Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memperluas pengembangan ekosistem bisnis di luar pembiayaan perumahan melalui pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.
Salah satunya dengan menghadirkan fasilitas Waste Station yang memungkinkan masyarakat memperoleh imbalan ekonomi dari sampah yang disetorkan.
Terbaru, BTN meresmikan Waste Station di Alun-Alun Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (5/11/2026).
Fasilitas hasil kolaborasi BTN, Pemerintah Kabupaten Banyumas, dan Rekosistem tersebut memiliki kapasitas pengumpulan rata-rata sekitar 4 ton sampah per bulan.
Baca Juga: AAUI Proyeksi Stimulus Tiket Pesawat Dorong Bisnis Asuransi Perjalanan saat Nataru
Melalui fasilitas ini, masyarakat dapat menyetorkan berbagai jenis sampah anorganik, seperti botol plastik, kardus, kertas, kaleng, kaca, hingga limbah elektronik melalui aplikasi Rekosistem.
Sampah yang disetorkan akan ditimbang dan dikonversi menjadi poin berdasarkan jenis serta beratnya. Poin tersebut kemudian dapat dicairkan menjadi uang melalui rekening BTN.
Waste Station di Purwokerto beroperasi setiap Selasa hingga Minggu, pukul 09.00-18.00 WIB.
Direktur Commercial Banking BTN Hermita mengatakan, pengembangan Waste Station merupakan bagian dari strategi Beyond Mortgage yang dijalankan perseroan.
Melalui strategi tersebut, BTN berupaya memperluas bisnis dari pembiayaan perumahan ke pengembangan ekosistem yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat.
"Beyond Mortgage-nya itu kita bukan hanya mengelola rumah, tapi juga semua ekosistemnya," ujar Hermita dalam peresmian Waste Station di Purwokerto, Kamis (5/11/2026).
Baca Juga: IJP Industri Penjaminan Tumbuh 20,7% Jadi Sebesar Rp 7,02 Triliun per September 2026
Hermita menjelaskan, BTN saat ini mengembangkan lima ekosistem utama, yakni pemerintah daerah, kesehatan, pendidikan, pariwisata, dan perdagangan.
Kelima ekosistem tersebut dinilai memiliki keterkaitan dengan kebutuhan hunian dan aktivitas masyarakat, termasuk dalam menghasilkan sampah.
Karena itu, pengelolaan sampah menjadi salah satu bagian dari upaya BTN membangun ekosistem perumahan yang lebih berkelanjutan.
BTN juga membuka peluang kerja sama dengan pengembang perumahan, perguruan tinggi, hingga pemerintah daerah untuk memperluas inisiatif pengelolaan sampah.
Salah satu gagasan yang didorong adalah menyediakan fasilitas pemilahan sampah di setiap kawasan perumahan agar masyarakat terbiasa mengelola sampah sejak dari rumah.
Selain itu, BTN berupaya mendorong pemberdayaan generasi muda yang memiliki inovasi di bidang pengolahan sampah melalui pelatihan dan business matching dengan pelaku usaha, termasuk pengembang perumahan.
Baca Juga: Prudential Indonesia Sebut Sejumlah Faktor Ini Pengaruhi Prospek Investasi ke Depan
Ke depan, BTN berharap pengembangan Waste Station tidak hanya menyasar sampah anorganik, tetapi juga dapat diperluas ke pengelolaan sampah organik.
"Jangan cuma kita memindahkan sampah, tapi mengelola sampah," tegas Hermita.
Pengembangan Waste Station di Banyumas merupakan kelanjutan dari fasilitas serupa yang sebelumnya dihadirkan BTN di Situbondo, Jawa Timur. Sejak beroperasi, Waste Station di Situbondo telah mengumpulkan sekitar 6,8 ton sampah anorganik dengan melibatkan 32 pengguna.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2024, sampah rumah tangga menyumbang sekitar 50,8% dari total timbulan sampah nasional yang mencapai 33,79 juta ton.
Deputi Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup Vinda Damayanti Ansjar mengatakan, kolaborasi pemerintah daerah, dunia usaha, sektor perbankan, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Menurut Vinda, Banyumas telah memiliki berbagai inisiatif pengelolaan sampah, mulai dari tempat pengolahan sampah terpadu (TPST), TPST 3R, fasilitas refuse derived fuel (RDF), hingga recycling center.
Baca Juga: Fitch Pertahankan Peringkat UOB Indonesia di Level AAA(idn)
Kehadiran Waste Station diharapkan memperkuat jaringan pengumpulan sampah terpilah yang terhubung dengan pelaku daur ulang dan industri pemanfaatan material.
"Keterlibatan sektor perbankan juga membuka peluang untuk menghubungkan pengelolaan sampah dengan layanan dan insentif keuangan, sehingga masyarakat dapat merasakan secara langsung manfaat dari kebiasaan memilah sampah," ujar Vinda.
Sementara itu, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengatakan, timbulan sampah di wilayahnya saat ini mencapai sekitar 738 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 573 ton atau 77,76% telah terkelola, sedangkan sekitar 164 ton per hari masih membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Menurut Sadewo, pemerintah daerah terus mendorong pengelolaan sampah dari hulu melalui pemilahan di tingkat rumah tangga, pemberdayaan kelompok swadaya masyarakat, serta penyediaan fasilitas pengolahan di tingkat desa dan kelurahan.
Ia berharap kehadiran Waste Station dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam memilah sampah sekaligus memberikan nilai ekonomi dari material yang masih bisa dimanfaatkan kembali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
