Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Infovesta Utama menyoroti pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi di tengah ketidakpastian global kian menekan kinerja bisnis perusahaan sekuritas.
Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan mengatakan, secara historis koreksi pasar saham akan diikuti oleh penurunan aktivitas transaksi yang berdampak langsung pada pendapatan sekuritas berbasis komisi.
Ia menyebut, rata-rata nilai transaksi harian pada Januari masih berada di kisaran Rp 30 triliun, namun turun menjadi sekitar Rp 23 triliun pada Maret. Bahkan pada perdagangan terakhir, nilai transaksi hanya sekitar Rp 14 triliun.
Baca Juga: OJK Catat Pembiayaan Modal Ventura per Februari 2026 Sebesar Rp 16,46 Triliun
“Hal ini mencerminkan aktivitas pasar benar-benar melambat,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (2/4/2026).
Menurut Ekky, kondisi tersebut membuat investor, khususnya ritel, menjadi lebih konservatif. Risk appetite menurun sehingga sebagian memilih menahan dana atau beralih ke instrumen yang lebih aman.
Meski demikian, ia melihat kondisi saat ini justru mulai membuka peluang bagi investor untuk melakukan bottom fishing, terutama bagi mereka yang memiliki horison investasi jangka menengah hingga panjang.
“Dengan valuasi saham yang sudah relatif murah, ini bisa menjadi momentum akumulasi secara bertahap,” tuturnya.
Di sisi lain, aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO) juga terlihat lebih sepi pada tahun ini. Ekky menilai kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh faktor pasar yang belum kondusif, tetapi juga adanya pengetatan regulasi pasca sorotan MSCI terhadap struktur pasar Indonesia.
Untuk prospek ke depan, ia menilai peluang pemulihan tetap terbuka seiring potensi membaiknya sentimen global. Menurutnya, tekanan pasar saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, seperti konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi dan kekhawatiran inflasi.
Baca Juga: Pembiayaan Fintech Lending Tumbuh 25,75% Jadi Rp 100,69 Triliun per Februari 2026
Namun, ia memperkirakan tekanan tersebut tidak akan berlangsung lama. Jika tensi geopolitik mereda dan harga komoditas kembali stabil, maka IHSG berpeluang pulih dan mendorong kembali aktivitas transaksi di pasar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













