kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.584.000   35.000   1,37%
  • USD/IDR 16.799   18,00   0,11%
  • IDX 8.945   11,20   0,13%
  • KOMPAS100 1.232   5,57   0,45%
  • LQ45 871   6,27   0,72%
  • ISSI 324   1,18   0,37%
  • IDX30 444   0,97   0,22%
  • IDXHIDIV20 521   5,04   0,98%
  • IDX80 137   0,69   0,51%
  • IDXV30 144   1,30   0,91%
  • IDXQ30 142   0,82   0,58%

AAUI Ungkap Penyebab Rasio Klaim Asuransi Kredit Tembus 85,56%


Selasa, 06 Januari 2026 / 17:44 WIB
AAUI Ungkap Penyebab Rasio Klaim Asuransi Kredit Tembus 85,56%
ILUSTRASI. Ini Respons AAUI Soal Adanya Usulan Proses Penyelamatan untuk Asuransi Bermasalah (KONTAN/Ferry Saputra) Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) membeberkan penyebab tingginya rasio klaim asuransi kredit. ?


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) membeberkan penyebab tingginya rasio klaim asuransi kredit. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, pendapatan premi asuransi umum dan reasuransi pada lini usaha kredit sebesar Rp 19,67 triliun, dengan klaim sebesar Rp 16,83 triliun per Oktober 2025. Dengan demikian, rasio klaim asuransi kredit berada pada level 85,56%. 

Ketua Umum AAUI Budi Herawan menilai penyebab tingginya rasio klaim asuransi kredit per Oktober 2025, dipengaruhi karakteristik produk asuransi kredit yang mengikuti tenor kredit, yang mana banyak pembiayaan berdurasi menengah hingga panjang. 

"Selain itu, kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih turut menekan kualitas kredit, di samping tantangan historis pada aspek underwriting, penetapan tarif premi, serta kecukupan cadangan teknis," ungkapnya kepada Kontan, Selasa (6/1).

Baca Juga: Great Eastern General Insurance Targetkan Premi Capai Rp 1,08 Triliun pada 2026

Oleh karena itu, Budi menyampaikan OJK telah memperketat pengaturan melalui POJK 20 Tahun 2023, khususnya terkait permodalan, likuiditas, dan manajemen risiko.

Memasuki 2026, Budi memperkirakan rasio klaim asuransi kredit masih berpotensi berada pada level relatif tinggi, apabila kualitas portofolio kredit belum membaik. Dia bilang faktor yang perlu diwaspadai, antara lain kondisi ekonomi, konsentrasi risiko pada sektor tertentu, serta kesesuaian antara tenor kredit dengan struktur premi dan cadangan. 

Budi menyebut sejumlah upaya perlu dilakukan industri untuk mengantisipasi tingginya rasio klaim asuransi kredit. Salah satunya adalah melakukan penguatan underwriting berbasis risiko, penyesuaian tarif premi yang mencerminkan profil risiko, perhitungan cadangan liabilitas berbasis aktuaria, serta monitoring portofolio yang lebih disiplin.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono mengatakan potensi rasio klaim pada lini asuransi kredit dipengaruhi oleh kualitas portofolio kredit yang diasuransikan, dinamika kondisi ekonomi, serta praktik underwriting dan penetapan tarif pada sebagian produk. 

Untuk merespons hal tersebut, dia bilang OJK mendorong perusahaan asuransi untuk memperkuat disiplin underwriting, menerapkan pricing yang memadai berbasis perhitungan aktuaria, serta mematuhi ketentuan pencadangan. 

Selain itu, melalui POJK 20/2023, telah diterapkan mekanisme risk sharing dengan pihak pemberi kredit, sehingga pengelolaan risiko pada produk asuransi kredit menjadi lebih seimbang dan berkelanjutan. 

Baca Juga: Dara Sarasvati Jadi Brand Ambassador, Bank Jakarta Perkuat Transaksi Global

Selanjutnya: Kapan Waktu yang Terbaik Untuk Minum Kopi? Cek Juga Waktu yang Salah

Menarik Dibaca: Hujan Pagi Lanjut Sore Hari, Cek Prakiraan BMKG Cuaca Besok (7/1) di Jakarta

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×