Reporter: Ade Priyatin | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) catatkan pembiayaan sepeda motor listrik mencapai Rp24 miliar hingga Juli 2026.
"Pembiayaan sepeda motor listrik Adira Finance tercatat sekitar Rp24 miliar dan menunjukkan pertumbuhan positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya," ujar Chief Financial Officer Adira Finance, Sylvanus Gani kepada Kontan, Kamis (20/8/2026).
Di sisi lain, ia mengungkapkan perusahaan memiliki standar terkait besaran bunga dan uang muka pembiayaan motor listrik yang bervariasi. Hal ini bergantung pada beberapa faktor, seperti tenor pembiayaan, profil risiko konsumen, atau bahkan program promosi atau kerja sama yang tengah berlaku.
Di sisi lain, salah satu hal yang tengah jadi perhatian adalah gagasan penurunan bunga cicilan dan pembelian motor listrik tanpa uang muka yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto saat acara peluncuran Motor Listrik Nasional (Molinas) pada Kamis (13/8/2026).
Baca Juga: Bank Mandiri Gandeng Pemprov NTT, NTB, dan Bali Tangani Bencana Lewat Mandiri Peduli
Kata Gani, perusahaan menyambut positif berbagai upaya pemerintah untuk mendorong adopsi kendaraan listrik, termasuk melalui skema pembiayaan yang makin terjangkau bagi masyarakat.
Menurutnya, inisiatif tersebut berpotensi jadi katalis bagi pertumbuhan pasar motor listrik di Indonesia yang saat ini masih relatif terbatas.
"Adira Finance menyambut positif upaya Pemerintah untuk mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik, termasuk melalui skema pembiayaan yang lebih terjangkau bagi masyarakat," katanya.
Selain itu, inisiasi ini juga diharapkan bisa memperluas akses masyarakat terhadap kendaraan listrik sekaligus mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional.
Sejalan dengan itu, terkait usulan penurunan suku bunga maupun pembiayaan tanpa uang muka untuk pembelian motor listrik juga ditanggapi secara cermat oleh Adira Finance.
Baca Juga: Dapen BTN Beberkan Beberapa Kelebihan Instrumen SRBI bagi Dana Pensiun
Perusahaan menegaskan bahwa mereka terbuka untuk melakukan penyesuaian skema pembayaran sesuai dengan perkembangan kebijakan dan kondisi pasar nantinya.
Namun, Gani menegaskan bahwa penerapan skema pembiayaan tersebut tetap perlu mempertimbangkan sejumlah faktor, mulai dari biaya pendanaan, profil dan risiko kredit konsumen, kondisi pasar, hingga ketentuan regulator.
Di samping itu, mereka juga tetap akan mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan pembiayaan serta memperhatikan keberlanjutan bisnis yang sehat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














