Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) terus berkomitmen mendukung kemajuan sektor pendidikan di Indonesia melalui berbagai program sosial dan pengembangan sumber daya manusia. Lewat program Bakti BCA, bank ini berupaya memperluas akses pendidikan, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta membantu mencetak generasi muda yang kompeten dan berdaya saing.
Sebagai turunan dari program itu, BCA menggelar Genera-Z Berbakti 2026, sebuah program kompetisi proposal bagi mahasiswa dari berbagai pengguruan tinggi yang menyajikan adu ide dan gagasan.
Persaingan di Genera-Z Berbakti 2026 atau program call for proposal untuk mahasiswa dari Bakti BCA ini menyajikan adu ide dan gagasan delapan finalis telah memasuki babak final. Ajang debat antarmahasiswa dalam babak final untuk memilih empat desa wisata binaan Bakti BCA sebagai lokasi pengabdian masyarakat.
VP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn mengatakan, pihaknya berharap Genera-Z Berbakti menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan kepedulian sosial sekaligus menciptakan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat.
"Kami sangat terkesan dengan semangat dan dedikasi para finalis. Ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya mampu berpikir kritis, tapi juga memiliki kepedulian tinggi dan kemauan untuk berkontribusi secara nyata," kata Hera dalam keterangannya, Selasa (14/7/2026).
Baca Juga: BCA Catat Penjualan ORI030 Tembus Rp900 Miliar pada Hari Pertama Penawaran
Sebanyak 4 dari 8 finalis Genera-Z Berbakti 2026 akan berkesempatan mengimplementasikan gagasan di empat desa wisata binaan Bakti BCA, yakni Desa Wisata Kreatif Terong Belitung, Desa Wisata Situs Gunung Padang di Cianjur, Desa Wisata Patakbanteng di Wonosobo,dan Desa Wisata Kakaskasen Dua di Tomohon.
Duta Bakti BCA sekaligus panelis Genera-Z Berbakti 2026, Nicholas Saputra, mengapresiasi beragam ide dan kemampuan presentasi para finalis. Menurutnya, gagasan yang disampaikan menunjukkan potensi untuk diterapkan di lapangan. Ia optimistis seluruh finalis mampu merealisasikan program di desa tujuan selama tetap konsisten dan mampu beradaptasi dengan kondisi setempat.
Sementara itu, Ilmuwan dan wirausahawan sosial sekaligus panelis Genera-Z Berbakti, Tri Mumpuni, menilai keselarasan gagasan dan kemudahan eksekusi menjadi kunci penilaian di babak final.
Baca Juga: BCA Gandeng Mahasiswa Ciptakan Inovasi untuk Desa Wisata
“Mahasiswa perlu mampu mengubah persoalan sosial menjadi program konkret yang dapat diterapkan di masyarakat desa. Hal tersebut mencerminkan generasi muda yang memiliki kecerdasan intelektual, empati, dan kemampuan berkarya nyata,” ujarnya.
Kualitas finalis Genera-Z Berbakti 2026 terlihat dalam persaingan antara tim Universitas Airlangga (UNAIR) dan Universitas Cenderawasih (UNCEN) yang sama-sama mengangkat pemberdayaan perempuan sebagai penggerak perubahan desa, dengan pendekatan yang berbeda.
Dalam sesi presentasi dan tanya jawab, kedua tim menghadapi tantangan berupa tekanan dan pertanyaan panelis yang menguji kemampuan mereka menyampaikan gagasan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














