Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Transaksi BI-FAST terpantau masih menikmati euforia pertumbuhan masif pada 2025 lalu, apalagi dengan kehadiran layanan tahap dua yang rilis akhir tahun 2024. Meski belum masif digunakan, layanan ini sudah menunjukkan hasil positif pada tahun pertama penggunaannya.
Bank Indonesia (BI) mencatat, sepanjang tahun 2025 transaksi ritel yang diproses BI-FAST mencapai Rp 11.995 triliun, tumbuh 34,58% secara tahunan (year-on-year/yoy), dengan volume mencapai 4,77 miliar transaksi atau naik 39,07% yoy.
Kemudian untuk layanan tahap dua, Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengungkapkan total nilai transaksinya mencapai Rp 9,55 triliun dengan volume hingga 151.000 transaksi.
Mengingatkan kembali, layanan tahap dua BI-FAST terdiri atas layanan transfer kolektif (bulk credit transfer/BCT), pembayaran atas permintaan (request for payment/RFP), serta transfer debit langsung (direct debit transfer/DDT).
Baca Juga: Merespons Kabar Soal IPO Unit Usaha Syariah, CIMB Niaga: Masih Fokus Spin Off
Lebih lanjut, Ramdan bilang transaksi ini sudah diikuti oleh 16 bank peserta. Untuk layanan BCT, BI mengenakan biaya Rp 16 per transaksi dan bank peserta mengenakan Rp 2.100 per transaksi ke nasabah. Kemudian untuk layanan RFP, biaya yang ditarik BI sebesar Rp 19 per transaksi dan yang ditarik bank peserta sebesar Rp 2.500 per transaksi.
Di luar itu, Ramdan menekankan bahwa BI-FAST diselenggarakan dalam rangka pemberian layanan kepada masyarakat yang inovatif tetapi murah. “Penyelenggaraan BI-FAST oleh BI tidak bertujuan untuk mencari pendapatan,” kata Ramdan kepada Kontan, Rabu (28/1/2026).
Bank Bersiap Hadirkan Layanan Tahap Dua
Bank Tabungan Negara (BTN) pun bersiap menghadirkan BI-FAST tahap dua tahun ini. SEVP Digital Business BTN Thomas Wahyudi menyebut, bank kini tengah fokus mengembangkan layanan RFP. Targetnya, layanan ini bisa mulai beroperasi pada kuartal I-2026.
“Nanti setelah seluruh proses kesiapan sistem dan uji operasional selesai,” ujar Thomas.
Selanjutnya, BTN juga bakal secara bertahap mempersiapkan pengembangan layanan BCT dan DDT. Dengan begitu, kata Thomas, pilihan layanan BI-FAST di BTN kian beragam dan menyesuaikan dengan kebutuhan nasabah.
Setelah layanan RFP resmi diimplementasikan nantinya, BTN menargetkan jumlah transaksi BI-FAST dapat meningkat kisaran 20-30%. Untuk diketahui, sepanjang tahun 2025 total nilai dan volume transaksi BI-FAST mencatatkan pertumbuhan lebih dari 15% yoy.
Tak cuman mendorong pertumbuhan transaksi digital bank, Thomas bilang kehadiran BI-FAST tahap dua ini diharapkan juga memberikan kontribusi positif terhadap kinerja pendapatan BTN.
Bank Central Asia (BCA) juga membidik potensi positif tersebut. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Heryn menyebut, saat ini pihaknya telah mencermati implementasi layanan tahap dua BI-FAST sembari terus memperkuat infrastruktur digital bank.
Di BCA sendiri, volume transaksi BI-FAST sepanjang tahun 2026 mencapai 2,29 miliar transaksi, dengan nilai mencapai Rp 6.087 triliun. Capaian itu, kata Hera, tentunya turut mendorong kinerja keuangan bank.
“Transaksi BI Fast yang diproses melalui sistem BCA turut berkontribusi secara positif terhadap pendapatan fee dan komisi perseroan sepanjang 2025,” tuturnya.
Hera bilang penguatan infrastruktur BI-FAST melalui pengembangan layanan tahap dua turut menjadi faktor pendukung pertumbuhan transaksi pada segmen korporasi.
Harapannya, volume transaksi menggunakan BI-FAST dapat terus meningkat sejalan dengan diimplementasikannya sistem tersebut di sejumlah kanal BCA serta meningkatnya kebutuhan digitalisasi sistem pembayaran.
Baca Juga: BCA Catat Jumlah Rekening Simpanan di Atas Rp 5 M Tumbuh 8,8% hingga Desember 2025
Selanjutnya: Maybank Group Buat Strategi Lima Tahun, Bidik ROE 13%–14% pada 2030
Menarik Dibaca: Jangan Lewatkan! Promo Alfamart Serba Gratis Berakhir 31 Januari 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













