Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) bersiap dengan penyesuaian yang perlu dilakukan pada era suku bunga tinggi.
Mengingatkan kembali, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebanyak 1% menjadi 5,75% sejak awal tahun ini sebagai langkah terakhir menahan pelemahan rupiah. Suku bunga yang kompetitif diharapkan dapat membuat instrumen keuangan Indonesia kompetitif di pasar global.
Dari sudut pandang perbankan, Bank Negara Indonesia (BNI) berharap kebijakan ini dapat memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar dan tingkat inflasi terkendali.
Baca Juga: OJK Sita 41 Aset Terkait Dugaan Fraud Pembiayaan di BPRS Gebu Prima
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menyebut, langkah tersebut sejatinya tak terhindarkan. “Perlu ditempuh untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkuat kepercayaan pelaku usaha dan investor terhadap prospek ekonomi nasional,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Senin (22/6/2026).
Meski begitu, ia tak menampik ada risiko dampak yang perlu dicermati oleh perbankan. Okki bilang kenaikan suku bunga acuan dapat memengaruhi permintaan kredit, maka dari itu pihaknya bakal selektif dan adaptif dalam mengelola portofolio bisnis, dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Namun begitu, ia juga memastikan dukungan pembiayaan tetap tersedia bagi sektor-sektor produktif yang menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga mencermati risiko dampak dalam era suku bunga tinggi ke depan. Direktur Utama BRI Hery Gunardi menjelaskan, sejatinya posisi BI Rate, sebagaimana perannya sebagai suku bunga acuan, pasti akan memengaruhi tingkat suku bunga deposito.
“Jika BI Rate naik secara gradual, suku bunga deposito juga akan ikut naik,” tutur Hery kepada Kontan, Minggu (21/6/2026).
Nah, kenaikan suku bunga deposito ini mendorong naik biaya dana (cost of fund/CoF) yang perlu dikeluarkan bank. Untuk menjaga margin, pada gilirannya bank perlu menaikkan suku bunga kredit.
Namun begitu, Hery bilang transmisi ke kenaikan suku bunga kredit tak terjadi secara otomatis. “Akan ada jeda waktu,” katanya.
Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BTN) langsung memastikan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi tak bakal naik. Pasalnya, KPR subsidi disokong oleh insentif pemerintah.
Namun untuk transmisi ke kredit jenis lain, serta ke deposito, masih dikaji. Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu bilang KPR non subsidi pada prinsipnya masih menggunakan bunga promo dan hingga kini pihaknya masih mengkaji apakah bunga promonya naik atau tetap.
“Kami masih kaji. Kalau deposito, kami lihat persaingan market,” ungkap Nixon.
Baca Juga: Dilema Suku Bunga Tinggi bagi Himbara, Antara Stabilitas Rupiah dan Kinerja Bisnis
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













