kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Menengok Mesin Pendorong Laba Bank KBMI 1 pada Kuartal I-2026


Kamis, 14 Mei 2026 / 16:00 WIB
Menengok Mesin Pendorong Laba Bank KBMI 1 pada Kuartal I-2026
ILUSTRASI. Bank Ina (Dok/Bank Ina)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah bank dalam kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 1 mencatatkan kinerja yang beragam pada tiga bulan pertama tahun ini. Sebagian tak mampu menjaga pertumbuhan kredit dan laba, sebagian getol mendorong profitabilitas melalui pendapatan non bunga. 

Salah satu bank yang berhasil menumbuhkan laba adalah PT Bank Ina Perdana Tbk, dengan catatan laba bersih sebesar Rp 52,98 miliar atau naik 268,73% secara tahunan (year-on-year/yoy) per Maret 2026.

Memang, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) bank berhasil tumbuh 8,73% yoy menjadi Rp 172,53 miliar, sejalan dengan pertumbuhan kredit 10,36% yoy menjadi Rp 14,78 triliun dan kuatnya pertumbuhan dana murah (current account saving account/CASA) yang meningkat 71,93% yoy menjadi Rp 10,03 triliun. Namun begitu, sejatinya mesin pendorong utama laba Bank Ina adalah pendapatan dari pemulihan kredit (recovery loan). Itu nampak dari melonjaknya keuntungan dari penjualan aset keuangan menjadi Rp 5,25 miliar dari posisi Rp 680 juta pada tahun lalu. 

Baca Juga: MNC Bank Siapkan Private Placement 4,45 Miliar Saham untuk Perkuat Kredit

Direktur Keuangan Bank Ina Kiung Hui Ngo menjelaskan, tahun ini bank memang berupaya mengoptimalkan setiap produk dan layanan yang ada, tak terbatas pada penyaluran kredit sebagai bisnis utama bank. 

“Memang hasil di triwulan pertama tahun ini utamanya dari recovery loan. Tapi kami juga mencatat fee based income (pendapatan komisi) dari produk dan layanan yang kami miliki itu mengalami peningkatan,” jelas Kiung dalam paparan publik di Jakarta, Rabu (13/5/2026). 

Untuk tahun ini, Bank Ina optimistis kinerja intermediasi tetap mampu dijaga. Bank menyasar sektor-sektor usaha yang dinilai masih prospektif bertumbuh di tengah ketidakpastian global saat ini, sekaligus memanfaatkan jaringan ekosistem Grup Salim. 

Agak berbeda, PT Bank Raya Indonesia Tbk justru mencatatkan koreksi laba meski NII bank berhasil tumbuh. Yang mana, laba bersih anjlok 59,87% yoy menjadi Rp 6,79 miliar per Maret 2026, sementara NII tumbuh 19,91% yoy menjadi Rp 195,83 miliar. Capaian NII ini nampak selaras dengan pertumbuhan kredit digital bank sebesar 29% yoy menjadi Rp 8,14 triliun. 

Jika ditelisik, turunnya laba Bank Raya salah satunya disebabkan oleh basis tinggi pada salah satu pos pendapatan operasional, yakni keuntungan dari peningkatan nilai wajar aset keuangan yang pada tahun lalu mencapai Rp 6,06 miliar sementara tahun ini hanya Rp 711 juta. Belum lagi, beban impairment (pencadangan) bank yang naik 29,09% yoy menjadi Rp 49,14 miliar. 

Direktur Utama Bank Raya Ide Bagus Ketut Subagia menjelaskan, hasil kinerja kuartal I-2026 ini merupakan hasil strategi transformasi bank yang dilakukan secara terukur dan berkelanjutan. Tahun ini, pihaknya mengandalkan inovasi digital untuk mendorong kinerja secara keseluruhan. 

“Kami akan memperkuat sinergi ekosistem guna membuka peluang pertumbuhan baru di berbagai segmen,” imbuh Bagus. Berbagai inisiatif disiapkan bank untuk mendorong kinerja tahun ini, di antaranya dengan meluncurkan program penghargaan terhadap nasabah dan optimalisasi fitur QRIS. 

Sementara itu, PT Bank Neo Commerce Tbk mencatatkan penurunan laba yang sejalan dengan NII dan kredit. Rinciannya, laba bersih BNC turun 14,36% yoy menjadi Rp 136,98 miliar dan NII turun 11,19T% yoy menjadi Rp 548,13 miliar sejalan dengan penurunan kredit 17,24% yoy menjadi Rp 8,49 triliun. 

Direktur Utama BNC Eri Budiono menjelaskan, pada dasarnya bank memang kini menjaga penyaluran kredit agar lebih berkualitas di tengah tingginya ketidakpastian. Itu tercermin pula pada rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) yang terjaga rendah di level 0,43%.

Dus, BNC bakal fokus mendorong pertumbuhan kredit di segmen digital ritel secara hati-hati dan memperkuat ekosistem digital perusahaan. Eri bilang pihaknya optimistis tren kinerja yang masih dalam koridor positif dalam dua tahun terakhir bakal berlanjut hingga akhir tahun nanti. 

Tahun ini bank juga bersiap meluncurkan produk buy now pay later (BNPL) sebagai bagian dari upaya bank memperluas akses pembiayaan. 

Agak berbeda, PT Bank Oke Indonesia Tbk (OK Bank) berhasil mendorong kinerja kredit dan operasionalnya, sehingga laba turut terdorong masif. 

Selama kuartal I-2026, OK Bank berhasil mencetak raihan laba sebesar Rp 64,67 miliar, melonjak hingga 112,54% yoy. Hal itu sejalan dengan NII yang tumbuh 22,86% yoy menjadi Rp 200,41 miliar dan kredit yang tumbuh 7,44% yoy menjadi Rp 10,48 triliun. 

Di samping itu, pendapatan komisi/provisi/fee dan administrasi juga melonjak jadi Rp 6,2 miliar dari posisi Rp 414 juta pada tahun sebelumnya. 

Sekretaris Perusahaan sekaligus Direktur Kepatuhan OK Bank Efdinal Alamsyah menyebut, pada dasarnya kondisi ekonomi dan industri perbankan masih cukup menantang tahun ini. Utamanya karena volatilitas nila tukar, suku bunga yang masih relatif tinggi, dan perlambatan pada sejumlah sektor usaha.

Maka dari itu, pihaknya tetap berhati-hati dan mengarahkan fokus utamanya untuk menjaga kualitas aset serta likuiditas. Pertumbuhan kredit bakal didorong secara selektif pada segmen yang memiliki risiko terukur, sembari memperkuat funding, meningkatkan efisiensi, dan menjaga profitabilitas secara berkelanjutan.

“Sampai saat ini target bisnis masih sesuai rencana, tetapi kami terus melakukan evaluasi secara berkala dengan mencermati perkembangan kondisi ekonomi dan pasar,” jelas Efdinal. 

Baca Juga: Investor Wait and See, Asuransi Properti Tetap Tumbuh Positif

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×