Reporter: Ferry Saputra | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mulai melakukan penggabungan atau konsolidasi perusahaan asuransi dan penjaminan milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN). BPI Danantara menyebut di sektor asuransi dan penjaminan, Indonesia Financial Group (IFG) melakukan penyederhanaan 12 entitas sebagai bagian dari transformasi ekosistem BUMN.
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria baru-baru ini menggelar pertemuan bersama jajaran Direksi IFG untuk membahas percepatan program streamlining, perkembangan transformasi holding, serta penguatan tata kelola dan efisiensi perusahaan asuransi BUMN.
Dony menyebut bahwa keberhasilan transformasi tidak hanya diukur dari penyederhanaan struktur perusahaan, tetapi juga dari perbaikan kualitas pengelolaan investasi. Dia bilang berbagai persoalan yang selama ini terjadi di industri asuransi berakar pada penempatan investasi yang tidak seimbang dengan kewajiban (liabilities), sehingga meningkatkan eksposur risiko perusahaan.
“Kami belajar dan memetakan persoalan-persoalan yang terjadi sebelumnya. Salah satu yang paling banyak terjadi adalah misinvestment. Banyak persoalan muncul karena tidak seimbang antara liabilities dan investasinya. Hal itu yang menyebabkan terekspos dengan risiko yang cukup besar,” ujar Dony dalam keterangan resmi, Kamis (23/7/2026).
Baca Juga: Danantara Pangkas 15 Asuransi BUMN Jadi 3 Entitas, AAJI Nilai Persaingan Kian Dinamis
Dony juga mengingatkan adanya ketidakseimbangan portofolio investasi yang perlu segera diselesaikan. Dia menerangkan pertumbuhan kewajiban yang tidak diimbangi dengan kinerja aset investasi, khususnya pada portofolio properti, berpotensi memperlebar kesenjangan keuangan perusahaan apabila tidak segera ditangani.
“Saya khawatir gap-nya justru makin besar karena liabilities terus meningkat, sedangkan ada portofolio di sisi properti yang belum menghasilkan margin yang cukup untuk menutupi kewajiban tersebut. Hal itu harus diselesaikan dengan cepat,” ucapnya.
Melalui transformasi holding dan program streamlining, Dony menyampaikan IFG diarahkan untuk membangun sistem pengelolaan investasi yang lebih disiplin, memperkuat manajemen risiko, serta memastikan pengembangan produk asuransi dilakukan berdasarkan analisis risiko yang sehat. Dia berharap langkah tersebut mampu meningkatkan keberlanjutan industri asuransi BUMN, sekaligus mencegah terulangnya kesalahan investasi di masa mendatang.
Hingga Juli 2026, pemerintah menyampaikan program streamlining telah memangkas sekitar 250 entitas BUMN dan menghasilkan efisiensi biaya mencapai Rp 50 triliun.
Baca Juga: Ini Perkembangan Terbaru Soal Rencana Konsolidasi Asuransi BUMN oleh Danantara
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














