Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan pembiayaan menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga kualitas pembiayaan tetap terjaga setelah periode Ramadan dan Lebaran 2026. Secara historis, periode pasca Lebaran kerap diikuti tekanan musiman terhadap rasio kredit bermasalah atau non-performing financing (NPF) seiring perubahan pola pengeluaran masyarakat.
Berdasarkan data terakhir Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sepanjang tahun 2025 lalu NPF perusahaan pembiayaan masih terjaga dengan baik yakni 0,77%. Angka tersebut membaik dari pencapaian bulan sebelumnya yang sebesar 0,85%.
PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) memproyeksikan kualitas pembiayaan tetap terjaga pasca periode Lebaran 2026, meski industri pembiayaan kerap menghadapi tantangan seasonal tersebut.
Chief Financial Officer Adira Finance, Sylvanus Gani mengatakan, setelah Lebaran biasanya terjadi pergeseran prioritas pengeluaran nasabah yang berpotensi mendorong kenaikan NPF.
Baca Juga: BRI Finance Proyeksikan NPF Tetap Terjaga Pasca Lebaran 2026
“Namun, untuk tahun 2026, kami memproyeksikan NPF perusahaan akan tetap terkendali dan terjaga dalam rentang 2,0%-2,5%,” ujar Gani kepada Kontan, Selasa (10/2/2026).
Adapun berdasarkan data terakhir per Januari 2026, NPF Adira Finance tercatat berada di level 2,0%. Untuk menjaga kualitas pembiayaan, perusahaan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan.
“Strategi penyaluran kami dilakukan secara tersegmentasi sesuai dengan risk appetite perusahaan guna memastikan pertumbuhan portofolio tetap sehat dan berkelanjutan,” tuturnya.
Selain itu, Adira Finance juga memperkuat efektivitas proses penagihan guna menekan potensi kredit bermasalah. Perusahaan memastikan operasional berjalan optimal dengan dukungan kapasitas tim penagihan yang memadai, sehingga risiko kredit dapat diminimalkan.
Sementara itu, PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) juga memproyeksikan rasio pembiayaan bermasalah tetap terjaga pasca periode Lebaran 2026, seiring peningkatan aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat.
Direktur Utama BRI Finance, Wahyudi Darmawan mengatakan, momentum Lebaran umumnya diikuti dengan meningkatnya aktivitas ekonomi yang turut mendukung kemampuan pembayaran nasabah. Karena itu, perusahaan memandang risiko kenaikan NPF masih dapat dikelola sesuai dengan batasan risiko yang telah ditetapkan.
Baca Juga: Adira Finance Targetkan Tingkat NPF Selalu Berada di Bawah 2,5%
“Secara umum, perusahaan memproyeksikan rasio NPF pasca periode Lebaran 2026 masih berada dalam level yang terjaga dan sesuai dengan risk appetite perusahaan,” ujar Wahyudi kepada Kontan, Selasa (10/2/2025).
Meski demikian, BRI Finance memperkuat monitoring portofolio melalui early warning system serta menjaga kualitas proses analisa pembiayaan. Perusahaan juga menerapkan pendekatan persuasif serta menyediakan solusi restrukturisasi yang sesuai bagi nasabah yang membutuhkan.
Untuk menjaga kualitas pembiayaan, BRI Finance memperkuat proses underwriting dan seleksi profil nasabah, sekaligus meningkatkan monitoring portofolio secara berkelanjutan. Menjelang dan setelah Lebaran, perusahaan juga memperkuat komunikasi dan edukasi kepada nasabah guna menjaga kelancaran pembayaran.
“Kami mengedepankan pendekatan persuasif dalam proses penagihan dengan memperhatikan kondisi serta kemampuan pembayaran masing-masing nasabah,” lanjutnya.
Adapun berdasarkan data terakhir, Wahyudi mengklaim rasio NPF BRI Finance masih berada dalam level yang terjaga dan sesuai dengan batasan risiko yang ditetapkan manajemen.
Baca Juga: Begini Strategi Multifinance Antisipasi Potensi Naiknya NPF pada Akhir Tahun
Selanjutnya: OJK Proyeksi Piutang Pembiayaan Multifinance Tumbuh 6%-8%, Ini Kata ACC
Menarik Dibaca: Lewat Ekosistem Bisnis Ocean, BCA Bidik Pelaku Bisnis termasuk UMKM
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)