Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Tabungan Negara (BTN) menegaskan kenaikan nilai beban penurunan nilai aset keuangan alias impairment pada tahun lalu tak mencerminkan penurunan kualitas kredit yang signifikan. Alih-alih, langkah tersebut menjadi bagian dari strategi penguatan buffer risiko secara antisipatif.
Hingga Desember 2025, BTN mencatatkan kenaikan beban impairment secara konsolidasian di level Rp 6,17 triliun, melonjak dari posisi Rp 1,98 triliun.
Meski begitu, Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo menegaskan secara fundamental kualitas aset perseroan menunjukkan perbaikan. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross, yang berdasarkan laporan keuangannya turun dari 3,17% menjadi 3,16%.
“Secara kualitas aset justru membaik. Kenaikan impairment bukan karena penurunan kualitas kredit yang dalam, melainkan langkah forward looking untuk memperkuat pencadangan,” ujar Setiyo kepada Kontan, pekan lalu.
Baca Juga: Tumbuhnya Penjualan Kendaraan Jadi Angin Segar Bagi Multifinance
Pun, Setiyo menyoroti kemampuan menghasilkan laba inti juga meningkat signifikan. Pre-Provision Operating Profit (PPOP) atau laba operasional sebelum pencadangan tercatat tumbuh lebih dari 100% secara tahunan. Kenaikan laba operasional ini, kata Setiyo, kemudian dimanfaatkan perseroan untuk mempertebal cadangan.
Setiyo menjelaskan, sebagian besar tambahan laba tersebut dialokasikan untuk memperkuat buffer pencadangan sebagai bagian dari praktik prudent banking dan penguatan manajemen risiko.
Sejumlah faktor menjadi pertimbangan perseroan dalam menentukan kebutuhan pencadangan tahun lalu. Di antaranya ketidakpastian kondisi makroekonomi dan tekanan daya beli pada beberapa segmen, serta proses normalisasi pasca restrukturisasi kredit pandemi.
BTN juga menerapkan portfolio balancing strategy dengan mengoptimalkan komposisi kredit serta memperbaiki struktur yield dan pendapatan bunga. Perbaikan net interest income (NII) ini memberikan ruang bagi bank untuk meningkatkan pencadangan tanpa mengganggu profitabilitas.
“Earnings capacity yang meningkat kami gunakan untuk memperkuat resilience,” jelasnya.
Untuk tahun ini, BTN memastikan strategi penguatan kualitas kredit tetap berlanjut. Namun, kebutuhan tambahan buffer diproyeksikan tak sebesar tahun sebelumnya.
Perseroan memperkirakan alokasi impairment sekitar Rp 4 triliun. Dengan langkah tersebut, rasio pencadangan (coverage ratio) ditargetkan mendekati 130%.
Setiyo optimistis, dengan posisi cadangan yang semakin solid, BTN memiliki perlindungan yang lebih kuat terhadap potensi risiko ke depan. Secara keseluruhan, manajemen melihat adanya ruang perbaikan kualitas kredit secara bertahap, dengan pendekatan yang tetap disiplin dan konservatif.
Baca Juga: CNAF Pilih Momentum Awal Tahun Terbitkan Sukuk Syariah, Simak Penggunaan Dananya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













