kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45694,52   23,75   3.54%
  • EMAS924.000 -0,22%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Duniatex buka-bukaan penyebab gagal bayar, begini awal mulanya


Sabtu, 10 Agustus 2019 / 05:05 WIB
Duniatex buka-bukaan penyebab gagal bayar, begini awal mulanya
ILUSTRASI.

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Duniatex Group akhirnya membuka suara terkait masalah keuangan yang menimpanya. Manajer Humas Duniatex Group Donalia S Erlina, dan Direktur AJCapital Adisory Fransiscus Alip yang ditunjuk sebagai konsultan keuangan memberikan penjelasan terkait pada Jumat (9/8) di Jakarta.

Mulanya, kesulitan keuangan Duniatex Group muncul akibat salah satu entitasnya, yaitu PT Delta Dunia Sandang Textile (DDST) gagal menunaikan kewajibannya membayar bunga senilai US$ 13,4 juta atas pinjaman sindikasi dari 14 bank senilai total US$ 260 juta pada 10 Juli lalu.

Baca Juga: Kantongi izin Aperd dari OJK, Raiz Invest bidik 40.000 pengguna milenial tahun ini

“Penyebab gagal bayar DDST memang dari likuiditas, salah satunya memang disebabkan oleh perang dagang antara Amerika dan Cina yang berimbas dengan penurunan marjin,” papar Alip.

Dari laporan Debtwire pada 25 Juli 2019, marjin lini penenunan (weaving) Duniatex Group melalui PT Delta Erlin Dunia Textile (DMDT) memang tergerus pada awal tahun 2019. Pada kuartal 1/2019 marjin DMDT sebesar 15,3% pada kuartal 1/2019.

Nilai tersebut turun 29 bps dibandingkan marjin yang diperoleh pada akhir 2018 sebesar 18,2%.

Baca Juga: Defisit transaksi berjalan membesar, ini empat faktor penyebabnya menurut Indef

Perang dagang sejatinya bukan sumber utama ketatnya likuiditas Duniatex Group, biaya produksi yang besar dibandingkan kompetitor juga jadi salah satu alasannya.

Kompetitor Duniatex Group misalnya PT Sri Rezeki Isman Tbk (SRIL, anggota indeks Kompas100) alias Sritex justru mencatat peningkatan marjin sebesar 23 bps pada periode yang sama. Dari 15,6% pada akhir 2018, menjadi 17,9% pada kuartal 1/2019.

DMDT juga diketahui membayar benang (yarn) lebih tinggi dibandingkan Sritex. Misalnya, pada 2018 DMDT membeli benang dengan harga Rp 37.112 per kilogram.

Baca Juga: BI memproyeksikan defisit transaksi berjalan hingga akhir tahun 2,8% dari PDB

Sedangkan harga beli benang Sritex senilai Rp 35.231 per kilogram. Harga beli benang DMDT juga cenderung meningkat, pada 2016 senilai Rp 33.922 per kilogram, dan senilai Rp 36.451 per kilogram.

Di lain sisi, harga jual kain dari DMDT sejak 2016 justru terus merosot hingga kuartal 1/2019.

Sebagai gambaran, Duniatex punya lini produksi yang terintegrasi dari enam entitas perusahaan. Di lini pemintalan (spinning) ada tiga perusahaan yaitu DDST, PT Delta Dunia Textile (DDT), dan PT Delta Dunia Sandang Textile (DDST).

Baca Juga: Duniatex memutar otak untuk membayar utang

Di lini penenunan ada DMDT, sedangkan di tahap pewarnaan (dyeing and finishing) akhir ada PT Dunia Setia Sandang Asli Textile (DSSAT) dan PT Perusahaan Dagang Dan Perindustrian Damai alias Damaitex.

“Karena lini produksinya terintegrasi, ketika di ujung (dyeing and finishing) tertekan, di atas (spinning) akan berimbas. Karena tidak semua juga yang dari spinning kami jual ke grup, ada juga yang kami jual ke luar grup,” jelas Alip.




TERBARU

Close [X]
×