Reporter: Aura Putri | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonomi sirkular merupakan kegiatan usaha yang memanfaatkan kembali limbah atau barang bekas agar memiliki nilai ekonomi. Sektor ini dinilai berpotensi membuka peluang pembiayaan baru bagi perbankan.
Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan, bisnis daur ulang sampah plastik pada skala perusahaan, termasuk industri FMCG, telah memiliki model bisnis yang berjalan.
“Sektor ekonomi sirkular punya prospek yang cukup baik. Contoh untuk skala perusahaan di FMCG, hasil sampah plastik yang didaur ulang membutuhkan dukungan pembiayaan. Model bisnisnya sudah ada dan berjalan lebih efisien dibanding pembelian bahan baku plastik,” kata Bhima kepada Kontan, Kamis (20/8/2026).
Selain itu, peluang pembiayaan juga terbuka pada segmen UMKM, seperti pengolahan limbah industri pakaian hingga refurbish limbah elektronik.
Menurut Bhima, pembiayaan dapat diberikan berdasarkan rencana bisnis debitur. Namun, diperlukan dukungan berupa suku bunga yang rendah dan agunan yang ringan agar pembiayaan sektor ekonomi sirkular dapat berkembang.
Baca Juga: Portofolio Pembiayaan Berkelanjutan Bank Syariah Indonesia Tembus Rp 77 Triliun
PT Bank DBS Indonesia mencatat portofolio pembiayaan kegiatan usaha berkelanjutan sebesar Rp 15,6 triliun sepanjang 2025, naik dari Rp 14,1 triliun pada 2024. Nilai tersebut setara 19,1% dari total penyaluran pinjaman DBS Indonesia.
Head of Group Strategic Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika mengatakan, ekonomi sirkular memiliki potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan daerah.
“Ekonomi sirkuler kita melihatnya dari potensi dalam pembangunan ekonomi atau economic growth dari masyarakat sekitar sama daerah-daerah yang desa-desa,” ujar Mona di Bandung, Kamis (20/8/2026).
Salah satu dukungan pendanaan DBS dilakukan melalui DBS Foundation. Yayasan ini memberikan dana hibah hingga SGD250.000 untuk wirausaha sosial, dengan besaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dalam proposal.
Mona mengatakan, DBS menyasar usaha yang belum besar tetapi memiliki potensi untuk berkembang. Menurutnya, kelompok usaha tersebut masih kerap kesulitan mendapatkan modal untuk melakukan scale up.
“Yang tengah-tengah ini biasanya suka kurang dapat bantuan dana,” ujarnya.
Selain melalui pendanaan, DBS juga menerapkan prinsip ekonomi sirkular dalam operasionalnya. Pengelolaan sampah operasional DBS di Indonesia dilakukan hingga mencapai kondisi zero waste to landfill.
Sementara itu, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatat pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp 78,6 triliun per Juni 2026, setara 22,9% dari total pembiayaan. Dari jumlah tersebut, green financing mencapai Rp 17,4 triliun.
Baca Juga: Perbankan Perkuat Pembiayaan Hijau, Portofolio Berkelanjutan Terus Tumbuh
Dalam portofolio green financing itu, kategori produk yang dapat mengurangi penggunaan sumber daya atau eco-efficient memiliki porsi 38,1%.
Di luar portofolio pembiayaan tersebut, BSI juga menjalankan program Waste Management melalui Green Zakat yang mengusung konsep ekonomi sirkular. Program ini mengolah sampah anorganik menjadi produk bernilai tambah dan mengonversi sampah yang disetor masyarakat menjadi saldo tabungan BSI Emas.
Wakil Direktur Utama BSI, Bob T. Ananta mengatakan, BSI ingin mengubah pandangan terhadap sampah yang selama ini dianggap sebagai limbah menjadi sumber daya yang dapat menciptakan nilai ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Pada tahap awal, program tersebut menyasar 73 penerima manfaat di Bantar Gebang dan Tangerang Selatan dengan target mengelola lebih dari 27 ton sampah daur ulang. BSI juga mengalokasikan Rp1 miliar untuk pelatihan pengelolaan sampah, pengembangan keterampilan produksi barang daur ulang, dan pembangunan kios Waste Management.
Baca Juga: Pembiayaan Berkelanjutan Bank DBS Indonesia Tembus Rp 15,6 Triliun pada 2025
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














