Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah lesunya daya beli yang mengakibatkan kredit konsumer industri perbankan melandai, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) tetap optimistis pembiayaan tetap mampu tumbuh positif.
Data sementara Bank Indonesia (BI) menunjukkan pertumbuhan kredit secara industri melambat menjadi 8,9% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari pertumbuhan 10,2% yoy pada bulan sebelumnya.
Sejalan dengan itu, dalam periode yang sama kredit konsumsi tumbuh lebih landai 6,3% yoy dari pertumbuhan 7,2% yoy. Secara rinci, kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit multiguna melambat masing-masing 5% yoy dari 5,5% yoy dan 8,7% dari 9,9% yoy, sementara kredit kendaraan bermotor (KKB) turun makin dalam jadi 7,9% yoy dari 6,7% yoy.
Per Februari 2026, BSI membukukan laba (unaudited) sebesar Rp 1,36 triliun atau tumbuh sekitar 17% yoy. Corporate Secretary BSI, Wisnu Sunandar mengatakan kinerja ini ditopang oleh fokus perseroan pada segmen konsumer dan ritel, termasuk pengembangan bisnis emas.
Baca Juga: Tanda Daya Beli Anjlok Makin Kuat, Kredit Konsumsi di Ramadan Melambat
Wisnu menyebut, segmen konsumer dan ritel masih menjadi tulang punggung pembiayaan BSI, dengan porsi mencapai sekitar 72,5% dari total pembiayaan yang sebesar Rp 323 triliun. Secara tahunan, pembiayaan BSI tumbuh 14,32%, melambat ketimbang pertumbuhan 15,26% yoy pada bulan sebelumnya.
“Fokus kami tetap pada segmen konsumer dan ritel, yang sejauh ini masih menunjukkan pertumbuhan yang solid,” ujarnya kepada Kontan, Senin (30/3/2026).
Di tengah tren perlambatan kredit konsumer secara industri, BSI tetap optimistis pembiayaan akan terus tumbuh sepanjang 2026. Hal ini didukung oleh berbagai stimulus pemerintah, termasuk kebijakan yang mendorong likuiditas perbankan serta program untuk meningkatkan daya beli masyarakat di sektor riil.
Baca Juga: Kredit Konsumsi Melambat di Momentum Ramadan, Sinyal Daya Beli Rumah Tangga Tertekan
Meski demikian, BSI tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam ekspansi pembiayaan. Perseroan menekankan pentingnya pengelolaan risiko yang terukur dan terintegrasi guna menjaga kualitas aset di tengah dinamika ekonomi.
Menurut Wisnu, strategi pertumbuhan BSI juga ditopang oleh penerapan manajemen risiko yang disesuaikan dengan segmentasi bisnis dan profil nasabah, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG).
Dengan pendekatan tersebut, BSI berupaya menjaga pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan di tengah tantangan ekonomi serta meningkatnya minat masyarakat terhadap layanan keuangan syariah.
Baca Juga: Pembiayaan Berisiko Naik Imbas Bencana, BSI Perkuat Pencadangan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












