kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.764.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.680   99,00   0,56%
  • IDX 6.599   -124,08   -1,85%
  • KOMPAS100 874   -18,96   -2,12%
  • LQ45 651   -6,79   -1,03%
  • ISSI 238   -4,84   -1,99%
  • IDX30 369   -2,15   -0,58%
  • IDXHIDIV20 456   0,25   0,05%
  • IDX80 100   -1,80   -1,77%
  • IDXV30 128   -1,20   -0,93%
  • IDXQ30 119   -0,20   -0,17%

Aksi Korporasi Bank Asing Kembali Semarak, Bagaimana Kinerjanya di Indonesia?


Senin, 18 Mei 2026 / 19:24 WIB
Aksi Korporasi Bank Asing Kembali Semarak, Bagaimana Kinerjanya di Indonesia?
ILUSTRASI. Dana Nasabah: Pelayanan nasabah di BAnk CIMB Niaga, Jakarta (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peran bank asing di industri perbankan nasional kembali menguat di tengah maraknya aksi korporasi dan ekspansi bisnis sejumlah bank global di Indonesia.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2026, pangsa pasar bank asing dan kantor cabang bank asing mencapai 23,75% dari total aset industri perbankan nasional dan 21,02% dari total kredit.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, keberadaan bank asing masih memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan industri jasa keuangan nasional.

“Keberadaan institusi perbankan dengan afiliasi regional maupun global diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi pengembangan industri jasa keuangan nasional,” ujar Dian dalam jawaban tertulis, Senin (18/5).

Baca Juga: Quiet Investing Jadi Strategi Investasi Tenang di Tengah Pasar Dinamis

Menurut Dian, bank asing memiliki peran strategis terutama dalam penyaluran kredit valuta asing untuk mendukung aktivitas ekspor-impor, memfasilitasi foreign direct investment (FDI), hingga pembiayaan proyek-proyek besar.

“Bank asing juga berperan dalam menganalisis dan memitigasi risiko investasi serta memperkuat alternatif struktur pendanaan sehingga memberikan keyakinan bagi investor,” jelasnya.

Meski demikian, struktur industri perbankan nasional masih didominasi bank domestik, khususnya kelompok Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

Aksi korporasi bank asing pun semakin ramai. Terbaru, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) dan MUFG Bank Ltd menandatangani nota kesepahaman untuk menjajaki integrasi operasional Danamon dengan MUFG Indonesia.

Jika terealisasi, integrasi tersebut akan melahirkan entitas dengan total aset gabungan sekitar Rp 489,15 triliun.

Per Maret 2026, Danamon memiliki total aset konsolidasian sebesar Rp 279,93 triliun, sedangkan MUFG Indonesia mencatat aset Rp 209,22 triliun.

Rencana integrasi tersebut masih menunggu persetujuan regulator dan pemegang saham, dengan target efektif pada 2027.

Kinerja Danamon sendiri masih tumbuh solid. Pada kuartal I-2026, laba bersih Danamon mencapai Rp 1,1 triliun atau naik 35% secara tahunan (year on year/yoy).

Sementara total kredit dan trade finance tumbuh 9% yoy menjadi Rp 216,2 triliun, didorong segmen enterprise banking dan financial institution yang naik 11%, UMKM 9%, konsumer 7%, serta Adira Finance 5%.

Direktur Utama Danamon Nobuya Kawasaki mengatakan capaian kuartal I menjadi fondasi penting untuk menjaga momentum pertumbuhan tahun ini.

“Danamon berkomitmen tetap menjadi penyedia solusi finansial yang mendapatkan kepercayaan nasabah serta terus berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga: OJK Ungkap Sejumlah Tantangan yang Dihadapi Industri Dana Pensiun

Selain Danamon, PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) juga agresif memperluas bisnis melalui akuisisi bisnis retail banking dan wealth management HSBC Indonesia.

Akuisisi tersebut mencakup portofolio wealth management, simpanan nasabah, kartu kredit, hingga kredit ritel dengan total asset under management (AUM) sekitar Rp 89,8 triliun.

Setelah transaksi rampung pada kuartal II-2027, AUM OCBC diperkirakan naik sekitar 25% dan saldo kartu kredit berpotensi melonjak lebih dari 150%.

Presiden Direktur OCBC Indonesia Parwati Surjaudaja mengatakan langkah tersebut menjadi strategi memperkuat posisi perseroan di bisnis wealth management.

“Kami melihat momentum pertumbuhan yang tetap terjaga di awal tahun 2026, baik dari sisi intermediasi maupun penghimpunan dana,” ujar Parwati.

Pada kuartal I-2026, laba bersih OCBC tercatat sebesar Rp 1,36 triliun atau tumbuh 5% yoy. Adapun total asetnya mencapai Rp 312,9 triliun dengan penyaluran kredit Rp 171 triliun.

Sementara itu,  Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan mengatakan, kinerja perseroan hingga kuartal I-2026 masih sesuai target keuangan yang telah ditetapkan pemegang saham.

Sebagai informasi, pada kuartal I-2026, laba bersih CIMB Niaga mencapai Rp 1,76 triliun, walaupun capaian ini terlihat turun 2,22% yoy. Adapun penyaluran kredit bank CIMB NIAGA tercatat mencapai Rp 235,1 triliun, atau tumbuh 2,2% yoy. Adapun total aset konsolidasian CIMB Niaga tercatat Rp368,2 triliun per Maret 2026.

Lani mengatakan, CIMB Niaga sebagai universal bank tetap menggarap seluruh segmen bisnis mulai dari korporasi, ritel hingga UMKM.

“Sampai kuartal I tahun ini kinerja kami baik dan sesuai target financial,” ujar Lani.

Meski demikian, Lani mengakui permintaan kredit masih cenderung lemah sehingga likuiditas perbankan relatif longgar. Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap margin bunga masih cukup terasa, terutama pada segmen ritel dan UMKM.

Untuk menjaga profitabilitas, CIMB Niaga kini lebih fokus memperbesar pendapatan berbasis komisi atau fee based income (FBI).

“Kami fokus di pendapatan non bunga atau fee income untuk menggantikan kekurangan dari pendapatan bunga sehingga fee income ratio sudah mencapai di atas 33%,” jelasnya.

Selain itu, perseroan juga menjaga efisiensi operasional dengan cost to income ratio (CIR) di level 45%-47%, serta mempertahankan kualitas aset dengan rasio kredit bermasalah (NPL) di bawah 1,9%, lebih baik dibanding rata-rata industri.

Lani menambahkan, strategi memperkuat customer experience melalui layanan digital dan pendekatan customer centricity juga terus dilakukan untuk memperluas pangsa pasar di tengah persaingan dengan bank lokal.

Setali tiga uang, Direktur Kepatuhan PT Bank Oke Indonesia Tbk Efdinal Alamsyah mengatakan, kinerja perseroan sejauh ini juga masih sejalan dengan ekspektasi pemegang saham.

Pada kuartal I-2026, kinerja laba OK Bank melonjak 112,54% yoy menjadi Rp 64,67 miliar. Asetnya juga tumbuh 12,15% yoy menjadi Rp 13,73 triliun. Adapun penyaluran kredit OK Bank tumbuh 7,45% yoy menjadi Rp 10,44 triliun.

Menurut Efdinal, perseroan memilih strategi pertumbuhan yang lebih selektif dan tidak terlalu agresif.

“Kami fokus pada segmen korporasi dan komersial, sekaligus tetap mengembangkan portofolio ritel dengan prinsip risiko yang terkendali,” ujar Efdinal.

Ke depan, Bank Oke Indonesia akan tetap fokus pada pertumbuhan aset yang sehat dan efisiensi operasional sambil menunggu arahan pemegang saham terkait potensi aksi korporasi.

Efdinal menilai, ruang ekspansi bank asing di Indonesia masih cukup besar meski persaingan industri semakin ketat.

“Ruang ekspansi tetap besar meskipun kompetisi ketat. Kami memperluas pasar melalui pemilihan segmen yang tepat, penguatan kualitas layanan, dan operasional yang efisien,” katanya.

Baca Juga: Bank Ramai-Ramai Parkir Dana di SRBI Saat Penyaluran Kredit Masih Tertahan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×