Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong pengelola dana publik untuk ikut menopang likuiditas pasar seiring rencana kenaikan batas minimal free float menjadi 15% dari sebelumnya 7,5%. Untuk memenuhi ketentuan free float tersebut OJK menyebut dibutuhkan dana sekitar Rp 203 triliun dari sekitar 270 emiten yang saat ini belum memenuhi kewajiban.
Oleh karena itu, lembaga keuangan institusional diminta untuk berpartisipasi dalam memperkuat struktur pasar modal. Meski begitu, Dana Pensiun BCA (BCA) mengaku akan sangat berhati-hati saat memilih instrumen saham dalam portofolio investasi.
Direktur Utama Dana Pensiun BCA Budi Sutrisno mengatakan, pada prinsipnya lembaga keuangan institusional memandang upaya penguatan struktur pasar modal sebagai langkah positif. Namun, keputusan investasi tetap harus mempertimbangkan karakteristik kewajiban jangka panjang dana pensiun.
Baca Juga: AXA Mandiri Rilis Produk Menyasar Nasabah Kelas Menengah Atas
“Partisipasi dalam investasi perlu dilakukan secara terukur dan selektif, dengan mempertimbangkan keberlangsungan likuiditas pembayaran kewajiban jangka panjang, potensi fluktuasi pasar, serta kepatuhan terhadap ketentuan regulasi yang berlaku, termasuk kewajiban pemenuhan alokasi minimum pada Surat Berharga Negara (SBN),” ujar Budi kepada Kontan, Jumat (30/1/2026).
Saat ini, porsi investasi Dana Pensiun BCA pada instrumen saham masih berada di kisaran 5% dari total portofolio. Alokasi tersebut ditetapkan dengan mempertimbangkan kebutuhan likuiditas pembayaran manfaat, kebijakan manajemen risiko, serta kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
Adapun porsi terbesar investasi Dapen BCA selama ini ditempatkan pada SBN. Selain untuk memenuhi ketentuan regulasi minimum kepemilikan SBN sebesar 30%, instrumen ini dinilai paling sesuai untuk kebutuhan asset–liability matching, mengingat karakteristik kewajiban dana pensiun yang bersifat jangka panjang dan membutuhkan stabilitas arus kas.
Dalam pengelolaan investasi, Dapen BCA menerapkan kerangka strategi yang prudent, agile, dan secure. Melalui pendekatan ini, keputusan terkait penambahan porsi investasi saham tidak dilakukan secara otomatis atau agresif, melainkan melalui proses evaluasi risiko yang komprehensif dan berlapis.
Baca Juga: KB Bank Yakin Kredit Perdagangan dan Industri Pengolahan Tumbuh di 2026
"Sehingga keputusan terkait penambahan porsi investasi pada instrumen saham tidak dilakukan secara otomatis atau agresif," tambahnya.
Budi menambahkan, seleksi emiten dilakukan secara sangat hati-hati dengan mempertimbangkan kualitas fundamental, tata kelola, dan keberlanjutan kinerja perusahaan. Dengan demikian, keputusan investasi saham tidak semata-mata untuk merespons isu jangka pendek di pasar, termasuk kebijakan kenaikan batas minimal free float.
Selanjutnya: IHSG Masih Tertekan, Apakah Saham MBMA Masih Cukup Menarik?
Menarik Dibaca: Hasil Thailand Masters 2026: Gebuk Unggulan, 2 Ganda Putri Indonesia ke Semifinal
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













