kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.526.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.159   -7,00   -0,04%
  • IDX 5.057   -41,01   -0,80%
  • KOMPAS100 651   -4,49   -0,68%
  • LQ45 515   -0,12   -0,02%
  • ISSI 169   -2,02   -1,18%
  • IDX30 290   0,46   0,16%
  • IDXHIDIV20 392   3,47   0,89%
  • IDX80 75   -0,37   -0,49%
  • IDXV30 109   1,70   1,58%
  • IDXQ30 98   0,32   0,33%

Simpanan Valas Perbankan Berpotensi Meningkat di Tengah Pelemahan Rupiah


Minggu, 01 November 2026 / 15:00 WIB
Simpanan Valas Perbankan Berpotensi Meningkat di Tengah Pelemahan Rupiah
ILUSTRASI. Nasabah terutama korporasi, mulai melihat simpanan dolar AS sebagai salah satu pilihan untuk menjaga nilai aset di tengah ketidakpastian (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Aura Putri | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi mendorong peningkatan simpanan valuta asing (valas) di perbankan. Nasabah, terutama korporasi, mulai melihat simpanan dolar AS sebagai salah satu pilihan untuk menjaga nilai aset di tengah ketidakpastian nilai tukar.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, tren peningkatan simpanan valas sebenarnya sudah terlihat. Pada September 2026, dana pihak ketiga (DPK) valas perbankan mencapai Rp 1.641,8 triliun atau tumbuh 20,6% secara tahunan.

Meski begitu, kenaikan tersebut tidak seluruhnya berasal dari penambahan simpanan valas. Sebagian kenaikan terjadi karena nilai simpanan valas dalam rupiah ikut meningkat saat rupiah melemah.

"Jika pengaruh kurs dikeluarkan, pertumbuhan riilnya diperkirakan hanya sekitar 11% sampai 12%. Dorongannya juga lebih banyak berasal dari korporasi, terutama melalui giro valas," ujar Yusuf kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).

Baca Juga: Menakar Dampak Kredit Rakyat Rp 400 Triliun pada 2027 Terhadap Perusahaan Pembiayaan

Yusuf memperkirakan, dengan asumsi rupiah bergerak di kisaran Rp 18.000-Rp 18.600 per dolar AS, DPK valas perbankan bisa mencapai Rp 1.700 triliun hingga Rp 1.750 triliun pada akhir 2026.

Namun, peluang pertumbuhan tersebut juga bergantung pada kemampuan bank menyalurkan dana valas yang dihimpun. Bank besar dengan nasabah eksportir dan jaringan transaksi internasional dinilai lebih diuntungkan dalam menghimpun dana valas.

Sebelumnya, Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Hashim Djojohadikusumo memperkirakan, nilai tukar rupiah berpotensi menembus Rp 20.000 hingga Rp 22.000 per dolar Amerika Serikat (AS) apabila kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan domestik merosot.

"Saya sudah hitung bisa jadi Rp 20.000–Rp 21.000. Ada yang bilang Rp 22.000. Kalau itu terjadi, rupiah bisa Rp 21.000–Rp 22.000 per dolar AS. Pinjaman luar negeri kita harus bayar lebih mahal," kata Hashim dalam agenda Rapimnas Kadin pada Kamis (29/10/2026).

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, BCA mencermati perkembangan nilai tukar dan aktivitas transaksi valas secara prudent.

"BCA berkomitmen menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas valas dengan ekspansi kredit yang sehat, dengan tetap mempertimbangkan perkembangan kondisi pasar dan risiko," ujar Hera kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).

Baca Juga: Laba BFI Finance (BFIN) Tumbuh 11,96% Jadi Rp 1,31 Triliun per Kuartal III-2026

Hingga September 2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) valas BCA senilai Rp 119 triliun. Sebagai perbandingan, DPK rupiah BCA mendominasi senilai Rp 1.183 triliun

Adapun DPK BCA mencapai Rp 1.301 triliun. Porsi dana giro dan tabungan (CASA) mendominasi sekitar 84,78% dari total DPK BCA.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×