Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dampak bencana yang melanda sejumlah wilayah di Sumatrra pada 2025 tidak hanya dirasakan pada kawasan permukiman, juga menjalar ke infrastruktur vital. Sekitar 99.000 unit rumah tercatat terdampak.
Hingga saat ini baru sekitar 45.000 unit yang telah terverifikasi. Proses verifikasi masih berlangsung seiring kompleksitas penilaian tingkat kerusakan di lapangan.
Kerusakan juga terjadi pada ratusan jembatan di berbagai daerah. Di satu aliran sungai, tercatat sebanyak 13 jembatan mengalami kerusakan akibat abrasi, limpasan air (overtopping), serta gerusan pada pilar jembatan. Selain itu, sistem irigasi dan bendungan turut terdampak, yang kemudian berimbas pada aktivitas pertanian serta ketahanan pangan di tingkat lokal.
Direktur Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala, Syamsidik menilai, bencana yang terjadi di Sumatra sepanjang 2025 mencerminkan meningkatnya kompleksitas risiko bencana, baik dari sisi alam maupun tata kelola wilayah.
“Banjir ekstrem tidak hanya dipengaruhi oleh curah hujan yang sangat tinggi, juga oleh akumulasi aliran dari hulu, perubahan morfologi sungai, serta keterbatasan daya dukung lingkungan. Dampaknya tidak berhenti pada kerusakan fisik, tetapi merambat ke aspek sosial ekonomi, dan logistik masyarakat,” ujar Syamsidik, dalam keterangan resmi, Kamis (29/1).
Kepala Program Studi Sarjana Meteorologi Institut Teknologi Bandung (ITB), M. Rais Abdillah menjelaskan, secara global, sebagian besar kerugian ekonomi akibat bencana alam justru bersumber dari bencana hidrometeorologi. Seperti cuaca ekstrem, siklon tropis, dan banjir.
Baca Juga: AAUI: Klaim Banjir Sumatra Tak Goyahkan Industri Asuransi
Menurut Rais, bencana hidrometeorologi kerap dipandang sebagai kejadian yang bersifat lokal dan sementara, dengan dampak yang dianggap lebih kecil dibandingkan gempa bumi atau tsunami.
Namun, rangkaian kejadian ekstrem pada akhir November 2025 menunjukkan anggapan tersebut tidak selalu tepat, mengingat besarnya korban jiwa dan kerugian ekonomi yang ditimbulkan, bahkan hingga memengaruhi stabilitas makroekonomi.
“Hujan ekstrem yang terjadi pada akhir 2025 menunjukkan bahwa kejadian dengan intensitas sangat tinggi dapat muncul dalam waktu singkat dan melampaui kapasitas sistem drainase, sungai, maupun infrastruktur yang ada,” ujar Rais
Direktur Pengembangan dan Teknologi Informasi Indonesia Re, Beatrix Santi Anugrah menegaskan, penguatan ketahanan bencana tidak dapat dilepaskan dari kesiapan sumber daya manusia, pemanfaatan data, serta pemahaman risiko yang selaras lintas sektor.
“Nah, iLearn Program, termasuk dalam hal ini iLearn Thematic Webinar, kami rancang sebagai wadah pembelajaran yang menjembatani teori dan praktik, sekaligus menyatukan perspektif regulator, praktisi industri, akademisi, dan pakar. Di tengah lonjakan risiko bencana hidrometeorologi, industri asuransi dan reasuransi membutuhkan pemahaman risiko yang lebih presisi, berbasis data, serta solusi yang dapat diimplementasikan secara nyata,” upapar eatrix.
Indonesia Re memandang bahwa bencana Sumatera 2025 menjadi studi kasus penting yang menegaskan bahwa risiko kebencanaan adalah realitas yang berdampak langsung pada masyarakat, infrastruktur, ekonomi, dan stabilitas sektor keuangan.
Penguatan kapasitas industri perasuransian selaku national risk manager melalui pembelajaran berkelanjutan, pemanfaatan teknologi, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi fondasi utama dalam membangun sistem pengelolaan risiko bencana yang tangguh dan berkelanjutan.
Selanjutnya: 8 Makanan yang Bisa Bikin Bahagia Anda, Tertarik Mencobanya?
Menarik Dibaca: 10 Makanan yang Dikira Sehat Padahal Tinggi Gula
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













