kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.501.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.707   7,00   0,04%
  • IDX 8.647   2,68   0,03%
  • KOMPAS100 1.194   -2,61   -0,22%
  • LQ45 847   -5,47   -0,64%
  • ISSI 309   -0,04   -0,01%
  • IDX30 437   -2,15   -0,49%
  • IDXHIDIV20 510   -4,16   -0,81%
  • IDX80 133   -0,62   -0,47%
  • IDXV30 139   0,36   0,26%
  • IDXQ30 140   -0,77   -0,54%

Dirut Bank Muamalat Optimistis Ekonomi RI Tetap Resilien pada Kuartal I-2026


Kamis, 01 Januari 2026 / 17:00 WIB
Dirut Bank Muamalat Optimistis Ekonomi RI Tetap Resilien pada Kuartal I-2026
ILUSTRASI. Kawasan Bisnis Jakarta (KONTAN/Carolus Agus Waluyo) Dirut Bank Muamalat menilai prospek perekonomian Indonesia pada kuartal I-2026 masih berada dalam jalur yang relatif kuat


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Direktur Utama PT Bank Muamalat Indonesia Tbk Imam Teguh Saptono menilai prospek perekonomian Indonesia pada kuartal I-2026 masih berada dalam jalur yang relatif kuat, meskipun tetap dibayangi sejumlah risiko eksternal. Imam memandang fundamental domestik Indonesia masih cukup resilien untuk menopang pertumbuhan awal tahun depan.

Menurut Imam, inflasi diperkirakan tetap terkendali dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5% ± 1%, sehingga daya beli masyarakat dan stabilitas biaya ekonomi relatif terjaga. Dari sisi pertumbuhan, berbagai proyeksi institusional menunjukkan ruang ekspansi yang masih solid pada 2026.

“IMF dalam World Economic Outlook Oktober 2025 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 4,9% pada 2026, sementara arah APBN 2026 memasang target pertumbuhan sekitar 5,4% dengan defisit tetap dijaga di bawah 3%,” ujarnya kepada kontan.co.id.

Baca Juga: BSI Optimistis Ekonomi RI Tangguh pada Kuartal I-2026

Meski demikian, Imam mengingatkan potensi crowding out effect akibat pembiayaan fiskal yang dapat memberikan tekanan kenaikan suku bunga, meskipun dinilai masih dalam skala terbatas.

Dari sisi belanja pemerintah, Imam mengaku cukup optimistis, dengan catatan kuat pada aspek eksekusi. Menurutnya, belanja pemerintah pada awal tahun berpotensi menjadi pengungkit aktivitas ekonomi, namun sangat bergantung pada kecepatan realisasi dan kualitas belanja agar benar-benar produktif dan tepat sasaran.

Terkait penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp200 triliun di bank-bank Himbara, Imam menilai kebijakan tersebut berpotensi memperkuat likuiditas sistem perbankan dan membuka ruang penyaluran kredit. Namun, transmisi ke sektor produktif menjadi faktor kunci agar kebijakan tersebut tidak sekadar menjadi parkir likuiditas.

“Dampaknya terhadap ekonomi akan signifikan apabila kredit benar-benar tersalurkan ke sektor produktif. Pemulihan daya beli masyarakat, khususnya melalui insentif bagi sektor padat karya, menjadi critical factor,” tegasnya.

Untuk daya beli masyarakat, Imam menilai kondisinya berada pada level netral-positif. Inflasi yang terkendali membuka ruang perbaikan daya beli riil, namun konsumsi tetap sensitif terhadap kondisi pasar tenaga kerja, ekspektasi pendapatan, serta dinamika global dan domestik.

Sementara itu, kondisi ekonomi global pada kuartal I-2026 masih dipandang penuh kehati-hatian. Imam mencatat IMF memproyeksikan pertumbuhan global sekitar 3,1% pada 2026, dengan risiko utama berasal dari ketegangan geopolitik dan fragmentasi perdagangan global. Konsekuensinya, dunia usaha perlu menerapkan strategi yang lebih defensif, terutama dalam pengelolaan risiko nilai tukar, harga komoditas, dan biaya pendanaan.

Dari sisi domestik, kondisi politik pada kuartal I-2026 dinilai cukup kondusif namun tetap sensitif terhadap stabilitas dan kepastian hukum. Imam menekankan bahwa dunia usaha membutuhkan stabilitas sosial-politik dan konsistensi kebijakan agar kepercayaan pelaku usaha tetap terjaga.

Dengan mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, Bank Muamalat memastikan akan tetap melanjutkan ekspansi bisnis pada kuartal I-2026 dengan pendekatan yang selektif dan terukur. Fokus ekspansi akan diarahkan pada sektor-sektor yang resilien, memiliki arus kas kuat, serta berbasis manajemen risiko yang ketat.

“Dengan inflasi yang terjaga dan dukungan stabilitas sektor keuangan, ruang pertumbuhan perbankan pada 2026 masih terbuka. Namun ekspansi harus dilakukan secara risk-based agar tetap berkelanjutan,” pungkas Imam.

Baca Juga: Kredit Investasi Melesat di Akhir Tahun 2025, Jadi Sinyal Optimisme Ekonomi

Selanjutnya: Cek 3 Drakor Terbaru di Netflix Bulan Januari 2026, Ada Kim Seon Ho

Menarik Dibaca: Mengawali 2026, Story (IP) Memimpin Kripto Top Gainers 24 Jam

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×