kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 18.012   -76,00   -0,42%
  • IDX 6.108   66,24   1,10%
  • KOMPAS100 801   11,17   1,41%
  • LQ45 609   8,67   1,45%
  • ISSI 211   1,35   0,64%
  • IDX30 343   4,64   1,37%
  • IDXHIDIV20 429   6,16   1,46%
  • IDX80 91   1,30   1,44%
  • IDXV30 117   1,58   1,37%
  • IDXQ30 111   1,61   1,48%

Tak Hanya Andalkan Nasabah Internasional, Bank Asing Perluas Pembiayaan Domestik


Kamis, 16 Juli 2026 / 18:33 WIB
Tak Hanya Andalkan Nasabah Internasional, Bank Asing Perluas Pembiayaan Domestik
ILUSTRASI. Bank-bank yang dimiliki investor asing mulai mengubah strategi ekspansi kredit dan mulai membidik pembiayaan nasabah domestik. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank-bank yang dimiliki investor asing mulai mengubah strategi ekspansi kredit. Jika sebelumnya pembiayaan banyak mengandalkan perusahaan yang berasal dari negara asal pemegang saham, kini sejumlah bank memilih memperluas penyaluran kredit ke korporasi domestik untuk menjaga pertumbuhan bisnis.

Langkah tersebut dilakukan seiring melambatnya permintaan kredit dan besarnya peluang pembiayaan di sektor-sektor domestik.

Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) Lani Darmawan mengatakan, meski mayoritas saham CIMB Niaga dimiliki CIMB Group Sdn Bhd asal Malaysia, fokus penyaluran kredit perseroan saat ini tetap berada di pasar domestik.

"Fokus kredit kami saat ini di domestik, covering klien lokal maupun internasional," ujar Lani kepada Kontan.co.id, Kamis (16/7/2026).

Baca Juga: Di Tengah Kenaikan Harga Produk Apple, Gadai Elektronik Premium Masih Bergerak Stabil

Sebagai bank universal, CIMB Niaga tetap menggarap seluruh segmen bisnis, mulai dari korporasi, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), hingga ritel.

Menurut Lani, hingga saat ini kinerja perseroan masih sesuai target. Namun, ia mengakui permintaan kredit masih relatif lemah sehingga likuiditas industri perbankan cukup longgar.

Kondisi tersebut turut menekan margin bunga, terutama pada segmen ritel dan UMKM.

Untuk menjaga profitabilitas, CIMB Niaga memperbesar kontribusi pendapatan berbasis komisi (fee based income).

"Kami fokus di pendapatan non bunga atau fee income untuk menggantikan kekurangan dari pendapatan bunga sehingga fee income ratio sudah mencapai di atas 33%," katanya.

Hingga Mei 2026, penyaluran kredit CIMB Niaga mencapai Rp175,09 triliun, tumbuh 8,62% secara tahunan (year on year / YoY).

Strategi serupa juga ditempuh PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR). Meski dikendalikan grup keuangan Korea Selatan OK Next Co., Ltd. yang menguasai sekitar 73,34% saham perseroan, OK Bank menyatakan tidak memiliki pembiayaan kepada perusahaan asal negara pemegang saham.

Baca Juga: BRI Insurance Lakukan Pembayaran Klaim Asuransi Alat Berat

Direktur Kepatuhan OK Bank Efdinal Alamsyah mengatakan, seluruh pertumbuhan kredit berasal dari pembiayaan kepada nasabah korporasi dan komersial di Indonesia.

"Saat ini tidak terdapat pembiayaan kepada perusahaan yang berasal dari negara asal pemegang saham. Pertumbuhan kredit didorong oleh pembiayaan kepada nasabah korporasi dan komersial di Indonesia yang memiliki fundamental usaha yang baik, dengan seluruh keputusan kredit dilakukan secara independen berdasarkan kualitas debitur dan profil risiko," ujar Efdinal.

Hingga Mei 2026, kredit OK Bank tercatat tumbuh 12,66% YoY menjadi Rp10,81 triliun.

Berbeda dengan CIMB Niaga dan OK Bank, PT Bank KB Indonesia Tbk (BBKP) masih menjadikan perusahaan Korea Selatan sebagai salah satu kontributor pembiayaan. Namun porsinya terus dikurangi melalui diversifikasi portofolio.

Baca Juga: Emas Masih Dominasi Barang Jaminan di Gadai ValueMax Indonesia

Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan, sekitar 30% portofolio kredit wholesale KB Bank masih berasal dari perusahaan-perusahaan Korea.

"Korean link juga merupakan sebuah kontributor. Mungkin dari sisi bisnis wholesale bank sekitar 30% dari exposure kami berasal dari Korean link," ujarnya.

Meski demikian, KB Bank kini memperbesar pembiayaan kepada perusahaan lokal.

"Kami sudah mencoba masuk ke perusahaan lokal. Korporasi lebih besar, kemudian SME juga sedang kami benahi," katanya.

Kunardy menjelaskan, ekspansi kredit KB Bank dilakukan secara terbuka ke berbagai sektor seperti manufaktur, barang konsumsi, sumber daya alam, farmasi, rumah sakit, logistik hingga cold chain storage.

Ke depan, KB Bank juga akan memperkuat pembiayaan berbasis ekosistem.

"Misalnya kami memberikan kredit ke rumah sakit. Kami juga melihat BPJS, pasien, supplier hingga distributornya dalam satu ekosistem sehingga kualitas kredit lebih terukur," jelasnya.

Hingga Mei 2026, penyaluran kredit KB Bank mencapai Rp43,52 triliun, tumbuh 3,84% YoY.

Adapun, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman menilai, bank asing memang memiliki keunggulan berupa jaringan korporasi global, teknologi, akses pendanaan, hingga informasi debitur dari perusahaan induk.

Keunggulan tersebut membuat akuisisi nasabah dan proses penilaian risiko menjadi lebih efisien.

Meski demikian, menurut Rizal, mengandalkan perusahaan dari negara asal investor tidak lagi cukup untuk menopang pertumbuhan kredit secara berkelanjutan.

"Strategi membiayai perusahaan dari negara asal investor masih relevan, tetapi tidak cukup untuk menopang pertumbuhan kredit secara berkelanjutan, terutama ketika kredit perbankan nasional tumbuh sekitar 10% secara tahunan," ujarnya.

Ia melihat peluang pembiayaan justru semakin besar di sektor domestik. Kredit investasi, misalnya, masih tumbuh sekitar 19,5%, sementara fasilitas kredit yang belum ditarik (undisbursed loan) masih mencapai sekitar Rp2.575 triliun.

Karena itu, bank asing dinilai perlu memperluas pembiayaan ke korporasi domestik, sektor hilirisasi, manufaktur, infrastruktur, hingga perusahaan lokal yang masuk dalam rantai pasok global.

Menurut Rizal, terlalu bergantung pada perusahaan dari satu negara juga meningkatkan risiko konsentrasi portofolio. Pelemahan ekonomi negara asal investor, perubahan kebijakan perdagangan, maupun ketegangan geopolitik dapat menekan permintaan kredit sekaligus memperburuk kualitas aset bank.

Ia menyarankan, bank asing menerapkan strategi "dua kaki", yakni tetap memanfaatkan jaringan global pemegang saham sembari memperbesar basis nasabah domestik.

"Ekspansi dapat diarahkan pada pembiayaan rantai pasok, perdagangan, hilirisasi, ekonomi hijau, dan korporasi menengah yang memiliki prospek kuat. Di sisi lain, diversifikasi sektor, kelompok debitur, mata uang, dan sumber pendanaan juga perlu diperkuat agar pertumbuhan kredit lebih stabil dan tidak bergantung pada investasi dari satu negara," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×