kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

BI dorong aset wakaf jadi underlying sukuk


Rabu, 28 Oktober 2015 / 16:57 WIB
BI dorong aset wakaf jadi underlying sukuk


Reporter: Hendra Gunawan | Editor: Havid Vebri

SURABAYA. Bank Indonesia (BI) tengah berupaya untuk memperluas struktur dan model penerbitan sukuk untuk mendorong perkembangan ekonomi syariah.

Salah satunya, BI mendorong aset wakaf digunakan sebagai underlying guna menerbitkan sukuk.

Mirza Adityaswara, Deputi Gubernur Senior BI mengatakan, sektor wakaf merupakan a sleeping giant sektor keuangan sosial syariah di Indonesia. Wakaf, kata Mirza, memiliki potensi dalam mengakselerasi pembangunan infrastruktur hingga fasilitas sosial seperti sekolah, rumah sakit, dan lainnya.

“Indonesia memiliki aset wakaf dalam bentuk tanah dan bangunan dengan nilai yang cukup besar,” ujar Mirza dalam acara Indonesia Shari’a Economic Festival (ISEF) 2015 di Surabaya, Rabu (28/10).

Untuk tanah wakaf yang teregistrasi di Badan Wakaf Indonesia (BWI) saat ini nilainya sekitar Rp 300 triliun. Diluar itu, jumlah tanah wakaf yang belum teregistrasi masih jauh lebih besar.

Perry Warjiyo, Deputi Gubernur BI menambahkan, selama ini banyak aset wakaf yang menganggur dan tidak dipergunakan oleh pengelolanya. Padahal, aset tersebut bisa digunakan untuk mendapatkan pendanaan dengan menerbitkan sukuk.

“Misalnya orang tidak punya dana untuk membangun di atas tanah wakaf itu. Tanah itu bisa dijadikan aset untuk menerbitkan sukuk, yang dananya digunakan untuk mendirikan rumah sakit, dan pendapatan dari rumah sakit bisa untuk membayar cicilan sukuk,” jelas Perry.

Saat ini, pelaku yang dominan di pasar sukuk Indonesia masih ditempati pemerintah dengan variasi Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

Sampai dengan September 2015, total penerbitan SBSN tercatat Rp 369 triliun dengan total outstanding SBSN sebesar Rp 288,5 triliun yang terdiri dari Rp 256 triliun SBSN yang tradable dan Rp 32 triliun SBSN yang non-tradable. Saat ini, SBSN telah menguasai kurang lebih 12,5% pangsa pasar surat utang negara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×