kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.900.000   50.000   1,75%
  • USD/IDR 17.015   -85,00   -0,50%
  • IDX 7.279   308,18   4,42%
  • KOMPAS100 1.006   48,66   5,08%
  • LQ45 734   31,96   4,56%
  • ISSI 261   11,11   4,45%
  • IDX30 399   16,64   4,35%
  • IDXHIDIV20 487   15,47   3,28%
  • IDX80 113   5,31   4,92%
  • IDXV30 135   4,22   3,24%
  • IDXQ30 129   4,64   3,73%

Bank Waspadai Risiko Kredit di Industri Pengolahan dan Perdagangan, Ini Alasannya


Rabu, 08 April 2026 / 18:49 WIB
Bank Waspadai Risiko Kredit di Industri Pengolahan dan Perdagangan, Ini Alasannya
ILUSTRASI. Kenaikan harga energi global di tengah gejolak geopolitik mulai menjadi perhatian perbankan, terutama terhadap sektor industri pengolahan (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kenaikan harga energi global di tengah gejolak geopolitik mulai menjadi perhatian perbankan, terutama terhadap sektor industri pengolahan dan perdagangan yang sensitif terhadap biaya produksi dan logistik. Meski demikian, penyaluran kredit ke dua sektor tersebut sejauh ini masih menunjukkan pertumbuhan yang relatif terjaga.

Survei Perbankan Bank Indonesia (BI) terbaru mencatat, pertumbuhan kredit baru pada triwulan IV 2025 meningkat di sejumlah sektor utama, antara lain Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum dengan SBT 88,53%.

Selain itu, industri Pengolahan (75,92%), Perantara Keuangan (72,53%), Transportasi, Pergudangan, dan Komunikasi (72,49%), serta Perdagangan Besar dan Eceran (63,53%).

Jika dilihat dari data BI, penyaluran kredit ke sektor industri pengolahan dan sejenisnya juga meningkat 18,9% secara tahunan di Desember 2025 menjadi Rp 400,6 triliun. Pertumbuhannya lebih tinggi dari November 2025 sebesar 18,1%.

BI juga memperkirakan penyaluran kredit baru pada triwulan I 2026 terbesar masih akan mengalir ke sektor Industri Pengolahan, Perdagangan Besar dan Eceran, serta Perantara Keuangan.

Baca Juga: Pertumbuhan Kredit Modal Kerja Masih Melambat pada Februari 2026

Ekonom Global Markets Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai kredit ke sektor pengolahan dan perdagangan masih tumbuh on track, melanjutkan tren positif sejak akhir 2025. Hal ini ditopang oleh stabilitas harga energi domestik yang masih dijaga pemerintah.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per Desember 2025 kredit ke sektor industri pengolahan tumbuh 5,94% secara tahunan (year on year/yoy), dengan porsi 15,08% dari total kredit. Sementara sektor perdagangan tumbuh 3,88% yoy dengan porsi 14,50%.

“Kedua sektor ini tetap menjadi motor kredit produktif, meski lajunya lebih moderat dibandingkan sebelumnya,” ujar Myrdal kepada kontan.co.id, Rabu (8/4).

Namun, ia mengingatkan risiko tetap perlu diwaspadai. Kenaikan harga energi global berpotensi meningkatkan biaya produksi dan logistik, yang pada akhirnya dapat menekan margin usaha dan kemampuan bayar debitur.

Dari sisi kualitas aset, risiko kredit di kedua sektor tersebut masih tergolong terkendali. OJK mencatat rasio kredit bermasalah (NPL) masih berada di bawah ambang batas 5% per akhir 2025. Secara industri, NPL gross per Februari 2026 tercatat 2,17% dengan loan at risk (LaR) sebesar 9,24%.

Myrdal memproyeksikan NPL perbankan pada 2026 tetap terjaga di kisaran 2,3%, meski ada potensi kenaikan jika tekanan inflasi dan suku bunga meningkat akibat lonjakan harga energi.

“Risiko memang ada, tetapi masih bersifat potensial dan belum meningkat signifikan. Perbankan masih cukup resilien, ditopang permodalan dan likuiditas yang kuat,” jelasnya.

Ke depan, perbankan diperkirakan tetap mendorong kredit ke sektor pengolahan dan perdagangan dengan pendekatan yang lebih selektif.

Myrdal menilai strategi utama yang perlu dilakukan bank antara lain memperketat seleksi debitur, memperkuat monitoring risiko, serta melakukan stress testing terhadap berbagai skenario kenaikan harga energi.

Selain itu, bank juga didorong untuk memanfaatkan insentif likuiditas makroprudensial serta melakukan diversifikasi portofolio, termasuk ke sektor yang lebih tahan terhadap gejolak global.

Baca Juga: OJK akan Susun 2 POJK Seiring Ada Implementasi PSAK 117 di Industri Perasuransian

“Fokusnya bukan hanya pertumbuhan, tetapi menjaga kualitas kredit agar tetap sehat di tengah ketidakpastian global,” pungkasnya.

Sejumlah bank juga menilai permintaan pembiayaan di kedua sektor tersebut masih terjaga. Direktur OK Bank, Efdinal Alamsyah, mengatakan pertumbuhan penyaluran kredit pada sektor perdagangan dan industri pengolahan relatif stabil.

Pada awal 2026, realisasi kredit OK Bank di sektor perdagangan dan industri pengolahan menunjukkan tren pertumbuhan dengan porsi sekitar 25% dari total portofolio kredit.

“Kami melihat permintaan kredit di sektor perdagangan dan industri pengolahan masih terjaga, seiring dengan pemulihan konsumsi domestik dan meningkatnya aktivitas produksi,” ujar Efdinal.

Namun, dari sisi risiko, Efdinal menilai profil risiko di sektor perdagangan dan industri pengolahan bersifat beragam. Sektor perdagangan modern seperti ritel dan distribusi skala besar dinilai cenderung lebih stabil, sementara industri pengolahan memiliki karakter siklikal yang dipengaruhi harga bahan baku dan permintaan pasar.

“Kami tidak otomatis menganggap risikonya lebih rendah. Pembiayaan tetap diarahkan kepada debitur dengan fundamental kuat, rekam jejak pembayaran yang baik, serta analisis arus kas yang solid,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie, menyampaikan permintaan pembiayaan di sektor perdagangan dan industri pengolahan masih cukup solid, terutama untuk kebutuhan modal kerja yang berkaitan langsung dengan aktivitas distribusi, produksi, dan rantai pasok.

Ia menambahkan kedua sektor tersebut juga memiliki keterkaitan kuat dengan layanan transaksi perbankan seperti trade finance, cash management, dan supply chain financing.

"Hal ini tidak hanya mendorong pertumbuhan kredit, tetapi juga meningkatkan kontribusi pendapatan berbasis komisi (fee-based income)," tambahnya.

Dari sisi risiko, Kunardy menilai sektor perdagangan dan industri pengolahan memiliki profil risiko yang relatif terukur, terutama bagi debitur dengan arus kas operasional yang jelas dan hubungan usaha yang berkelanjutan.

Baca Juga: OJK Beri 28 Sanksi Administratif pada PUJK Terkait Pelindungan Konsumen per Maret2026

Meski demikian, KB Bank tetap menerapkan prinsip kehati-hatian melalui proses underwriting yang selektif dan pemantauan risiko yang disiplin.

Pada 2026, KB Bank menargetkan pertumbuhan kredit yang selektif dan berkualitas. Dalam menggenjot kinerja, perusahaan menerapkan berbagai strategi di antaranya pendalaman hubungan dengan nasabah eksisting, penguatan pembiayaan berbasis rantai pasok.

Selain itu, melakukan optimalisasi produk transaksi dan pembiayaan perdagangan, serta peningkatan kapabilitas relationship manager dan proses penilaian risiko.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan eskalasi konflik geopolitik berpotensi mengganggu rantai pasok energi global dan mendorong kenaikan harga energi. Kondisi ini dapat berdampak pada inflasi, biaya produksi, serta daya beli masyarakat.

“Kenaikan harga energi global dapat mendorong biaya produksi dan distribusi, yang pada akhirnya menekan profitabilitas perusahaan dan kemampuan bayar debitur,” jelasnya.

Dian menambahkan tekanan tersebut berpotensi meningkatkan risiko kredit, khususnya di sektor-sektor yang sensitif terhadap harga energi dan biaya logistik, seperti transportasi, manufaktur, serta sektor yang bergantung pada bahan baku impor.

Selain itu, segmen UMKM dan kredit konsumsi juga dinilai rentan, mengingat sensitivitasnya terhadap penurunan daya beli masyarakat.

“Hal ini berpotensi meningkatkan NPL serta kebutuhan pencadangan perbankan,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×