kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

ANZ Indonesia bantah kekeringan likuiditas


Selasa, 15 Juli 2014 / 16:16 WIB
ILUSTRASI. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mulai menjajal peluang hilirisasi batubara. KONTAN/Cheppy A. Muchlis


Reporter: Adhitya Himawan | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Bank ANZ Indonesia membantah mengalami kesulitan likuiditas. Sebagai bank campuran, Bank ANZ Indonesia mengaku memiliki peluang sumber pendanaan dari bank induk yakni Bank ANZ asal Australia dan Selandia Baru.

Joseph Abraham, CEO Bank ANZ Indonesia mengatakan bahwa bank-bank internasional seperti ANZ, sebenarnya memiliki keuntungan untuk memperoleh sumber pendanaan alternatif yang berasal dari perusahaan induknya. Hal ini membuat bank-bank tersebut memiliki likuiditas yang cukup untuk memberikan pinjaman.

Sayangnya, Joseph tak menjelaskan kondisi loan deposit ratio (LDR) ANZ saat ini. "Hanya saja likuiditas berupa pinjaman dari induk ini tidak tercermin dalam LDR," kata Joseph pada KONTAN, Kamis (10/7).

Joseph menegaskan bahwa persoalan likuiditas lebih menjadi perhatian bank-bank lokal yang memiliki akses terbatas kepada pendanaan yang berasal dari luar negeri. Selain itu kekuatan permodalan yang dimiliki bank-bank internasional cukup mendukung bank-bank tersebut dalam menyalurkan pinjaman.

"Kami sendiri selalu menjaga rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) pada posisi 16%," pungkas Joseph.

Sebagaimana diketahui, kelompok bank campuran menghadapi tren kenaikan LDR. Akibat kenaikan LDT tersebut, diduga problem likuiditas ketat juga membayangi kelompok bank ini.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2014, tingkat LDR Bank Campuran mencapai 127,58%. Naik dibanding April 2013 sebesar 115,10%.

Meningkatnya LDR bank campuran tampaknya dipengaruhi tingkat pertumbuhan kredit bank campuran yang lebih tinggi dibanding pertumbuhan dana pihak ketiganya (DPK). Total kredit bank campuran naik 23,13% menjadi Rp 201,80 triliun di April 2014 (yoy).

Sementara total DPK bank campuran naik 11,08% menjadi Rp 158,18 triliun pada April 2014 (yoy).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×