kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

BI Rate Naik 100 Bps, NIM Bank BUMN Bakal Lebih Tertekan Ketimbang Swasta


Jumat, 19 Juni 2026 / 22:48 WIB
BI Rate Naik 100 Bps, NIM Bank BUMN Bakal Lebih Tertekan Ketimbang Swasta
ILUSTRASI. IHSG Meroket To The Moon (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) sepanjang tahun berjalan telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin (bps) secara year-to-date (YTD) menjadi 5,75%, langkah yang ditempuh di tengah tekanan pelemahan nilai tukar rupiah. Kebijakan ini mulai merambat ke industri perbankan, meski dampaknya belum sepenuhnya terasa pada kuartal II 2026.

Analis CGS International Securities Owen Tjandra dalam riset yang dirilis 15 Juni 2026 mengatakan, biaya dana alias cost of fund (CoF) perbankan akan meningkat secara bertahap dalam beberapa bulan ke depan, seiring penyesuaian suku bunga simpanan terhadap kenaikan suku bunga acuan. Namun, untuk periode kuartal II 2026, tekanan terhadap CoF masih dinilai relatif minimal karena transmisi kebijakan moneter belum sepenuhnya berlangsung.

Di sisi lain, kebijakan fiskal turut memberi penyangga likuiditas. Kementerian Keuangan masih menempatkan kelebihan kas pemerintah di bank-bank BUMN, dengan dua penempatan yang akan jatuh tempo masing-masing pada Juni 2026 dan September 2026. Aliran dana ini dinilai membantu meredam tekanan kenaikan biaya dana di sistem perbankan, setidaknya dalam jangka pendek.

Baca Juga: Ketidakpastian Global Mendorong Industri Keuangan Perkuat Manajemen Risiko

Owen menilai, dengan asumsi penempatan dana pemerintah tidak bersifat permanen, bank-bank BUMN saat ini tetap mengelola neraca secara cukup optimal. Loan to deposit ratio (LDR) berada di kisaran 92% pada empat bulan pertama 2026, sementara sekitar 35% total deposito disebut berasal dari deposito khusus yang cenderung lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga.

"Dari sisi penyaluran kredit, kenaikan suku bunga acuan berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil pada kredit wholesale. Namun, persaingan di segmen ini masih ketat, sehingga ruang repricing dinilai terbatas di tengah kondisi operasional yang belum sepenuhnya kuat," papar Owen. 

Penyesuaian suku bunga diperkirakan lebih mudah terjadi pada kredit berbunga mengambang (floating rate) yang mencakup 20%–40% portofolio kredit bank. Sementara itu, pada segmen kredit dengan suku bunga terkelola (managed rate) yang porsinya mencapai 30%–50%, kenaikan suku bunga diperkirakan hanya berlangsung terbatas.

Di sisi aset, bank dengan likuiditas berlebih berpotensi memperoleh keuntungan dari penempatan dana pada SRBI maupun obligasi pemerintah dalam beberapa kuartal ke depan, seiring meningkatnya imbal hasil instrumen pasar uang.

Secara sensitivitas, CGS International memperkirakan setiap kenaikan 25 bps suku bunga acuan dapat berdampak positif sekitar 7 bps terhadap net interest margin (NIM) Bank Central Asia (BBCA), sementara pada bank-bank BUMN justru berpotensi menekan NIM sekitar 7 bps, dengan asumsi faktor lain tetap.

Meski tekanan suku bunga meningkat, kualitas aset perbankan pada awal 2026 masih terpantau solid. Risiko kenaikan biaya kredit dinilai terbatas, dengan segmen wholesale tetap menunjukkan ketahanan, sementara kredit ritel masih menjadi titik yang relatif lebih rapuh.

Baca Juga: Bank Syariah Andalkan Aplikasi Digital Sebagai Mesin Pertumbuhan Bisnis

"CGS International tetap mempertahankan pandangan overweight terhadap sektor perbankan,” kata Owen dalam riset. Valuasi saham perbankan pun dinilai masih berada di level siklus rendah serta prospek stabilitas kualitas aset menjadi dasar utama rekomendasi tersebut. 

Saham BBCA dan Bank Negara Indonesia (BBNI) menjadi pilihan utama, dengan BCA diuntungkan oleh potensi peningkatan yield aset, sementara BBNI dinilai memiliki bantalan likuiditas yang lebih kuat.

Adapun risiko utama sektor ini mencakup kenaikan biaya dana yang lebih tinggi dari ekspektasi serta potensi penurunan kualitas kredit. Di sisi lain, katalis positif datang dari arus masuk investor asing, penguatan net interest margin (NIM), serta pertumbuhan kredit yang melampaui proyeksi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×