kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

Waspada, Likuiditas yang Ketat di Semester II-2026 Berpotensi Menghambat Laju Kredit


Senin, 22 Juni 2026 / 05:41 WIB
Waspada, Likuiditas yang Ketat di Semester II-2026 Berpotensi Menghambat Laju Kredit
ILUSTRASI. Laju pertumbuhan kredit berpotensi menghadapi tekanan seiring kenaikan suku bunga dan ketatnya likuiditas di sektor perbankan. (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri perbankan nasional diyakini masih mampu menjaga kinerja pada semester II-2026. Namun, Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) mengingatkan, laju pertumbuhan kredit berpotensi menghadapi tekanan seiring kenaikan suku bunga dan ketatnya likuiditas di sektor perbankan.

Ketua Bidang Riset dan Pengkajian Perbanas Aviliani menyebut, secara umum kondisi industri perbankan masih cukup baik. Hal itu terlihat dari kualitas aset yang tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang masih berada pada level sehat.

Memang, Bank Indonesia (BI) mencatat kredit perbankan tumbuh 11,51% secara tahunan pada Mei 2026. Sementara rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) secara bruto terjaga di posisi 2,17% per April 2026.

Baca Juga: Dilema Suku Bunga Tinggi bagi Himbara, Antara Stabilitas Rupiah dan Kinerja Bisnis

"Sebenarnya kalau kita lihat dari sisi kredit masih oke. NPL juga masih baik," ujar Aviliani, dikutip Minggu (21/6/2026).

Namun, ia mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) berpotensi menekan permintaan kredit pada paruh kedua tahun ini. Mengingatkan kembali, posisi terkini BI Rate ada di 5,75%, naik 100 bps sejak awal tahun.

Nah, Aviliani bilang secara historis pertumbuhan kredit cenderung melambat ketika suku bunga mengalami kenaikan karena biaya pinjaman menjadi lebih mahal bagi pelaku usaha maupun masyarakat.

"Kalau bunga naik lagi, biasanya pertumbuhan kredit bakal mengalami penurunan," katanya.

Selain faktor suku bunga, Aviliani menilai tantangan utama perbankan saat ini berasal dari sisi likuiditas. Ketersediaan dana yang terbatas membuat rasio pinjaman terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio/LDR) cenderung meningkat.

Dalam kondisi seperti itu, menurutnya bank juga bakal lebih berhati-hati dalam mengelola likuiditas. Ia bilang bank cenderung tak bakal membiarkan LDR berada pada level yang terlalu tinggi.

Dus, Aviliani menyebut perlu ada tambahan sumber dana baru untuk mendukung ekspansi kredit perbankan ke depan. 

Baca Juga: Manakar Dampak Pengetatan Pembelian Valas Tanpa Underlying Terhadap Bisnis Bank

Sayangnya hingga saat ini, sumber likuiditas baru tersebut, menurutnya, belum terlihat hilalnya.

Ia melihat pemerintah masih perlu mencermati strategi pembiayaan melalui penerbitan surat utang agar dana yang dihimpun dapat beredar kembali ke perekonomian dan mendukung likuiditas pasar.

Selain itu, Aviliani juga menyoroti perkembangan penerbitan obligasi berdenominasi yuan atau Panda Bond yang hingga kini belum menunjukkan dampak signifikan terhadap likuiditas domestik.

"Likuiditas menurut saya perlu dijaga. Pemerintah juga harus memikirkan kembali berbagai sumber dana yang tersedia karena itu akan mempengaruhi pendanaan ke depan," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×