Reporter: Ade Priyatin | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri asuransi umum mengalami tekanan premi hingga semester I-2026.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat premi industri asuransi umum dan reasuransi turun 3,33% year on year (Yo) dari sebelumnya Rp 78,77 triliun pada Juni 2025 menjadi Rp 76,15 triliun pada Juni 2026.
Sementara itu, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia mencatat penurunan premi asuransi umum sebesar 1,6%, dari Rp 62,23 triliun pada semester I-2025 menjadi Rp 61,25 triliun semester I-2026.
Wakil Ketua AAUI Bidang Statistik, Riset, dan Analisis Heri Supriyadi mengatakan penurunan premi asuransi umum ini disebabkan karena adanya koreksi di beberapa lini usaha, salah satunya adalah asuransi properti yang turun 13,6% dari Rp 17,95 triliun pada kuartal II-2025 menjadi Rp 15,5 triliun pada kuartal II-2026.
Baca Juga: OJK Kaji Batas Bunga Gadai di Tahun 2026, Ini Tarif yang Berlaku di Budi Gadai
"Kalau dari catatan kami, setelah kami dalami di beberapa industri yang mengalami penurunan, kami memahami bahwa hal tersebut terjadi karena ada siklus tertentu yang memang berlangsung dalam satu periode, sementara proses renewal belum tercatat di sini," ujarnya dalam Konferensi Pers AAUI, Jumat (4/9/2026).
Meski begitu, AAUI masih optimistis kinerja premi masih berpotensi membaik pada paruh kedua 2026.
Menurutnya, salah satu pemicu perbaikan premi asuransi umum di sisa tahun ini adalah industri perbankan. Jika industri perbankan mengalami pertumbuhan penyaluran kredit, maka diharapkan bisa turut berdampak positif pada industri asuransi.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang relatif ditopang oleh realisasi belanja pemerintah pada triwulan III dan IV juga diharapkan bisa mendorong pertumbuhan preminya.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan mengatakan, pihaknya tetap optimistis terhadap kinerja industri asuransi umum hingga akhir tahun. Namun, AAUI tidak memasang target pertumbuhan yang terlalu agresif seperti dua digit pada tahun-tahun sebelumnya.
Menurut Budi, AAUI berharap pertumbuhan premi asuransi umum tahun ini setidaknya dapat menyamai kinerja tahun sebelumnya. Proyeksi tersebut mempertimbangkan kondisi tiga lini bisnis utama, yakni properti, kendaraan bermotor, dan asuransi kredit.
Katanya, lini properti masih mengalami kontraksi seiring berkurangnya objek yang dapat diasuransikan. Sementara itu, pertumbuhan kendaraan bermotor lebih banyak didorong oleh kendaraan listrik, sedangkan kendaraan konvensional cenderung stagnan.
Baca Juga: Asuransi Digital Bersama Siapkan Strategi untuk Dongkrak Kinerja Asuransi Perjalanan
Di sisi lain, permintaan kredit konsumtif juga belum menunjukkan penguatan signifikan. Masyarakat dinilai masih menahan diri mengambil kredit karena mempertimbangkan kemampuan pembayaran di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya menyentuh sektor riil.
“Ini semua seperti chicken and egg. Tapi kami di AAUI tetap masih berharap ke depannya. Kita selalu harus optimistis,” ujarnya.
Budi berharap pemerintah dapat mendorong perekonomian melalui efektivitas belanja modal, terutama pada kuartal III dan kuartal IV 2026. Selain itu, realisasi sejumlah asuransi wajib juga dinilai dapat menjadi salah satu pekerjaan rumah yang perlu terus didorong bersama pemerintah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














