Sumber: KONTAN |
JAKARTA. Kondisi pasar modal yang belum stabil, jelas berimbas pada industri reksadana. Meski begitu, masih ada peluang bagi investor untuk membiakkan duitnya pada produk reksadana.
Para pelaku industri reksadana menilai, tahun ini reksadana terproteksi bakal menjadi primadona. Maklum saja, produk ini bisa menjadi pilihan di tengah suramnya dunia investasi. "Reksadana terproteksi lebih aman ketimbang jenis reksadana lainnya," jelas Irvin Patmadiwiria, Direktur Lautandhana Investmen Management.
Selain itu, imbal hasil (return) reksadana terproteksi juga tak mengecewakan. Pasalnya, imbal hasil jenis reksadana ini biasanya mengacu pada perkembangan bunga.
Ketua Asosiasi Pengelola Reksadana Indonesia (APRDI) Abiprayadi Riyanto juga mengatakan kecenderungan investor reksadana lebih memilih jenis reksadana terproteksi."Portofolio reksadana ini berupa Surat Utang Negara (SUN) dan obligasi yang tak terlalu fluktuatif," ujar Abiprayadi.
Oleh karena itu, PT Pratama Capital Assets Management mulai melirik produk reksadana terproteksi tahun ini. "Sebelumnya, kami hanya menerbitkan produk reksadana berbasis pasar uang dan saham. Tapi tahun ini, kami mencoba keberuntungan dengan menawarkana reksadana terproteksi," ujar Djoni Gunawan, Direktur PT Pratama Capital Assets Management.
Pratama berniat menelurkan tiga produk reksadana terproteksi tahun ini. "Kami akan menggenjot dana kelolaan dari penjualan reksadana terproteksi ini," lanjut Djoni. Pratama menargetkan akan memperoleh dana kelolaan dari reksadana terproteksi ini antara Rp 100 miliar hingga Rp 200 miliar.
Sementara itu, Lautandhana juga mengawali kemunculan produk barunya pada tahun kerbau ini, dengan meluncurkan reksadana terproteksi. Berjuluk Reksadana Terproteksi IV Lautandhana, produk ini memiliki masa jatuh tempo empat tahun mendatang atau Januari 2013. Manajer investasi (MI) menawarkan produk ini sampai akhir Januari 2009.
Dengan menempatkan protofolionya pada instrumen surat utang dan obligasi, Lautandhana akan memberikan iming-iming return berkisar 11,5% hingga 12% per tahun. Selain itu, MI juga berniat mengumpulkan dana kelolaan sebesar Rp 150 miliar hingga Rp 200 miliar dari produk reksadana ini. "Saat ini, dana yang telah terkumpul hampir mencapai target," tutur Irvin sumringah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













