kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   -30.000   -1,12%
  • USD/IDR 17.664   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.636   -31,42   -0,47%
  • KOMPAS100 867   -5,52   -0,63%
  • LQ45 658   -5,19   -0,78%
  • ISSI 231   -0,99   -0,43%
  • IDX30 368   -3,06   -0,83%
  • IDXHIDIV20 455   -4,73   -1,03%
  • IDX80 99   -0,80   -0,81%
  • IDXV30 125   -1,37   -1,08%
  • IDXQ30 118   -1,17   -0,99%

Chairul Tanjung Beberkan Alasan Allo Bank (BBHI) Buyback Saham


Sabtu, 05 September 2026 / 14:26 WIB
Chairul Tanjung Beberkan Alasan Allo Bank (BBHI) Buyback Saham
ILUSTRASI. Chairul Tanjung Allobank (KONTAN/Dina Mirayanti)


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk

KONTAN.CO.ID - LAMPUNG. Pengusaha Chairul Tanjung mengungkapkan alasan di balik rencana bank digital miliknya, PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI), melakukan pembelian kembali atau buyback saham.

BBHI telah mengumumkan akan melakukan buyback saham maksimal Rp300 miliar selama periode 3 September hingga 2 Desember 2026. Saham yang telah dibeli kembali nantinya akan disimpan sebagai saham treasuri (treasury stock) untuk jangka waktu sesuai dengan ketentuan POJK No. 29 Tahun 2023.

Chairul Tanjung mengatakan keputusan untuk melakukan buyback saham diambil di tengah kondisi pasar yang sedang mengalami tekanan. “Sekarang kita tahu pasar dalam tekanan. Tentu kita berharap harga saham Allo Bank (BBHI) tetap berada di level yang menurut kita masih manageable,” ujarnya saat ditemui di event Lampung Financial Festival 2026, Jumat (5/9/2026).

Pria yang akrab disapa CT tersebut mengaku optimistis harga saham BBHI akan bergerak ke tren positif seiring langkah buyback saham tersebut. Menurut dia, aksi pembelian kembali saham pada akhirnya akan memberikan sentimen positif bagi para pemegang saham.

Pada penutupan perdagangan Jumat (4/9/2026), saham BBHI ditutup stabil dari hari sebelumnya di level Rp900. Sejak awal tahun, sahamnya tercatat telah anjlok 39,6% dan dalam satu tahun merosot 43,93%.

Baca Juga: Allo Bank (BBHI) Bidik Pertumbuhan Kredit di Atas Industri pada 2026

Sebelumnya, manajemen Allo Bank menyebut aksi korporasi ini dilakukan untuk memberikan fleksibilitas bagi perseroan dalam menjaga stabilitas harga saham agar lebih mencerminkan kinerja perusahaan. Selain itu, buyback ditujukan untuk menjaga keharmonisan antara kondisi pasar dan fundamental perseroan sekaligus mempertahankan kepercayaan pemangku kepentingan dalam mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Allo Bank menilai pelaksanaan buyback tidak akan memberikan dampak material terhadap kegiatan usaha maupun likuiditas perseroan. Dengan asumsi seluruh dana Rp 300 miliar digunakan untuk buyback, jumlah aset perseroan secara proforma per 30 Juni 2026 akan turun dari Rp 15,57 triliun menjadi Rp 15,27 triliun. Sementara itu, ekuitas turun dari Rp 7,34 triliun menjadi Rp 7,04 triliun.

Belum Didorong Naik Kelas

Seperti diketahui, permodalan dan ekosistem digital yang kuat merupakan modal utama bagi bank digital untuk tumbuh cepat. Namun, CT menilai permodalan Allo Bank untuk saat ini masih cukup.

CT mengatakan Allo Bank belum ditargetkan untuk naik kelas menjadi kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) III. Ia bilang, pihaknya masih menunggu waktu yang tepat untuk menambah modal. “Untuk rights issue belum ada rencana. Sekarang waktunya belum tepat untuk naik kelas,” ujar CT.

Baca Juga: Pengguna Allo PayLater Tembus 2,3 Juta hingga Semester I-2026

Saat ini, Allo Bank masuk dalam kategori KBMI II. Per Juni 2026, modal intinya tercatat mencapai Rp 7,24 triliun, meningkat dari Rp 7,18 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi kinerja, Allo Bank berhasil membukukan pendapatan bunga bersih (NII) sebesar Rp 771,1 miliar sepanjang paruh pertama 2026, tumbuh 15,1% secara tahunan. Pendapatan komisi mencapai Rp 23,5 miliar, naik dari Rp 3,2 miliar pada semester I 2025. Pada periode tersebut, Allo Bank mengantongi laba bersih Rp 233,6 miliar, meningkat 2,9% secara tahunan.

Per Juni 2026, kredit bank ini mencapai Rp 9,54 triliun, meningkat 27,5% secara tahunan. Pertumbuhan masih disertai dengan kualitas aset yang terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) di kisaran 1,73%. Total dana pihak ketiga (DPK) bank stabil sebesar Rp5,82 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×