Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk, Selvi Mayasari | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - LAMPUNG. Bunga deposito bank digital masih menjadi magnet kuat untuk menggaet dana masyarakat. Sejumlah bank bahkan berani menawarkan imbal hasil jauh di atas tingkat bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), sebagai strategi mempercepat penghimpunan dana sekaligus memperkuat basis pendanaan.
Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menilai kondisi tersebut tidak menjadi masalah, sepanjang bunga tinggi bukan menjadi tujuan akhir, melainkan bagian dari proses transisi bank digital dalam membangun basis nasabah dan pendanaan.
Menurut Anggito, bank digital saat ini masih membutuhkan “pancingan” untuk mendorong masyarakat memindahkan atau menempatkan dananya ke layanan perbankan digital. Salah satu cara yang paling efektif adalah menawarkan suku bunga simpanan yang lebih menarik dibandingkan bank konvensional.
“Ketika bank digital sudah semakin berkembang dan jumlahnya semakin banyak, kemungkinan suku bunganya juga akan mulai turun,” ujar Anggito dalam gelaran Lampung Financial Festival 2026, Jumat (4/9/2026).
Baca Juga: LPS Bakal Garap Pilot Project Core System BPR 2028
Anggito menjelaskan, bank digital memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan bank umum pada umumnya. Salah satu keunggulannya terletak pada struktur biaya operasional yang relatif lebih rendah karena sebagian besar layanan dijalankan melalui kanal digital.
Namun, sebagai pemain yang relatif baru, bank digital masih menghadapi tantangan dalam membangun kepercayaan, menarik nasabah, dan menghimpun dana. Karena itu, penawaran bunga simpanan yang lebih tinggi menjadi salah satu strategi untuk mempercepat pertumbuhan.
Seiring semakin matangnya industri dan meningkatnya jumlah pemain, menurut Anggito, persaingan berbasis bunga berpotensi mereda. Bank digital nantinya akan dituntut tidak hanya mengandalkan imbal hasil tinggi, tetapi juga membangun ekosistem layanan dan loyalitas nasabah agar mampu menghimpun dana secara lebih berkelanjutan.
Berdasarkan penelusuran KONTAN, Bank Amar Indonesia (AMAR) menawarkan bunga deposito 5,75%-9% per tahun, mulai dari tenor satu bulan hingga 36 bulan. Sementara Bank Aladin Syariah melalui Ala Deposito menawarkan bagi hasil hingga 8,5% untuk tenor satu, tiga, enam, dan 12 bulan.
Baca Juga: LPS Gencar Mendorong Deposan Besar dan Bank Kurangi Special Rate
Krom Bank Indonesia (BBSI) menawarkan bunga 6,5%-7,5% melalui Krom Flex dan hingga 8% melalui Krom Max untuk tenor 12 bulan. Superbank menawarkan bunga 6%-7,5%, sedangkan Bank Hibank Indonesia menetapkan bunga deposito online 5%-6,75% per tahun.
Bank Jago menawarkan bunga 5%-6,25% per tahun, dengan bunga tertinggi untuk simpanan di atas Rp1 miliar. Allo Bank menawarkan 5,5%-6%, sedangkan Bank Raya melalui Saku Jaga Optimal memberikan bunga 4%-6%. Blu by BCA menawarkan 3,5%-4,75%, sementara SeaBank berada di kisaran yang sama.
Bank Saqu menawarkan bunga hingga 7% untuk simpanan di atas Rp500 juta dengan tenor enam hingga 12 bulan. Adapun Bank Neo Commerce menawarkan bunga deposito WOW sebesar 4,75%-7,25% per tahun, lebih rendah dibandingkan penawaran sebelumnya yang mencapai 7,5%.
Direktur Krom Bank Anton Hermawan mengatakan perseroan akan mempertahankan suku bunga deposito yang berlaku sambil terus melakukan benchmarking terhadap kondisi pasar untuk menjaga keseimbangan antara daya saing dan keberlanjutan bisnis. “Krom Bank juga memperkuat penghimpunan CASA melalui ekosistem digital, fitur layanan, fleksibilitas nasabah, dan kerja sama dengan mitra strategis,” kata Anton belum lama ini.
Baca Juga: OJK Cabut Izin BPRS Gaido Indonesia, LPS Lakukan Likuidasi
Sementara itu, Head of Digital Strategy Allo Bank Destya Pradityo menegaskan bahwa strategi perseroan tidak berfokus pada persaingan suku bunga. Allo Bank lebih mengutamakan peningkatan aktivitas transaksi melalui penguatan ekosistem, seperti pembayaran digital, QRIS, transfer, dan pembayaran tagihan.
Menurutnya, dana murah yang berkualitas berasal dari aktivitas transaksi dan loyalitas nasabah. “Karena itu, Allo Bank memilih memperkuat engagement agar pertumbuhan CASA lebih sehat dan efisien tanpa bergantung pada strategi pricing yang agresif.” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














