kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Ekonom CORE sebut peran multifinance menggerakkan perekonomian masih kecil, kenapa?


Senin, 17 Agustus 2020 / 19:09 WIB
ILUSTRASI. Penjualan motor bekas di Rawabelong Jakarta, Senin (20/7). Menurut Otoritas Jasa keuangan (OJK), non-performing financing (NPF) atau rasio kredit macet multifinance tercatat terus menanjak sejak memasuki periode 2020. Pada Desember 2019, multifinance masi


Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Tendi Mahadi

Meskipun begitu, Piter melihat tidak bisa memaksa multfinance lebih banyak membiayai sektor investasi atau modal kerja. Terpenting menurut ia, bagaimana sistem keuangan secara keseluruhan.

“Kalau pun ini yang paling tepat, maka secara keseluruhan, sistem keuangan harus menggerakan sektor riil. Jangan sampai berhenti di pembiayaan konsumtif, tapi juga produktif berupa investasi dan modal kerja. Kalau itu harus bank, ya ga apa-apa,” kata Piter.

Baca Juga: OJK: Pandemi Covid-19 jadi tantangan bagi industri multifinance

Oleh sebab itu, ia menyebut perlu adanya kerja sama dengan bank dan pasar modal dengan industri multifinance. Sehingga tugas dari regulator lah yang harus memutuskan arah dan posisi multifinance dalam sistem keuangan.

“Idealnya, semua pemain dan pelaku itu memainkan perannya secara optimal, sehingga tercipta sistem keuangan yang efisien, aman, cepat, dan reliable. Itu yang diharapkan perekonomian. Termasuk multifinance dalamnya, menjadi katalisator dari sebuah sistem perekonomian yang mendorong laju perekonomian yang sebesar mungkin,” pungkas Piter.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×