Reporter: Ferry Saputra | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menilai industri asuransi umum perlu mengoptimalkan peluang dari perkembangan ekosistem digital untuk mendorong kinerja lini asuransi marine cargo.
Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengatakan pertumbuhan ekosistem transaksi digital membuat kebutuhan perlindungan atas barang dalam perjalanan makin relevan, baik untuk pengiriman domestik antarpulau, pengiriman internasional, maupun rantai distribusi dari gudang ke konsumen akhir.
Budi menyebut hal itu membuka peluang bagi perusahaan asuransi umum untuk mengembangkan produk yang lebih sederhana, fleksibel, dan terintegrasi dengan platform digital, marketplace, perusahaan logistik, kurir, freight forwarder, dan pelaku supply chain.
Baca Juga: Perubahan UU P2SK Terbit, LPS Jamin Polis Asuransi Lewat Program Penjaminan Polis
Dalam konteks e-commerce, Budi menyampaikan perlindungan marine cargo dapat diperluas tidak hanya untuk pengiriman dalam skala besar, tetapi juga untuk pengiriman ritel dan komersial yang volumenya tinggi.
"Misalnya, perlindungan atas risiko barang hilang, rusak, terlambat, salah penanganan, hingga risiko selama proses penyimpanan sementara di gudang atau pusat distribusi," ucapnya kepada Kontan, Sabtu (20/6).
Budi menerangkan model kerja sama dengan platform digital dan logistik dapat menjadi salah satu cara untuk memperbesar basis premi. Sebab, proteksi dapat ditawarkan secara otomatis atau opsional pada saat transaksi pengiriman dilakukan.
Dengan demikian, dia bilang peluang asuransi marine cargo tidak hanya berasal dari aktivitas ekspor-impor konvensional, tetapi juga dari berkembangnya ekosistem e-commerce, logistik, pergudangan, fulfillment center, dan pengiriman barang lintas wilayah.
Selain itu, Budi menyampaikan perusahaan asuransi dapat memperkuat kerja sama dengan eksportir, importir, pelaku logistik, freight forwarder, marketplace, perusahaan kurir, perbankan, dan pelaku perdagangan komoditas untuk mengoptimalkan pendapatan premi marine cargo tahun ini. Dia mengatakan produk asuransi marine cargo juga perlu dibuat lebih relevan dengan kebutuhan pasar.
"Misalnya, perlindungan untuk pengiriman domestik dan internasional, stock throughput, proyek, komoditas strategis, barang e-commerce, hingga perluasan risiko yang sesuai dengan profil masing-masing tertanggung," ujarnya.
Budi juga mengimbau pertumbuhan premi sebaiknya tidak hanya dikejar melalui kenaikan tarif, tetapi melalui peningkatan kualitas layanan, kecepatan penerbitan polis, kejelasan wording, kemudahan klaim, digitalisasi proses, edukasi kepada pelaku usaha, serta penguatan manajemen risiko. Dengan begitu, dia bilang lini asuransi marine cargo dapat kembali tumbuh secara sehat.
Asal tahu saja, data AAUI mencatat, klaim asuransi marine cargo mengalami peningkatan sebesar 6,7% Year on Year (YoY), menjadi Rp 357 miliar per Maret 2026. Adapun premi asuransi marine cargo tercatat terkontraksi cukup dalam sebesar 12,6% YoY, menjadi Rp 1,49 triliun per Maret 2026.
Baca Juga: AAUI: Kinerja Investasi Asuransi Umum Tahun 2026 Berpotensi Melambat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













