CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -17.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.529   -129,00   -0,73%
  • IDX 6.678   -8,24   -0,12%
  • KOMPAS100 877   0,02   0,00%
  • LQ45 664   -1,33   -0,20%
  • ISSI 234   0,36   0,15%
  • IDX30 369   -2,14   -0,58%
  • IDXHIDIV20 457   -1,61   -0,35%
  • IDX80 100   -0,15   -0,15%
  • IDXV30 127   -0,14   -0,11%
  • IDXQ30 118   -0,39   -0,33%

Generasi Muda Ubah Cara Kelola Uang, Tabungan Kini Punya Tujuan


Minggu, 26 Juli 2026 / 19:49 WIB
Diperbarui Senin, 27 Juli 2026 / 22:51 WIB
Generasi Muda Ubah Cara Kelola Uang, Tabungan Kini Punya Tujuan
ILUSTRASI. Begini Beragam Cara Nabung yang Menyenangkan ala blu by BCA Digital (Dok/BCA Digital)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketidakpastian ekonomi membuat generasi muda mulai mengubah cara mengelola uang. Jika sebelumnya menabung dilakukan dari sisa penghasilan di akhir bulan, kini semakin banyak anak muda menyisihkan uang sejak hari pertama gaji diterima dengan membaginya ke berbagai tujuan keuangan.

Perubahan tersebut didorong ketidakpastian pendapatan, tingginya biaya hidup, serta kemudahan layanan digital banking yang mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan.

Notifikasi gaji baru saja masuk ke ponsel Dinda Prameswari (26). Namun, perempuan yang bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta itu tidak langsung membuka aplikasi belanja atau menghitung sisa saldo rekeningnya.

Dalam beberapa menit, gajinya langsung dibagi ke beberapa kantong tabungan yang masing-masing memiliki tujuan berbeda. Ada yang diberi nama dana darurat, rumah, kuliah S2, hingga liburan orang tua.

"Begitu gaji masuk saya langsung bagi dulu. Saya sengaja membuat beberapa bluSaving supaya uangnya tidak bercampur. Jadi saya tahu mana uang yang memang boleh dipakai dan mana yang memang harus disimpan," ujarnya kepada Kontan.co.id.

Kebiasaan tersebut baru ia lakukan sekitar dua tahun terakhir melalui fitur bluSaving di aplikasi blu by BCA Digital.

Sebelumnya, seluruh penghasilannya berada dalam satu rekening. Saldo yang terlihat besar sering membuatnya merasa masih memiliki uang lebih sehingga tanpa sadar menggunakan dana yang sebenarnya telah disiapkan untuk kebutuhan lain.

Ia mengaku pernah membatalkan rencana mengambil kelas persiapan kuliah S2 karena tabungan yang seharusnya disiapkan untuk biaya pendidikan sudah terpakai untuk berbagai pengeluaran kecil yang tidak direncanakan.

"Dulu saya merasa masih punya uang. Ternyata setelah dicek lagi, dana yang harusnya buat kuliah sudah berkurang karena dipakai belanja atau makan di luar. Nominalnya kecil-kecil, tapi lama-lama habis. Saya sempat kecewa karena harus mengundur rencana kuliah," ungkapnya.

Pengalaman itu membuat Dinda mengubah cara mengelola keuangan. Kini, setiap tujuan memiliki kantong tabungannya sendiri.

Baca Juga: blu Hadirkan bluValas, Transaksi Kartu Debit Luar Negeri Bebas Biaya Konversi Kurs

Ketika ada teman mengajaknya berlibur atau membeli barang yang sedang tren, ia tidak lagi melihat total saldo rekening. Ia hanya membuka kantong tabungan yang memang disiapkan untuk kebutuhan tersebut.

"Kalau saldonya belum cukup, ya berarti memang belum waktunya," ucapnya.

Bagi Dinda, perubahan terbesar bukanlah jumlah tabungan yang terus bertambah. "Sekarang saya tidak lagi melihat saldo. Saya melihat tujuan yang ingin saya capai," imbuhnya.

Perubahan serupa juga dialami Rizky Ananda (28), seorang videografer freelance.

Pendapatan yang diterima Rizky tidak datang secara rutin setiap bulan. Kondisi tersebut sempat membuat pengelolaan keuangannya berantakan karena seluruh pembayaran proyek masuk ke rekening yang sama.

"Dulu saya bingung mana uang untuk operasional, kebutuhan sehari-hari, atau membeli kamera," katanya.

Kini setiap pembayaran proyek langsung dipisahkan ke beberapa kantong tabungan sesuai peruntukannya.

"Penghasilan saya memang tidak tetap, tetapi sekarang saya jauh lebih tenang karena setiap uang yang masuk sudah punya tujuan," ungkap Rizky.

Baca Juga: Pilihan Investasi Makin Banyak, Anak Muda Perlu Penguatan Literasi Keuangan

Fenomena tersebut menunjukkan perubahan perilaku generasi muda dalam memanfaatkan layanan digital banking. Perbankan digital kini tidak hanya digunakan untuk transaksi, tetapi juga menjadi alat membantu masyarakat membangun kebiasaan mengelola keuangan secara lebih disiplin.

Perubahan kebiasaan tersebut tidak hanya terlihat dari cerita Dinda dan Rizky. Data juga menunjukkan minat generasi muda terhadap investasi terus meningkat.

Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan jumlah investor reksa dana hingga Juni 2026 meningkat 9,71% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebanyak 54,12% investor berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun dengan total aset mencapai Rp44,84 triliun.

Perencana Keuangan OneShildt Budi Rahardjo menilai, kebiasaan memisahkan tabungan berdasarkan tujuan merupakan salah satu perubahan perilaku finansial yang positif.

Menurut dia, setiap tujuan keuangan sebaiknya memiliki pos yang berbeda sehingga lebih mudah dipantau dan tidak tercampur dengan kebutuhan konsumtif.

"Cara membagi uang sesuai tujuan penggunaannya justru sangat baik. Dengan pemisahan, kita lebih mudah memonitor perkembangan dana sekaligus melindunginya dari penggunaan yang tidak direncanakan," katanya.

Jika dahulu masyarakat harus membuka beberapa rekening sehingga dikenakan biaya administrasi tambahan, kini layanan digital banking memungkinkan pengguna memiliki beberapa kantong tabungan hanya melalui satu aplikasi.

Budi menilai, kemudahan tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan literasi dan inklusi keuangan.

"Teknologi hanya alat. Yang terpenting adalah masyarakat memahami bagaimana mengelola arus kas dan memiliki tujuan keuangan yang jelas," ucap Budi.

Ia tetap menyarankan, masyarakat menerapkan prinsip 50:30:20, yakni 50% untuk kebutuhan pokok, 30% untuk keinginan dan cicilan, serta 20% untuk investasi dan proteksi.

Adapun Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira mengatakan, perubahan perilaku tersebut dipengaruhi kondisi ekonomi yang semakin tidak pasti.

Menurut dia, semakin banyak generasi muda bekerja di sektor informal maupun gig economy sehingga pendapatannya tidak lagi tetap setiap bulan.

Di sisi lain, harga rumah yang terus meningkat membuat sebagian anak muda mengalami fenomena doom spending, yakni menghabiskan uang untuk konsumsi karena merasa semakin sulit memiliki aset.

"Kalau sudah merasa tidak mungkin membeli rumah, akhirnya uang justru dihabiskan untuk jalan-jalan, konser, atau kebutuhan tersier," ujarnya.

Bhima menilai, teknologi digital berpotensi membantu masyarakat membangun kebiasaan keuangan yang lebih sehat, sepanjang dimanfaatkan untuk perencanaan keuangan, bukan sekadar mempermudah transaksi.

Perubahan perilaku tersebut juga tercermin dari pola penggunaan layanan digital banking. Head of Digital Business BCA Digital Edwin Tirta mengatakan, perubahan perilaku generasi muda juga tercermin dari meningkatnya pemanfaatan fitur bluSaving oleh nasabah blu by BCA Digital untuk memisahkan uang berdasarkan tujuan keuangan, mulai dari dana darurat, biaya pendidikan, uang muka rumah hingga dana liburan.

Saat ini blu by BCA Digital telah melayani lebih dari tiga juta nasabah. Lebih dari 90% di antaranya merupakan generasi muda. Menurut Edwin, dominasi tersebut membuat BCA Digital melihat perubahan perilaku finansial kelompok usia tersebut secara nyata dalam beberapa tahun terakhir.

"Yang kami lihat bukan sekadar semakin banyak orang menabung, tetapi mereka mulai menabung dengan tujuan yang jelas. Dana darurat, pendidikan, rumah, hingga investasi kini mulai dialokasikan sejak awal penghasilan diterima. Menurut kami, itu menunjukkan kebiasaan mengelola keuangan masyarakat mulai berubah," ujar Edwin.

Menurut dia, tren tersebut menunjukkan bahwa generasi muda kini tidak lagi memanfaatkan digital banking hanya untuk bertransaksi, tetapi juga sebagai sarana mengatur arus kas dan mencapai target keuangan.

"Teknologi pada dasarnya hanya alat. Yang terpenting adalah bagaimana teknologi membantu masyarakat membangun kebiasaan finansial yang sehat, mulai dari menyiapkan dana darurat, menabung untuk pendidikan, hingga mulai berinvestasi sesuai kemampuan," katanya.

Edwin menambahkan, hal tersebut sejalan dengan semangat "Tumbuh Bareng Kamu" yang diusung blu by BCA Digital, yakni mendampingi masyarakat membangun kebiasaan menabung dan berinvestasi secara bertahap.

"Kami ingin menjadi bagian dari perjalanan finansial nasabah. Bukan hanya menyediakan layanan transaksi, tetapi juga membantu mereka mencapai tujuan keuangannya melalui kebiasaan finansial yang lebih terarah. Dengan begitu, kami berharap dapat terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan di Indonesia," tandasnya.

Baca Juga: Investasi Rutin Jadi Kunci Tekan Risiko Pinjol dan Paylater Anak Muda

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×