Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) mengakui kenaikan biaya dana (cost of fund) mulai memberikan tekanan terhadap bisnis pembiayaan pada semester II-2026. Meski demikian, perseroan belum terburu-buru menaikkan suku bunga kredit kepada konsumen.
Direktur Utama Adira Finance I Dewa Made Susila mengatakan, secara bisnis kenaikan biaya dana seharusnya diteruskan (pass through) kepada nasabah melalui penyesuaian bunga pembiayaan. Namun, keputusan tersebut tetap mempertimbangkan sejumlah faktor, terutama daya beli masyarakat dan kondisi persaingan di industri multifinance.
"Biaya dana Adira sudah mulai meningkat sehingga seharusnya kami melakukan pass on kepada nasabah. Namun, dalam menentukan lending rate kepada konsumen, kami juga mempertimbangkan daya beli masyarakat serta tingkat persaingan," ujar Dewa dalam paparan kinerja, Kamis (30/7).
Baca Juga: Lippo General Insurance Catatkan Peningkatan Laba 12,24% pada Semester I-2026
Menurut dia, mayoritas nasabah Adira berasal dari segmen menengah hingga bawah yang relatif sensitif terhadap kenaikan cicilan. Di sisi lain, masih terdapat sejumlah perusahaan pembiayaan yang belum menaikkan suku bunga sehingga ruang penyesuaian bunga masih terbatas.
"Di beberapa segmen memang masih banyak pemain yang belum menaikkan suku bunga. Tetapi saya percaya, kenaikan suku bunga pada akhirnya akan terjadi secara bertahap karena seluruh perusahaan multifinance menghadapi tantangan yang sama, yakni kenaikan biaya dana," katanya.
Di tengah tekanan tersebut, Adira masih mencatatkan pertumbuhan penjualan kendaraan pada semester I-2026.
Berdasarkan data yang dimiliki perseroan, penjualan sepeda motor baru secara ritel meningkat sekitar 10% dibandingkan semester I-2025. Sementara itu, penjualan mobil baru secara ritel tumbuh sekitar 11% secara tahunan.
"Kalau kita lihat data semester pertama, memang mengalami kenaikan dibandingkan semester pertama tahun lalu. Penjualan motor baru naik sekitar 10%, sementara penjualan mobil baru naik sekitar 11%," ujarnya.
Meski demikian, Dewa memperkirakan kondisi pasar otomotif pada semester II-2026 akan lebih menantang dibandingkan enam bulan pertama tahun ini.
Menurutnya, kenaikan biaya dana berpotensi meningkatkan cicilan pembiayaan yang harus dibayar konsumen. Selain itu, kenaikan biaya produksi dan pelemahan nilai tukar rupiah juga diperkirakan mendorong harga kendaraan menjadi lebih mahal.
"Kondisi pada semester kedua kelihatannya akan lebih challenging karena kenaikan biaya dana akan mendorong naiknya cicilan konsumen. Selain itu, harga kendaraan juga berpotensi meningkat seiring kenaikan biaya produksi dan pelemahan rupiah," jelas Dewa.
Baca Juga: Kantongi Persetujuan OJK, Bank Danamon Resmi Mengangkat Komisaris Baru
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
