Reporter: Secillia Hafifah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah perlambatan pertumbuhan pembiayaan syariah secara industri, sejumlah perusahaan multifinance masih mencatatkan pertumbuhan positif pada segmen tersebut.
PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk atau Adira Finance (ADMF) mencatat penyaluran pembiayaan berbasis syariah mencapai sekitar Rp 7,2 triliun hingga Agustus 2026. Capaian tersebut tumbuh positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) juga tetap mencatatkan pertumbuhan pembiayaan syariah di tengah perlambatan pertumbuhan pembiayaan syariah secara industri.
Hingga Agustus 2026, piutang pembiayaan syariah CNAF mencapai Rp4,93 triliun, meningkat sekitar 21% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,08 triliun.
Baca Juga: Proses Konsolidasi Perasuransian BUMN di Bawah Danantara Masih Terus Berjalan
Chief Financial Officer Adira Finance Sylvanus Gani mengatakan, bisnis pembiayaan syariah masih memiliki ruang pertumbuhan yang luas.
Hal tersebut seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap alternatif pembiayaan yang fleksibel dan berbasis prinsip syariah. Terlebih, pangsa pasar pembiayaan syariah di industri multifinance masih relatif rendah.
“Secara umum, Adira Finance melihat peluang bisnis pembiayaan syariah masih terbuka cukup besar seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap alternatif pembiayaan yang lebih fleksibel dan berbasis prinsip syariah,” katanya kepada Kontan, Jum'at (2/10/2026).
Selain itu, pangsa pasar pembiayaan syariah di industri multifinance yang masih relatif rendah menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih luas.
Menurut Gani, peluang tersebut tidak hanya berasal dari sektor otomotif, tetapi juga dari segmen multiguna dan kebutuhan pembiayaan lainnya yang terus berkembang.
“Perusahaan melihat potensi pengembangan tidak hanya berasal dari sektor otomotif, tetapi juga dari segmen multiguna dan kebutuhan pembiayaan lainnya yang terus berkembang,” katanya.
Untuk menangkap peluang tersebut, Adira Finance akan memperluas pasar pembiayaan syariah melalui pengembangan dan inovasi produk.
Strategi tersebut mencakup penguatan ekosistem komunitas syariah, perluasan jaringan network perusahaan, hingga peningkatan penetrasi produk di segmen non-otomotif.
Gani menambahkan, Adira Finance juga akan meningkatkan retensi nasabah syariah melalui perbaikan proses layanan dan pengalaman pelanggan.
“Fokus diarahkan pada penguatan ekosistem komunitas syariah, memperluas jaringan network perusahaan, peningkatan penetrasi produk di segmen non-otomotif, serta peningkatan retensi nasabah syariah melalui perbaikan proses layanan dan pengalaman pelanggan,” pungkas Gani.
Di sisi lain, Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman mengatakan, pertumbuhan tersebut menunjukkan pembiayaan syariah masih memiliki ruang untuk berkembang. Meski demikian, CNAF tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio.
“Di tengah perlambatan pertumbuhan pembiayaan Syariah secara industri, CNAF tetap mencatatkan pertumbuhan pada segmen pembiayaan syariah. Hingga Agustus 2026, piutang pembiayaan Syariah CNAF tercatat senilai Rp4,93 triliun, meningkat sekitar 21% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,08 triliun,” ujarnya kepada Kontan, Jum'at (2/10/2026).
Menurut Ristiawan, perlambatan pembiayaan syariah secara industri tidak terlepas dari kondisi ekonomi dan industri pembiayaan secara umum.
Faktor yang memengaruhi antara lain daya beli masyarakat, dinamika industri otomotif, serta kemampuan dan kebutuhan masyarakat dalam mengambil pembiayaan.
“Dalam kondisi tersebut, konsumen juga semakin selektif dalam mengambil keputusan pembiayaan dengan mempertimbangkan kemampuan, besaran angsuran, serta kebutuhan atas aset yang dibiayai,” katanya.
Ristiawan menambahkan, pembiayaan kendaraan menjadi salah satu segmen yang menghadapi tekanan di tengah dinamika pasar.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh semakin beragamnya pilihan produk kendaraan, perubahan preferensi konsumen, serta pertimbangan yang semakin selektif dalam mengambil pembiayaan.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menutup peluang CNAF untuk terus mengembangkan pembiayaan kendaraan maupun pembiayaan syariah lainnya dengan tetap memperhatikan profil risiko dan kualitas portofolio.
“Kami melihat prospek pembiayaan syariah masih memiliki ruang pertumbuhan hingga akhir 2026. Hal ini didukung oleh kebutuhan masyarakat terhadap produk pembiayaan yang sesuai dengan prinsip syariah serta potensi pengembangan basis nasabah dan produk syariah,” jelas Ristiawan.
Ke depan, CNAF akan mengedepankan pertumbuhan pembiayaan syariah yang sehat dan berkelanjutan dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat, kondisi industri, serta kualitas portofolio.
“CNAF akan terus mengoptimalkan pertumbuhan pembiayaan Syariah secara selektif dan terukur, dengan tetap memperhatikan profil risiko dan kemampuan nasabah,” kata Ristiawan.
Di saat yang sama, CNAF akan terus memperkuat monitoring portofolio untuk memastikan pertumbuhan pembiayaan sejalan dengan terjaganya kualitas aset secara berkelanjutan.
Baca Juga: CIMB Niaga Siap Perluas QRIS Cross Border ke Hong Kong dan Arab Saudi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













