Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten pembiayaan, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk atau Adira Finance (ADMF) membukukan laba bersih sebesar Rp 1,54 triliun sepanjang 2025.
Berdasarkan laporan keuangan di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (19/2/2026), laba bersih ADMF terkontraksi 14% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan laba bersih Rp 1,81 triliun pada 2024.
Di sisi top line, total pendapatan Adira Finance meningkat 2,89% yoy menjadi Rp 12,13 triliun pada 2025, dari Rp 11,79 triliun pada tahun sebelumnya.
Kontributor terbesar pendapatan masih berasal dari pembiayaan konsumen yang tumbuh 5% yoy menjadi Rp 7,56 triliun, dibandingkan Rp 7,16 triliun pada 2024. Sementara itu, marjin murabahah tercatat sebesar Rp 1,71 triliun pada 2025, dari Rp 1,94 triliun pada 2024.
Baca Juga: BSI Siap Jadi Underwriter Sukuk Lewat Skema Universal Banking
Pendapatan sewa pembiayaan meningkat 58% yoy menjadi Rp 421,51 miliar, dibandingkan Rp 266,46 miliar pada tahun sebelumnya. Adapun pendapatan lain-lain tercatat sebesar Rp 2,05 triliun pada 2025, relatif stabil dibandingkan Rp 2,08 triliun pada 2024.
Sejalan dengan aktivitas usaha, total beban perseroan meningkat 6% yoy menjadi Rp 10,14 triliun pada 2025, dari Rp 9,50 triliun pada tahun sebelumnya. Sementara itu, total aset Adira Finance naik tipis 0,40% yoy menjadi Rp 38,53 triliun pada akhir 2025, dibandingkan Rp 38,37 triliun pada akhir 2024.
Chief Financial Officer Adira Finance, Sylvanus Gani mengatakan memasuki 2026, Adira menargetkan pembiayaan baru tetap tumbuh positif sehingga dapat mendorong peningkatan aset yang selanjutnya berdampak pada kenaikan pendapatan.
"Namun demikian, kami tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan guna menjaga kualitas aset tetap terjaga, sehingga diharapkan dapat mempertahankan kinerja dan tetap membukukan laba di tahun 2026," kata Gani kepada Kontan, Senin (2/3/2026).
Untuk mendorong pertumbuhan pembiayaan, Adira akan terus mengoptimalkan segmen otomotif sekaligus melakukan diversifikasi ke segmen non-otomotif. Strategi ini dijalankan melalui penguatan credit underwriting dan monitoring portofolio sejak tahap awal akuisisi, serta peningkatan kapabilitas collection guna menjaga kualitas aset.
Di sisi pendanaan, perusahaan juga mengoptimalkan diversifikasi sumber pendanaan untuk memperoleh biaya dana (cost of fund) yang lebih optimal, sehingga margin dapat dipertahankan di tengah dinamika suku bunga.
Baca Juga: Kredit BTN Januari Tumbuh 9,3%, Kuartal I Diproyeksi Tumbuh Moderat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













