kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.729.000   18.000   0,66%
  • USD/IDR 17.723   4,00   0,02%
  • IDX 6.255   247,31   4,12%
  • KOMPAS100 831   37,01   4,66%
  • LQ45 625   27,23   4,56%
  • ISSI 213   7,03   3,41%
  • IDX30 354   15,20   4,48%
  • IDXHIDIV20 435   17,42   4,17%
  • IDX80 94   4,30   4,80%
  • IDXV30 116   2,90   2,56%
  • IDXQ30 114   4,59   4,21%

BI: Alarm Krisis Sempat Mendekati Warna Kuning


Rabu, 02 Juni 2010 / 14:03 WIB


Reporter: Ruisa Khoiriyah | Editor: Test Test

JAKARTA. Para pembuat kebijakan (policy maker) di negeri ini tengah memasang kewaspadaan penuh terhadap apa yang terjadi di benua biru Eropa. Capital outflow yang terjadi di berbagai instrumen keuangan akibat ketidakpastian kondisi Eropa beberapa minggu terakhir sempat mengempaskan rupiah dan mengguncang pasar saham.

Pejabat Sementara Gubernur BI Darmin Nasution mengakui, alarm peringatan (alert) meruyaknya krisis sempat menyala. Meski saat ini sudah mulai mereda lagi. "(Warna alert) tadinya sempat mendekati kuning alert satu, pekan lalu. Namun, sekarang sudah hijau lagi," kata Darmin di sela-sela rapat kerja dengan Komisi Keuangan DPR-RI di Jakarta, Rabu (2/6).

Bank sentral memiliki beberapa indikator kondisi apa yang disebut normal, pra-krisis, dan krisis. Darmin enggan memberi rincian apa saja indikator yang digunakan oleh BI dalam menilai suatu situasi. Namun, sebagai gambaran kondisi saat ini salah satunya adalah kondisi likuiditas di pasar uang antar bank (PUAB) Meski bunga PUAB mulai merangkak naik, namun ia menilai kondisi likuiditas masih aman.

"Bunga PUAB masih oke. Di level 6,2% sekian, masih di bawah BI rate. Selama masih di dekat BI rate, jangan dulu menganggap itu sudah tidak normal," tegasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×