kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.935   -9,00   -0,05%
  • IDX 5.896   -102,90   -1,72%
  • KOMPAS100 764   -13,28   -1,71%
  • LQ45 584   -4,02   -0,68%
  • ISSI 203   -5,25   -2,52%
  • IDX30 331   -1,77   -0,53%
  • IDXHIDIV20 408   -0,87   -0,21%
  • IDX80 87   -1,24   -1,41%
  • IDXV30 110   -1,47   -1,32%
  • IDXQ30 107   -0,13   -0,12%

Akses Finansial Digital Meluas, UATAS dan AFPI Dorong Gen Z Melek Keuangan


Jumat, 26 Juni 2026 / 17:38 WIB
Akses Finansial Digital Meluas, UATAS dan AFPI Dorong Gen Z Melek Keuangan
ILUSTRASI. Ilustrasi Keuangan Digital (KONTAN/Muradi)


Reporter: kompas.com | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perkembangan layanan keuangan digital membuka peluang besar bagi industri fintech, namun juga menghadirkan tantangan baru dalam perilaku keuangan masyarakat, terutama generasi Z. 

Kemudahan transaksi, tren belanja online, hingga layanan paylater dinilai dapat mendorong perilaku konsumtif apabila tidak diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai.

Direktur Pengembangan Bisnis PT Plus Ultra Abadi (UATAS) Shintya Maulida mengatakan, kemampuan mengelola keuangan menjadi keterampilan penting bagi generasi muda, khususnya mahasiswa yang sebagian besar berasal dari kelompok Gen Z.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, jumlah Gen Z di Indonesia mencapai sekitar 75 juta jiwa atau hampir 28% dari total populasi nasional. 

Baca Juga: Tren Baru Gen Z: Simpan Uang di E-Wallet untuk Belanja hingga Bayar Tagihan

Besarnya populasi tersebut membuat kebiasaan finansial kelompok ini berpengaruh terhadap kualitas literasi dan kesehatan keuangan nasional ke depan.

"Digitalisasi memberi tantangan bagi generasi muda dalam pengelolaan keuangan, mulai dari FOMO, kemudahan transaksi digital, hingga impulse buying," ujar Shintya dalam kegiatan Pindar Mengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Malang (UNISMA), Rabu (24/6/2026).

Menurut dia, fenomena takut tertinggal tren (fear of missing out/FOMO), promosi besar-besaran, flash sale, serta kemudahan pembayaran digital menjadi faktor yang dapat membuat masyarakat mengambil keputusan belanja tanpa perencanaan.

UATAS menilai kesehatan finansial tidak hanya bergantung pada besarnya pendapatan, tetapi juga kemampuan mengatur pengeluaran, menentukan prioritas, dan menyiapkan kebutuhan jangka panjang. 

Karena itu, generasi muda perlu membangun kebiasaan membuat anggaran, membatasi pengeluaran, dan mengevaluasi kondisi keuangan secara rutin.

Baca Juga: Rencana Masa Depan Hancur? Ini Dampak Penyakit Kritis Gen Z dan Milenial

Selain pengelolaan keuangan pribadi, perusahaan juga mengingatkan pentingnya penggunaan pinjaman digital secara bertanggung jawab.

Masyarakat perlu memastikan pinjaman digunakan sesuai kebutuhan dan kemampuan membayar, terutama jika dana tersebut digunakan untuk kegiatan produktif atau usaha.

Di sisi lain, peningkatan akses layanan keuangan digital masih menghadapi tantangan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan. 

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BPS, indeks literasi keuangan nasional tercatat 66,46%, sementara inklusi keuangan mencapai 80,51%.

Data tersebut menunjukkan penggunaan layanan keuangan berkembang lebih cepat dibandingkan pemahaman masyarakat terhadap manfaat dan risikonya. 

UATAS juga menyoroti pentingnya keamanan data pribadi di tengah meningkatnya aktivitas finansial digital.

Mahasiswa sebagai generasi yang dekat dengan teknologi dinilai memiliki peluang besar memanfaatkan layanan digital secara produktif, tetapi tetap perlu memahami risiko keamanan siber.

Baca Juga: 5 Kebiasaan Penggunaan Kartu Kredit yang Bikin Keuangan Gen Z dan Milenial Berantakan

Melalui program Pindar Mengajar yang digelar bersama Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), UATAS mendorong peningkatan literasi keuangan digital, keamanan data, serta penggunaan layanan fintech secara bertanggung jawab.

Dari sisi bisnis, UATAS mencatat total pendanaan yang telah disalurkan sejak berdiri mencapai Rp34,27 triliun. Hingga tahun berjalan, penyaluran pendanaan tercatat Rp3,52 triliun dengan jumlah akumulasi peminjam mencapai 2,95 juta orang dan peminjam aktif sebanyak 210.000 orang. Sementara jumlah pemberi dana (lender) tercatat sebanyak 13 pihak.


Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/06/24/200852026/mahasiswa-rentan-fomo-dan-impulsif-literasi-keuangan-kian-penting?page=all#page2.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×