Reporter: Ferry Saputra | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asuransi Allianz Life Indonesia (Allianz Life) menilai tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Surat Berharga Negara (SBN) turut memengaruhi kinerja investasi perusahaan sepanjang periode berjalan.
Chief Investment Officer Allianz Life Indonesia, Ni Made Daryanti, mengatakan bahwa volatilitas pasar membuat hasil investasi belum sepenuhnya optimal seperti dalam kondisi normal.
"Khususnya, pada instrumen yang sensitif terhadap makro ekonomi dan sentimen pasar global maupun Indonesia," katanya kepada Kontan, Kamis (30/4).
Dalam menghadapi kondisi tersebut, Allianz Life tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dengan menjaga keseimbangan portofolio investasi. Perusahaan juga menempatkan dana secara selektif dengan pendekatan fundamental.
Baca Juga: Allianz Life Catatkan Klaim Asuransi Kesehatan Rp 522 Miliar per Februari 2026
"Selain itu, pengelolaan portofolio dilakukan secara dinamis untuk memitigasi risiko dan menjaga stabilitas hasil investasi dalam jangka menengah hingga panjang," tuturnya.
Made menambahkan, pihaknya secara berkala melakukan evaluasi terhadap perkembangan pasar dan kinerja portofolio. Jika terjadi perubahan signifikan dan berkelanjutan, Allianz Life akan menyesuaikan strategi dengan tetap mengedepankan prinsip prudential.
"Oleh karena itu, kami terus memperhatikan kondisi ekonomi dan pasar modal, serta tetap menerapkan pendekatan fundamental. Ditambah, menerapkan strategi yang dinamis dan mengutamakan pengelolaan risiko," ucapnya.
Untuk meningkatkan kinerja investasi hingga akhir tahun, Allianz Life akan fokus pada strategi pemilihan instrumen yang relatif lebih stabil, pengelolaan risiko yang memadai, serta menjaga fleksibilitas likuiditas.
Baca Juga: Allianz Life: Asuransi Kesehatan Tetap Prospektif Meski Dihantam Inflasi Medis
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, Allianz Life mencatat total investasi sebesar Rp 30,31 triliun per Maret 2026. Instrumen SBN masih mendominasi portofolio dengan nilai Rp 14,70 triliun atau sekitar 48,5% dari total investasi.
Sementara itu, penempatan pada instrumen saham mencapai Rp 9,99 triliun atau sekitar 32,95% dari total investasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













