kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Transaksi business matching di FESyar KTI 2019 menembus Rp 2,6 triliun


Minggu, 15 September 2019 / 15:25 WIB

Transaksi business matching di FESyar KTI 2019 menembus Rp 2,6 triliun


KONTAN.CO.ID - BANJARMASIN. Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia (FESyar KTI) yang diselenggarakan Bank Indonesia mempertemukan pelaku usaha, investor, pembiayaan, dan pihak yang terkait untuk menuju kesepakatan bisnis dengan model syariah.

Dari kegiatan ini transaksi business matching yang mencapai kesepakatan mencapai Rp 2,6 triliun. Sementara, capaian pada tahun lalu sebesar Rp 1,7 triliun.

Baca Juga: Meski kue uang elektronik dikerubuti, perbankan tetap bisa unjuk gigi

Hasil ini sebelumnya telah diprediksi Deputi Gubernur Bank Indonesia, Rosmaya Hadi yang membuka rangkaian acara tersebut. Awalnya Rosmaya memprediksi total business matching yang terjadi sekitar Rp 1,4 triliun. Namun, pihaknya juga yakin bahwa jumlahnya bisa capai Rp 2 triliun melihat banyaknya investor dan potensi produk yang dapat diekspor.

“Untuk besaran transaksi pada kegiatan ekspo dan pameran sebesar Rp 5,34 miliar. Sementara, jumlahnya tahun lalu Rp 2,2 miliar,” kata Direktur Eksekutif Bank Indonesia Wilayah Kalimantan Herawanto.

Secara rinci, transaksi tersebut terdiri dari transaksi tunai sebesar Rp 1,78 miliar, transaksi non tunai sebesar Rp 1,68 miliar, dan melalui akad sebesar 1,9 miliar. Hasil tersebut merupakan kontribusi dari 41.518 pengunjung yang datang ke lokasi mulai dari 12 sampai 14 September 2019.

Pihaknya menjelaskan, dalam acara ini terdapat 44 booth yang mengisi FESyar KTI di Hall Atrium Duta Mall Banjarmasin. Beberapa booth berasal dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kawasan Timur Indonesia, pemerintah kota Banjarmasin dan Provinsi Kalimantan Selatan, perbankan syariah, pondok pesantren, universitas, lembaga pendukung ekonom syariah (LAZ, BAZNAS, BWI, MUI, KNKS, BPJPH), serta UMKM.

Baca Juga: BNI dan Shinhan Bank salurkan kredit sindikasi pertambangan senilai US$ 231 juta

Beberapa UKM dalam kegiatan ini juga menggunakan proses dan semangat green economy. Ini berarti produk dibuat dengan tidak merusak alam dan lingkungan. Ambil contoh, pengolahan biji kopi dengan metode zero waste.

Kemudian ada pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan baku pembuat tas dan anyaman. Intinya, semua yang dibuat menggunakan sumber daya alam terbarukan.


Reporter: Agustinus Respati
Video Pilihan


Close [X]
×