatif stabil, sedangkan secara tahunan masih tumbuh.
“CASA terutama tumbuh 14% secara tahunan per April. Secara likuiditas masih baik, tentu karena permintaan kredit juga masih lemah,” ujar Lani.
Lani menambahkan CIMB Niaga tetap fokus menjadikan CASA sebagai tulang punggung likuiditas, terutama melalui operating account perusahaan, payroll, dan digital mass segment.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.047 Per Dolar AS di Tengah Hari: Terburuk Sepanjang Sejarah!
Jika dilihat dari laporan keuangannya, DPK Bank CIMB Niaga per April 2026 tumbuh 3,72% yoy menjadi Rp 259,86 triliun.
Secara lebih rinci, komposisi DPK kian didominasi oleh dana murah, dengan giro mencapai Rp 101,99 triliun atau tumbuh 19,76% yoy, tabungan mencapai Rp 90,33 triliun atau tumbuh 8,47% yoy, sementara deposito sebesar Rp 67,52 triliun, turun 17,74% yoy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













