Reporter: Ade Priyatin | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menorehkan kinerja positif pada lini asuransi marine hull atau rangka kapal sepanjang tahun 2025.
"Secara umum lini ini mencatat pertumbuhan premi yang cukup baik dengan kualitas klaim yang relatif tetap terjaga," ungkap Ketua Umum AAUI Budi Herawan kepada Kontan, Sabtu (28/3/26).
Berdasarkan data AAUI, premi asuransi rangka kapal tumbuh 14,7% YoY pada tahun 2025 atau naik menjadi Rp3,65 triliun dari yang sebelumnya hanya Rp3,19 triliun.
Adapun nilai klaim yang dibayarkan meningkat menjadi Rp1,60 triliun pada 2025, dari yang sebelumnya sekitar Rp1,44 triliun pada 2024. Meski begitu, rasio klaim tercatat membaik dari 45,2% menjadi 43,9%.
Baca Juga: OJK Sebut Gejolak Geopolitik dan Tarif AS Bayangi Bisnis Asuransi Marine Cargo
Menurutnya, lini marine hull menjadi salah satu yang mencatat tren pertumbuhan positif. Hal ini terlihat dari peningkatan klaim yang tetap diimbangi perbaikan rasio klaim sehingga mencerminkan pengelolaan risiko yang baik.
Selain itu, kinerja asuransi rangka kapal pada 2025 juga didorong oleh beberapa faktor seperti terjaganya aktivitas transportasi, pelayaran, dan perdagangan yang mendukung kebutuhan perlindungan armada kapal.
Lebih lanjut, industri asuransi juga konsisten menjaga disiplin underwriting, pengelolaan akumulasi risiko, serta penerapan risk-based pricing di tengah meningkatnya eksposur risiko bencana.
Pada tahun 2026, Budi mencermati prospek marine hull masih terbuka, dengan catatan jika perdagangan, pelayaran domestik, dan pembiayaan aset maritim tetap tumbuh.
Baca Juga: OJK Catat Kinerja Premi Asuransi Marine Cargo Tertekan pada Awal Tahun Ini
Namun, sejumlah tantangan perlu diwaspadai. Misalnya kenaikan biaya perbaikan kapal, meningkatnya nilai pertanggungan, volatilitas reasuransi, risiko cuaca ekstrem, serta ketidakpastian jalur pelayaran global.
Begitu juga dengan konflik geopolitik global, terutama konflik Timur Tengah yang berpotensi menekan industri marine hull karena terganggunya jalur pelayaran strategis.
Untuk menghadapi situasi di atas, AAUI menekankan strategi yang berfokus pada penguatan seleksi risiko, pembaruan valuasi kapal secara berkala, penyesuaian tarif premi sesuai profil rute dan usia armada.
Di samping itu, mereka juga berusaha menjaga kecukupan reasuransi dan memperketat pemantauan risiko di wilayah berisiko tinggi.
"Pendekatannya tetap harus seimbang antara pertumbuhan dan kehati-hatian," kata Budi.
Baca Juga: AAUI: Konflik Timur Tengah Berpotensi Tekan Lini Asuransi Marine Cargo
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













