kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.120.000   -48.000   -1,52%
  • USD/IDR 16.805   19,00   0,11%
  • IDX 8.330   97,40   1,18%
  • KOMPAS100 1.165   25,83   2,27%
  • LQ45 834   20,52   2,52%
  • ISSI 298   2,18   0,74%
  • IDX30 430   8,24   1,96%
  • IDXHIDIV20 510   9,16   1,83%
  • IDX80 129   2,93   2,32%
  • IDXV30 139   2,61   1,92%
  • IDXQ30 139   3,06   2,26%

Persaingan Makin Ketat, Jumlah Nasabah Aktif Bank Digital Tidak Sampai 50%


Jumat, 30 Januari 2026 / 18:01 WIB
Persaingan Makin Ketat, Jumlah Nasabah Aktif Bank Digital Tidak Sampai 50%
ILUSTRASI. PT Allo Bank Indonesia Tbk (Dok/AlloBank) Di saat bank digital terus memacu pertumbuhan nasabah yang dimiliki, ternyata jumlah nasabah aktifnya tak seberapa. ?


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di saat bank digital terus memacu pertumbuhan nasabah yang dimiliki, ternyata jumlah nasabah aktifnya tak seberapa. Sejumlah bank mengaku jumlah nasabah aktifnya tidak sampai 50%. Tampaknya ini merupakan imbas dari banyaknya jumlah bank digital yang ada.

Ambil contoh, PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI) mencatat nasabah aktif mencapai 40-45% dari keseluruhan nasabah. Nasabah aktif yang dimaksud dalam hal ini adalah mereka yang melakukan transaksi selama 30 hari terakhir.

Jumlah nasabah di Krom Bank hingga September 2025 lalu tumbuh 2,3x lipat atau bisa dikatakan meningkat 230%, meskipun angka spesifik total nasabah tidak disebutkan.

Walau demikian, Direktur Utama Krom Bank, Anton Hermawan, menyebutkan bahwa jumlah nasabah aktif tumbuh signifikan secara tahunan dan bahkan melampaui laju pertumbuhan total pendaftar.

Baca Juga: BSI Gandeng Kadin Jalin Kerja Sama Strategis Dorong UMKM Naik Kelas

“Hingga akhir 2025, tingkat keaktifan nasabah Krom Bank telah mencapai sekitar 40%–45% dari total nasabah,” ujar Anton kepada kontan.co.id, Jumat (30/1).

Menurutnya, capaian ini menjadi indikator kuat bahwa fitur serta manfaat transaksi yang ditawarkan Krom Bank semakin relevan dan menarik bagi nasabah baru.

Anton menjelaskan, tingginya rasio nasabah aktif menunjukkan bahwa pengguna tidak hanya mendaftar, tetapi juga langsung menjadikan Krom sebagai platform perbankan utama dalam aktivitas finansial sehari-hari. Hal ini turut didukung oleh pengembangan fitur dan produk yang semakin lengkap.

Seiring dengan itu, frekuensi transaksi nasabah Krom Bank juga menunjukkan tren peningkatan yang stabil. Pertumbuhan ini didorong oleh penambahan berbagai fitur pembayaran tagihan serta perluasan produk yang memudahkan kebutuhan transaksi harian nasabah.

Untuk menjaga dan meningkatkan keaktifan pengguna, Krom Bank secara konsisten menjalankan berbagai program promo dan loyalitas. Namun, Anton menegaskan bahwa fokus utama perseroan bukan sekadar mendorong transaksi jangka pendek.

“Fokus kami adalah menghadirkan user experience yang simpel, relevan, dan memberikan nilai tambah sejak transaksi pertama,” ujarnya.

Selain itu, Krom Bank juga mengoptimalkan strategi insentif dan program referral guna mendorong nasabah eksisting untuk terus bertransaksi sekaligus memperluas akuisisi pengguna baru. Strategi ini diharapkan mampu menopang pertumbuhan berkelanjutan, baik dari sisi jumlah nasabah maupun aktivitas transaksi ke depan.

"Dengan pendekatan tersebut, Krom Bank optimistis dapat terus memperkuat posisinya sebagai bank digital yang menjadi pilihan utama nasabah dalam mengelola kebutuhan finansial sehari-hari," imbuhnya.

Tak banyak berbeda, PT Allo Bank Indonesia Tbk memiliki sekitar 4,9 juta nasabah dari total nasabah yang mereka miliki sebanyak 14 juta. Artinya, hanya sekitar 35% dari total nasabah mereka yang aktif bertransaksi di Allo Bank.

Digital Strategy Head Allo Bank, Destya D. Pradityo, mengatakan, tingkat keaktifan nasabah relatif sehat di tengah fenomena industri bank digital, di mana pertumbuhan jumlah rekening kerap lebih cepat dibandingkan tingkat penggunaan aktif.

Menurutnya, secara industri kondisi tersebut memang umum terjadi, khususnya pada fase awal pertumbuhan bank digital. Banyak nasabah membuka rekening karena promo atau insentif, namun belum langsung menjadikannya sebagai akun transaksi utama.

“Di Allo Bank, kami tidak hanya melihat total rekening terdaftar, tetapi lebih menekankan pada metrik active users dan nasabah dengan transaksi rutin,” ujar Destya.

Saat ini, persentase nasabah aktif Allo Bank berada di kisaran 35%, atau relatif sehat dibandingkan rata-rata industri bank digital. Destya menambahkan, rasio tersebut menunjukkan tren yang terus membaik seiring dengan penguatan ekosistem dan pengembangan fitur transaksi.

Dari sisi aktivitas, rata-rata nasabah aktif Allo Bank melakukan sekitar 6–12 transaksi per bulan, mencakup transfer, pembayaran QRIS, top-up, hingga transaksi di merchant dalam ekosistem Allo. Frekuensi transaksi per pengguna juga menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, yang mencerminkan perbaikan engagement.

Menurut Destya, dalam model bisnis bank digital, tingkat engagement memiliki peran yang jauh lebih penting dibandingkan sekadar jumlah akun. Semakin tinggi frekuensi transaksi, semakin besar peluang monetisasi dan retensi jangka panjang.

Untuk meningkatkan aktivasi dan reaktivasi nasabah, Allo Bank menjalankan sejumlah strategi berbasis data. Pendekatan ini meliputi segmentasi nasabah berdasarkan perilaku transaksi, personalisasi penawaran dan notifikasi, hingga penguatan integrasi dengan merchant dalam ekosistem.

Selain itu, Allo Bank juga terus meningkatkan pengalaman pengguna melalui penyederhanaan alur transaksi, peningkatan kecepatan aplikasi, serta pengembangan fitur yang relevan dengan kebutuhan harian. Strategi cross-selling produk simpanan dan kredit, seperti deposito digital dan PayLater, turut dimanfaatkan untuk mendorong keaktifan nasabah.

“Bagi kami, aktivasi bukan hanya soal promo, tetapi soal relevansi dan kenyamanan penggunaan,” jelas Destya.

Terkait implikasi nasabah yang tidak aktif, Destya mengakui adanya beban biaya, terutama dari sisi biaya akuisisi, operasional sistem, serta opportunity cost karena tidak menghasilkan pendapatan. Meski demikian, struktur biaya bank digital dinilai lebih fleksibel dibandingkan bank konvensional karena tidak dibebani jaringan cabang fisik.

Ke depan, Allo Bank menegaskan fokusnya bukan sekadar menekan biaya, melainkan memastikan setiap nasabah yang diakuisisi memiliki potensi untuk diaktivasi dan dimonetisasi secara berkelanjutan, dengan tujuan meningkatkan lifetime value per nasabah.

Adapun Direktur Program dan Kebijakan Prasasti Center for Policy Studies Piter Abdullah menilai, rata-rata tingkat keaktifan nasabah bank digital yang masih di bawah 50% dari total rekening mencerminkan karakteristik basis nasabah sekaligus kondisi ekonomi rumah tangga saat ini. 

Menurut Piter, mayoritas nasabah bank digital masih berasal dari segmen ritel kecil, bukan nasabah besar atau korporasi. Aktivitas transaksi segmen ini sangat bergantung pada daya beli dan kondisi keuangan rumah tangga, yang belakangan belum sepenuhnya pulih.

“Nasabah bank digital itu sebagian besar nasabah kecil, ritel. Aktivitas mereka sangat dipengaruhi daya beli dan kondisi keuangan. Kalau kondisi ekonomi kelompok bawah sedang tertekan, ya wajar kalau tingkat keaktifannya rendah,” ujar Piter.

Ia menilai fenomena rendahnya rasio nasabah aktif juga menjadi cerminan bahwa kondisi perekonomian, khususnya di kelompok masyarakat menengah bawah, belum sepenuhnya membaik. Penurunan daya beli rumah tangga turut menahan frekuensi transaksi nasabah digital.

Meski demikian, Piter menilai rendahnya keaktifan nasabah tidak serta-merta menjadi beban besar bagi bank digital. Dampaknya lebih terasa pada kemampuan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), yang menjadi tantangan utama bank-bank digital.

“Tantangan utama bank digital itu mengumpulkan DPK. Basis nasabah mereka masih terbatas dan mayoritas belum punya dana besar. Ini bukan cuma dialami bank digital, tapi juga bank-bank kecil secara umum,” jelasnya.

Ke depan, Piter menekankan bahwa bank digital tidak bisa memaksa nasabah untuk aktif bertransaksi, karena hal itu sangat bergantung pada kondisi keuangan masing-masing individu. Strategi yang lebih realistis adalah memperluas basis pasar.

Saat ini, pasar bank digital masih terkonsentrasi pada segmen Gen Z dan milenial muda, yang secara karakteristik belum mapan secara finansial dan memiliki loyalitas rendah. “Gen Z dan milenial ini masih early career, penghasilannya belum stabil, dan mudah berpindah. Itu karakter dasarnya,” kata Piter.

Karena itu, ia mendorong bank digital untuk mulai memperluas target pasar ke segmen yang lebih mapan, seperti milenial senior hingga Gen X, yang memiliki pendapatan lebih stabil dan potensi dana lebih besar.

“Kalau ingin meningkatkan jumlah rekening aktif, bank digital harus memperluas segmen. Masuk ke Gen X atau segmen yang sudah mapan. Tantangannya memang bagaimana cara menarik segmen ini,” pungkas Pitter.

Baca Juga: Tak Sekadar Tambah Rekening, Allo Bank Fokus Genjot Aktivasi Nasabah

Selanjutnya: BRI Life Perkuat Ekosistem Asuransi Lewat Transformasi Digital

Menarik Dibaca: Bitcoin cs Tiarap karena Sikap The Fed, Investor Disarankan Lakukan Ini!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×