kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.545.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.109   16,00   0,09%
  • IDX 5.050   20,17   0,40%
  • KOMPAS100 649   1,43   0,22%
  • LQ45 518   4,63   0,90%
  • ISSI 164   -2,40   -1,44%
  • IDX30 292   2,74   0,95%
  • IDXHIDIV20 394   5,37   1,38%
  • IDX80 75   0,27   0,36%
  • IDXV30 108   0,37   0,34%
  • IDXQ30 99   1,18   1,21%

Simpanan Kelas Menengah Bawah Tumbuh, Bank Perkuat Strategi Genjot Tabungan


Minggu, 08 November 2026 / 13:04 WIB
Simpanan Kelas Menengah Bawah Tumbuh, Bank Perkuat Strategi Genjot Tabungan
ILUSTRASI. Pelayanan nasabah di Bank Syariah Indonesia (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan simpanan masyarakat di perbankan mulai menunjukkan perbaikan. Namun, pemulihan kemampuan menabung masyarakat, khususnya kelompok menengah bawah, masih menghadapi tantangan di tengah tekanan daya beli dan kebutuhan rumah tangga.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, total simpanan perbankan pada September 2026 mencapai Rp 10.513 triliun atau tumbuh 8,65% secara tahunan (year on year/YoY).

Berdasarkan kelompok nominal, simpanan dengan saldo di bawah Rp 100 juta tumbuh 7,15% YoY. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan kelompok simpanan Rp 100 juta hingga Rp 200 juta yang sebesar 5,8% dan kelompok Rp 200 juta hingga Rp 500 juta sebesar 4,21%. Sementara itu, simpanan di atas Rp 5 miliar tumbuh 11,91% YoY.

Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu mengatakan, pihaknya tidak melihat fenomena masyarakat menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau makan tabungan. Pasalnya, simpanan masyarakat masih tumbuh di seluruh kelompok saldo.

Meski demikian, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, pertumbuhan simpanan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kondisi tabungan masyarakat bawah telah pulih sepenuhnya.

Baca Juga: Simpanan di Bawah Rp 100 Juta Melambat, Kelas Menengah Bawah Masih Tertekan

Menurut Yusuf, pertumbuhan nominal simpanan belum tentu mencerminkan kenaikan saldo setiap nasabah. Perpindahan nasabah dari kelompok saldo di atas Rp 100 juta ke kelompok di bawahnya juga dapat membuat simpanan kelompok bawah terlihat meningkat, meski sebenarnya terjadi penurunan kelas saldo.

"Jadi, fenomena makan tabungan belum selesai, terutama pada lapisan masyarakat paling bawah," kata Yusuf kepada Kontan.co.id, Minggu (8/11/2026).

Ia menambahkan, pemulihan simpanan masyarakat masih menunjukkan kesenjangan. Pertumbuhan simpanan kelompok di atas Rp 5 miliar yang mencapai 11,91% jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok saldo kecil.

Kondisi ini mengindikasikan pemulihan belum merata, ketika kelompok atas menikmati pertumbuhan likuiditas lebih besar sementara kelompok bawah masih menghadapi tekanan daya beli.

Yusuf menilai, bank perlu mengubah strategi penghimpunan dana dengan menangkap arus transaksi nasabah, bukan hanya mengejar pertumbuhan saldo.

Menurutnya, bank bisa memperkuat layanan rekening gaji, pembayaran QRIS bagi pedagang kecil, serta penyaluran bantuan sosial agar dana masuk ke rekening dan dapat mengendap secara alami sebelum digunakan.

"Strategi bank sebaiknya diarahkan untuk menangkap arus transaksi, bukan hanya mengejar pertumbuhan saldo," ujarnya.

Baca Juga: Simpanan Kelas Menengah-Bawah Tumbuh Positif, Tapi Diproyeksi Tak Bertahan Lama

Di tengah kondisi tersebut, sejumlah bank masih mencatatkan pertumbuhan tabungan pada segmen menengah bawah. Direktur Network & Retail Funding BTN Rully Setiawan menyebut, hingga 30 September 2026, volume simpanan segmen menengah bawah di BTN tumbuh 5% secara year to date (YtD). Sementara jumlah rekening meningkat 4%.

"Di Bank BTN, kami melihat adanya perkembangan yang cukup positif pada produk tabungan, termasuk pada segmen kelas menengah bawah," ujar Rully.

Untuk menjaga pertumbuhan tersebut, BTN memperkuat akuisisi nasabah melalui pengembangan produk tabungan, layanan digital, serta program retensi dan loyalitas. Perseroan juga menyasar ekosistem payroll, pendidikan, dan kesehatan dengan menyediakan layanan terpadu bagi nasabah maupun lembaga.

Dari sisi transaksi, BTN mengoptimalkan aplikasi bale by BTN serta kartu ATM dan debit untuk memenuhi kebutuhan transaksi harian nasabah.

Pertumbuhan tabungan juga dicatatkan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI). SVP Retail Deposit Solution Group BSI Dien Lukita Purnamasari menyampaikan, hingga September 2026, DPK BSI tumbuh 10,79% YoY menjadi Rp 393 triliun. Tabungan mencapai Rp 176 triliun atau meningkat 20,79% YoY.

Pada segmen nasabah dengan saldo di bawah Rp 100 juta, tabungan BSI tumbuh 13,29% YoY. Jumlah rekening tabungan juga meningkat 11,32% YoY.

Portofolio tabungan BSI ditopang oleh produk berbasis akad wadiah, termasuk tabungan haji dan umrah. Ke depan, perseroan juga akan memperluas basis nasabah melalui penguatan layanan perbankan syariah dan bisnis emas, termasuk Tabungan Emas.

Sementara itu, Allo Bank melihat perkembangan positif pada dana yang bersifat transaksional. Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo menyebut, hingga Agustus 2026, saldo tabungan Allo Bank mencapai sekitar Rp 1,01 triliun atau tumbuh 26,35% YoY. Adapun giro meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar Rp 479 miliar.

Destya mengatakan, perkembangan dana transaksional tersebut menjadi sinyal positif di tengah dinamika daya beli dan kondisi ekonomi.

"Perilaku nasabah sangat beragam. Sebagian masyarakat memang lebih selektif dalam mengelola pengeluaran dan likuiditas, namun pada saat yang sama semakin banyak nasabah yang menggunakan rekening untuk transaksi, pembayaran, menerima maupun menyimpan dana," jelasnya.

Untuk mendorong pertumbuhan tabungan, Allo Bank menggeser pendekatan dari sekadar menawarkan produk menjadi membangun kebiasaan menabung dan bertransaksi. Perseroan memperkuat penggunaan QRIS, transfer, pembayaran tagihan, serta mengembangkan produk Allo Grow dan Allo Deposito.

Allo Deposito dapat diakses mulai dari Rp 1 juta sehingga dapat menjadi pilihan bagi nasabah ritel untuk mulai membangun kebiasaan menabung.

"Semakin sering rekening digunakan untuk transaksi, semakin besar peluang nasabah menjadikan rekening tersebut sebagai rekening operasional utama dan menyimpan dana secara lebih konsisten," kata Destya.

Menurutnya, strategi tersebut diharapkan dapat memperkuat dana murah atau current account savings account (CASA) dan menciptakan struktur pendanaan yang lebih berkelanjutan bagi bank.

Baca Juga: Daya Beli Tekan Tabungan Kelas Menengah Bawah, Bank Mandiri Yakin Simpanan Tumbuh 10%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×