Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Likuiditas industri perbankan mulai menghadapi tekanan seiring menyusutnya simpanan dalam mata uang rupiah.
Di tengah ketidakpastian pasar keuangan dan masih tingginya suku bunga, dana masyarakat dinilai mulai bergeser ke berbagai instrumen investasi dengan imbal hasil lebih menarik.
Berdasarkan data Bank Indonesia, dana pihak ketiga (DPK) rupiah pada April 2026 tercatat sebesar Rp 8.100,4 triliun atau tumbuh 9,6% secara tahunan (year on year/yoy).
Meski masih tumbuh positif, angka tersebut turun dibandingkan posisi Maret 2026 sebesar Rp 8.208,2 triliun dengan pertumbuhan 11,1% yoy. Artinya, simpanan rupiah menyusut Rp 172,9 triliun secara bulanan.
Baca Juga: Simpanan Rupiah Susut, Dollar Semakin Diminati
Sementara itu, DPK valas pada April 2026 tercatat Rp 1.467,3 triliun atau tumbuh 8,6% yoy, relatif stagnan dibandingkan bulan sebelumnya sebesar Rp 1.450,6 triliun.
Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menilai penurunan simpanan rupiah mengindikasikan adanya realokasi aset oleh masyarakat dan pelaku usaha, bukan semata-mata penarikan dana dari sistem keuangan.
Menurutnya, di tengah volatilitas pasar dan tingginya suku bunga, sebagian dana masyarakat berpotensi berpindah ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi seperti Surat Berharga Negara (SBN), deposito berjangka, reksadana pasar uang, hingga emas.
“Sebagian dana juga kemungkinan terserap untuk kebutuhan modal kerja perusahaan dan konsumsi rumah tangga,” ujar Rizal kepada kontan.co.id, Minggu (7/6/2026).
Adapun kenaikan simpanan valas yang hanya sekitar Rp 29,7 triliun menunjukkan perpindahan dana ke valuta asing bukan menjadi faktor dominan. Karena itu, kondisi saat ini lebih tepat dipahami sebagai fenomena portofolio rebalancing dibandingkan aksi dolarisasi.
Baca Juga: Simpanan Rupiah Bank Berkurang, Pelemahan Kurs Terancam Semakin Dalam
Rizal mengatakan, penurunan simpanan rupiah memang mulai memberikan tekanan terhadap likuiditas perbankan, terutama jika dana murah atau current account saving account (CASA) ikut mengalami penurunan.
Ketika bank kehilangan sumber dana berbiaya rendah, bank cenderung menaikkan suku bunga deposito guna mempertahankan likuiditas. Kondisi tersebut pada akhirnya akan mendorong kenaikan cost of fund (CoF).
Namun, selama penurunan simpanan masih bersifat sementara dan rasio likuiditas industri tetap memadai, tekanan tersebut dinilai masih dapat dikelola.
Menurutnya, apabila tren penurunan simpanan rupiah berlangsung dalam jangka panjang, dampaknya dapat meluas terhadap fungsi intermediasi perbankan.
“Kenaikan CoF akan menekan margin bunga bersih (NIM), sehingga ruang bank untuk menyalurkan kredit dengan bunga yang kompetitif menjadi semakin terbatas. Akibatnya, pertumbuhan kredit berpotensi melambat dan profitabilitas bank ikut tertekan,” katanya.
Untuk menjaga pertumbuhan dana murah, Rizal menilai bank perlu mengubah strategi dari sekadar bersaing pada tingkat bunga menjadi memperkuat ekosistem layanan transaksi yang memberi nilai tambah bagi nasabah.
Baca Juga: Rupiah Terpuruk Hampir 3% Sepanjang Mei 2026, Akankan Tekanan Mereda di Juni?
“Penguatan digital banking, integrasi layanan pembayaran, payroll, cash management, transaksi UMKM, hingga program loyalitas menjadi kunci untuk mempertahankan dana mengendap di rekening,” jelasnya.
Chief Economist BTN Myrdal Gunarto juga melihat adanya shifting dana masyarakat dari DPK tradisional ke instrumen moneter dan pasar modal yang menawarkan yield lebih tinggi.













