kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.805.000   -25.000   -0,88%
  • USD/IDR 17.310   97,00   0,56%
  • IDX 7.379   -163,01   -2,16%
  • KOMPAS100 1.004   -27,06   -2,62%
  • LQ45 716   -20,09   -2,73%
  • ISSI 267   -5,87   -2,15%
  • IDX30 393   -8,15   -2,03%
  • IDXHIDIV20 483   -9,27   -1,88%
  • IDX80 112   -3,07   -2,66%
  • IDXV30 140   -1,20   -0,85%
  • IDXQ30 126   -2,76   -2,14%

Transmisi Suku Bunga Kredit Masih Mandek, Pertumbuhan Kredit Bisa Terganggu


Kamis, 23 April 2026 / 20:51 WIB
Transmisi Suku Bunga Kredit Masih Mandek, Pertumbuhan Kredit Bisa Terganggu
ILUSTRASI. Meski suku bunga acuan sudah banyak turun, penurunan suku bunga kredit masih terbatas. K (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Era suku bunga rendah belum merata terjadi di industri perbankan. Nyatanya, meski suku bunga acuan sudah banyak turun, tapi penurunan suku bunga kredit masih terbatas. Pada gilirannya, kondisi ini berpotensi turun menghambat pertumbuhan kredit. 

Bank Indonesia (BI) masih mempertahankan BI rate di level 4,25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026. Meski ditahan, sebenarnya level ini sudah mencerminkan penurunan sebesar 125 bps sejak awal tahun lalu. 

Namun, transmisinya masih terbatas. Lihat saja, per Maret 2026 suku bunga kredit baru turun 44 bps pada sejak Januari 2025. 

Menurut Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi, sektor perbankan memang seringkali menjadi mata rantai yang paling lambat merespons penurunan suku bunga acuan. Di antaranya lantaran ada jeda waktu antara penurunan suku bunga dengan jatuh tempo deposito lama. 

Baca Juga: Jalankan Stress Test, BCA Tetap Optimistis Dalam Menghadapi Gejolak Global

Di luar itu, Rahma bilang pada dasarnya bank juga memiliki berbagai penilaian untuk menentukan suku bunga kredit, termasuk soal risiko debitur. “Jika bank menilai risiko gagal bayar masih tinggi akibat kondisi ekonomi global atau domestik yang tidak pasti, bank akan menjaga premi risiko tetap tinggi,” jelas Rahma kepada Kontan, Kamis (23/4/2026). 

Maka dari itulah, Rahma bilang transmisi suku bunga umumnya paling terbatas pada sektor-sektor rentan seperti UMKM dan sektor konsumtif. 

Di samping itu, Rahma melihat pilihan bank menahan suku bunga kredit juga diambil untuk menjaga margin keuntungan. Ia bilang saat ini biaya operasional perbankan domestik masih relatif tinggi dibanding negara tetangga. Makanya, untuk menjaga profitabilitas, tingkat suku bunga tetap dipertahankan di level tinggi. 

Pada gilirannya, Rahma bilang fenomena transmission lag saat ini bisa mempengaruhi penyaluran kredit. Dari nasabah korporasi, itu bisa menimbulkan aksi wait and see dalam permintaan kredit. Malah, korporasi bisa saja beralih ke sumber pendanaan lain macam obligasi. 

Baca Juga: BTN Tak Bagi Dividen 2025 dan Pilih Akuisisi Kredit Jumbo

“Kalau transmisi terus tersumbat, pertumbuhan kredit berisiko melambat ke batas bawah 8% karena biaya pinjaman masih dianggap mahal oleh pelaku usaha,” jelas Rahma. 

Sejalan dengan itu, perbankan juga terpantau menahan suku bunga dasar kredit (SBDK). Sebut saja BCA yang mencatatkan SBDK di rentang 6,85% - 8,89% per akhir Maret 2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, SBDK bank ada di level 7,84% - 9,47%.

EVP Corporate Communication BCA Hera F. Heryn bilang, dalam menentukan kebijakan suku bunga, pihaknya selalu mencermati parameter makroekonomi lain, kondisi likuiditas sektor perbankan, serta situasi pasar termasuk permintaan dan penawaran yang ada. 

Baca Juga: 120 Tahun Melintasi Zaman, Jejak Panjang Bank Woori Saudara

Seiring dengan itu, bank senantiasa mendorong penyaluran kredit ke berbagai segmen dan sektor dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian serta penerapan manajemen risiko yang disiplin. Hingga kuartal I-2026, total kredit BCA tumbuh 5,6% yoy menjadi Rp 994 triliun.

“Sebagai tambahan, LAR BCA tercatat sebesar 5,1% pada kuartal I 2026 lebih rendah dibandingkan 6,0% pada tahun sebelumnya. Sementara itu, NPL BCA terjaga sebesar 1,8%, pada periode yang sama,” jelasnya.

Tak beda jauh, SBDK KB Bank baru turun di kisaran 9,17%–9,72% per April 2026 dari posisi 9,5%–10% pada tahun sebelumnya. Presiden Direktur KB Bank bilang tren itu disebabkan utamanya dipengaruhi oleh biaya dana yang masih relatif tinggi, khususnya dari special rate deposan besar. 

Meski begitu, saat ini likuiditas KB Bank juga tengah mendorong peningkatan penempatan dana pada giro dan deposito korporasi. Toh, Kunardy bilang saat ini likuiditas bank masih cukup solid. 

Baca Juga: Strategi Manulife Indonesia Perluas Penetrasi Nasabah Kelas Menengah

Dalam hal penyaluran kredit, Kunardy bilang pihaknya menerapkan prinsip selektivitas yang lebih ketat, berfokus pada nasabah dengan profil risiko solid dan prospek profitabilitas jelas. Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan kualitas aset. 

Ia berbagi, secara umum segmen korporasi relatif lebih responsif terhadap penurunan suku bunga, sejalan dengan profil risiko yang lebih terjaga.

Ke depan, KB Bank menargetkan penurunan suku bunga kredit secara bertahap, terutama pada segmen korporasi dan ritel yang lebih sensitif terhadap pergerakan biaya dana dan memiliki kontribusi signifikan terhadap portofolio kredit. 

“Upaya BI dalam mendorong penurunan special rate deposito diharapkan dapat membuka ruang bagi penyesuaian suku bunga kredit yang lebih optimal, dengan tetap memperhatikan kondisi likuiditas dan keberlanjutan margin,” jelasnya. 

Senada, Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo bilang secara internal pihaknya telah melakukan penyesuaian pricing secara bertahap sejak tahun lalu. Hanya saja, besarannya relatif terbatas. 

Destya bilang dominasi deposito di komposisi DPK Allo bank menjadi sebabnya. “Dengan kondisi tersebut, ruang untuk menurunkan lending rate secara agresif menjadi terbatas karena kami tetap harus menjaga net interest margin (NIM) agar tetap berada pada level yang sehat,” katanya.

Selain itu, dari sisi aset, portofolio kredit Allo Bank masih didominasi oleh kredit ritel berbasis digital, seperti PayLater dan pinjaman konsumsi jangka pendek, yang secara karakteristik memiliki risk-adjusted return yang lebih tinggi. Makanya, faktor risk premium juga menjadi salah satu komponen utama dalam penentuan suku bunga kredit.

Namun begitu, Destya bilang sensitivitas terhadap suku bunga berbeda antar segmen. Untuk kredit dengan tenor lebih panjang atau segmen yang price-sensitive, ruang penurunan bunga memang dapat mempengaruhi demand.

Untuk portofolio Allo Bank yang mayoritas berada di short-tenor consumer lending macam PayLater, sensitivitas terhadap bunga relatif lebih rendah karena faktor utama yang dipertimbangkan nasabah adalah aksesibilitas, kecepatan approval, dan fleksibilitas pembayaran.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×